Cermatlah Memilih Kata, Agar Tak Ada Genangan Air Mata

Anjuran untuk cermat memilih kata sangat relevan dengan kehidupan kita masa kini. Utamanya kehidupan dalam dunia daring yang kini nyaris tak berbatas.

Mengikuti berita-berita yang berseliweran di banyak media daring sering kali sangat mengasyikkan. Kita bisa mengetahui banyak peristiwa serta berbagai pendapat orang dari banyak kalangan. Setiap media memiliki segmen pembaca (dan pemberi komentar) masing-masing.

Selain menikmati berita-berita serta opini-opininya, saya juga acap kali tertarik menelusuri satu bagian lain dari sebuah media. Banyak situs berita dan opini yang menyertakan komentar para pembacanya pada bagian akhir berita-berita atau tulisan-tulisan dalam bentuk lain yang mereka tayangkan.

Kalau sudah melibatkan pembaca atau lazim disebut netizen, maka komentar-komentar yang muncul menjadi sangat beragam. Pendapat mereka tentu saja mengikuti kebiasaan dan motivasi para warganet itu.

Ada netizen model serius yang menyampaikan pendapat dengan menyertakan referensi-referensi tertentu yang meyakinkan. Banyak juga warganet yang menjadikan ruang berkomentar sebagai ajang guyonan dengan menuliskan pandangan-pandangan yang nyeleneh demi mengundang tawa.

Namun tak sedikit pula yang menjadikan kolom komentar layaknya tong sampah kata-kata. Mereka merasa bebas melontarkan umpatan atau caci-maki, bahkan dengan “melampirkan” kata-kata kasar dan kotor.

Aksi para netizen model begini yang kemudian menelorkan banyak kata makian merajalela dalam dunia daring. Mulai kata-kata kotor yang apa adanya hingga ungkapan-ungkapan jorok yang dimodifikasi sedemikian rupa sehingga tampak seolah-olah merupakan perkataan yang santun dan bukan kata makian.

Di antara beragam cuap-cuap itu, tak sedikit pula ungkapan-ungkapan “Jaka Sembung” menghiasi kolom-kolom komentar media daring. Mudah saja kita menemukan pendapat-pendapat yang jauh panggang dari api semacam itu.

Ucapan-ucapan nggak nyambung bisa terjadi dengan banyak alasan. Mungkin sang komentator tidak membaca secara benar isi berita yang dikomentarinya. Bisa juga komentar itu datang dari orang-orang yang memanfaatkan setiap “lahan” untuk semata-mata menyuarakan tujuan pribadi atau kelompok mereka.

Baca juga: Sebentuk Ketakutan yang Menjadi Penghambat Menulis

Bergesernya Arena Perdebatan

Komentar-komentar tidak elok telah merambah ke hampir semua kanal yang memberi ruang bagi seseorang untuk menorehkan pendapat. Saya merasakan gempuran ungkapan-ungkapan berselera rendah menyerbu berbagai platform media.

Saya sering berada dalam sebuah grup diskusi yang berubah menjadi ajang olok-olok antar anggotanya. Mula-mula seseorang mengemukakan pendapatnya tentang suatu kejadian atau wacana yang sedang ramai dibicarakan.

Biasanya banyak anggota grup yang menyampaikan pendapat masing-masing, baik yang pro maupun yang kontra terhadap opini pertama. Nah, di antara keramaian netizen ini, acap kali ada anggota yang menimpali dengan kalimat-kalimat yang mengandung kata-kata yang tak pantas dikemukakan dalam forum semacam ini.

Bila seseorang telah mulai “memperdengarkan” satu saja ungkapan yang tak sedap, orang-orang lainnya bisa mendadak terpicu untuk ikut-ikutan “beringas”. Kalau sudah begini, arena perdebatan bisa bergeser ke wilayah yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan pokok bahasan awal.

Kasus polemik penggunaan istilah anjay bisa menjadi sebuah contoh. Tulisan yang diturunkan kompas.com misalnya, menyampaikan pendapat beberapa pakar bahasa berkenaan dengan polemik ini.

Secara umum, saya menyimpulkan bahwa baik atau buruknya penggunaan suatu istilah dalam sebuah perbincangan tergantung pada konteks pembicaraan tersebut. Di negara-negara Timur seperti Indonesia, masalah demikian bersangkut-paut juga dengan urusan kesantunan bahasa.

Terlepas dari perdebatan itu, saya melihat satu hal penting terkait kasus anjay yang sempat viral itu. Jika penggunaan sebuah istilah yang sudah diperhalus sedemikian rupa saja masih bisa menimbulkan perasaan tidak nyaman, bagaimana pula dengan kata-kata vulgar dalam wujud aslinya yang tak kalah banyak beredar di ranah maya?

Adakalanya saya merasakan hati saya agak menciut tatkala membayangkan komentar-komentar tanpa filter semacam itu. Apa jadinya jika kalimat-kalimat pedas dengan bumbu ungkapan kotor semacam itu tertuju ke tulisan-tulisan saya? Sungguh ngeri seandainya harus mendapati kata-kata kasar sebagai balasan atas jerih payah saya menulis.

Baca juga: Tata Cara Menulis Artikel yang Tak Selalu Menyenangkan

Cermat Memilih Kata

Saya pikir sangat tepat kalimat yang dituturkan oleh Mohammad Fauzil Adhim. Dalam bukunya yang berjudul “Inspiring Words for Writers “, penulis buku-buku bertema keluarga itu menuliskan sebuah kalimat yang mengena dengan persoalan ini.

“Cermatlah memilih kata karena ia dapat mengubah kegembiraan menjadi genangan air mata, atau menghapus kesedihan menjadi senyuman bahagia.”

Sudah banyak sekali contoh bencana dan kesengsaraan yang ditimbulkan oleh ujaran-ujaran yang menyakitkan. Tak perlu kita turut menjadi bagian dari bencana-bencana itu. Menjadi korban kata-kata tak patut tentu tidak enak rasanya.

Ada sebuah nasihat lawas yang sepertinya tak akan pernah usang patut kita setel kembali dalam hati. Ketimbang mengharapkan orang lain melakukan sesuatu, lebih baik memulai sebuah upaya dari diri sendiri.

Jika tak ingin menjadi korban perundungan kata-kata, sebaiknya kita tak memulai melakukannya. Sebelum berdatangan orang-orang yang siap menyemprotkan kata-kata yang tak enak dibaca, sebaiknya kita menata tulisan-tulisan kita dengan kalimat-kalimat yang baik. Kalimat-kalimat atau kata-kata kotor hanya akan memicu ungkapan serupa.

Kini tinggal kita menata tujuan kita, untuk apa kita menulis atau berbicara. Apakah kita ingin dikenang sebagai si pembuat onar atau orang yang mendatangkan manfaat dan ketenteraman bagi orang-orang di sekitar kita?

Leave a Reply