3 Cara Membuat Tulisan Pribadi yang Praktis

Membuat tulisan pribadi merupakan sebuah jalan untuk keluar dari hadangan writer’s block. Pada dasarnya tulisan pribadi dihasilkan dari proses menulis bebas.

Menulis secara bebas memang menjadi salah satu cara melancarkan kegiatan menulis yang sering macet. Cara menulis model ini bisa membantu kita keluar dari rasa khawatir akan kualitas dan dampak tulisan yang kita hasilkan.

Mark Levy mengemukakan cara praktis menulis bebas yang disebutnya sebagai menulis pribadi. Saat membuat tulisan pribadi, kita harus secepat mungkin menulis apa pun yang mencuat dari pemikiran mentah dalam benak kita.

Sebab, setelah itu bagian otak yang terlalu sopan akan segera “merampas” kebebasan kita mengungkap isi pikiran. Ia akan menghambat kita dengan menyodorkan banyak sekali pertimbangan saat kita menuangkan gagasan.

Bila si otak sopan—dalam kesempatan lain, saya menyebutnya editor dalam diri kita—telah mulai menginvasi, alamat proses menulis akan tersendat-sendat. Saluran pikiran yang sebelumnya berjalan lancar, mendadak tersumbat.

3 Cara Menghasilkan Tulisan Pribadi

Sesuai dengan salah satu materi dalam buku “Menjadi Genius dengan Menulis”, terdapat tiga cara menghasilkan tulisan pribadi jika mengacu pada resep yang diracik Levy. Ketiganya bisa digunakan secara bersama-sama karena bisa saling menguatkan.

1. Menggunakan “bahasa dapur”

Mark Levy memakai “bahasa dapur” ketika menceritakan ungkapan pribadinya dalam bentuk tulisan. Ia menggunakan istilah ini untuk menyebut bahasa yang biasa digunakan sehari-hari.

Penggunaan bahasa dapur mendorong rasa nyaman dan bebas saat menulis. Dengan menggunakan bahasa yang telah kita akrabi, kita akan mampu menulis secara santai sehingga mengurangi kerutan di kening.

Bahasa santuy ini juga dapat mendorong proses penulisan yang lebih cepat. Pikiran lebih bebas mengeluarkan gagasan karena tidak banyak terhadang oleh pemilihan materi tulisan dan kosakata yang digunakan.

2. Tidak memberi komentar yang tak perlu

Kita telah memahami bahwa tulisan-tulisan yang diterbitkan bagi pembaca umum harus memandu pembaca memahami seluruh materi yang terkandung dalam tulisan itu. Termasuk di dalamnya berbagai istilah yang mungkin masih terasa asing atau istilah-istilah khusus yang tidak dipahami sebagian pembaca.

Untuk menggapai tujuan tersebut, penulis memiliki pelbagai cara. Salah satu cara yang biasa dilakukan adalah dengan memberikan penjelasan dalam bentuk catatan kaki.

Berbeda dengan tulisan-tulisan yang diterbitkan, tulisan pribadi tidak membutuhkan penjelasan apa pun. Karena tulisan ini hanya ditujukan bagi diri kita sendiri, tentu saja kita selaku pembaca yang juga penulis telah memahami makna semua ungkapan yang kita torehkan.

3. Bebas melompat-lompat

Sudah barang tentu ketika kita membuat tulisan yang ditujukan bagi orang lain, kita harus berusaha mengikuti struktur tertentu yang mudah dipahami orang lain. Tulisan yang mengabaikan urut-urutan yang menarik akan menyulitkan pembaca memahami maksud dan jalan cerita yang diinginkan penulis.

Namun dalam menghasilkan tulisan untuk diri sendiri, kita bisa membebaskan diri dari segala macam aturan yang berpotensi memacetkan pikiran. Kita bisa melompat-lompat dari satu gagasan ke gagasan lain, dan mungkin kembali ke gagasan awal.

Tulisan Pribadi Bukan untuk Menyenangkan Pembaca

Jadi, ketika kita membuat tulisan pribadi, kita bebas menyajikan apa saja. Dari sisi caranya, kita bisa menggunakan bahasa pribadi yang mungkin hanya diri kita sendiri yang paham maknanya, kita juga tidak perlu memberikan penjelasan atas apa pun yang kita tulis, dan kita pun bebas beralih dari satu bahasan ke bahasan lainnya.

Mark Levy menyatakan sebuah ungkapan yang bisa menjadi ikhtisar bahasan mengenai metode ini. Menurut pendiri “Levy Innovation LLC” ini, karena menulis untuk diri sendiri, kita tidak perlu memoles berbagai pemikiran mentah untuk membuat orang senang.

Kita menulis (pada saat itu) hanya untuk diri kita sendiri. Kita tidak akan menerbitkan tulisan itu dalam bentuk apa pun. Tulisan itu hanya akan tersimpan dalam diary atau folder kita yang terkunci. Bahkan bisa pula langsung menghuni tong sampah.

Dalam hal ini, kelancaran menulis akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan kita mengendalikan editor dalam diri kita agar tidak terlalu dini unjuk gigi. Kita dituntut untuk mampu melelapkannya untuk sementara waktu.

Nah, jika kita menghendaki tulisan pribadi itu (kelak) diterbitkan, kita bisa menerapkan teori-teori menulis yang telah kita pelajari. Tentu saja teori-teori itu baru bisa kita kerahkan setelah semua isi kepala kita terungkap di atas kertas atau di program pengolah kata di komputer kita.

Leave a Reply