Hidup di Era Digital, Kita Tak Harus Menulis di Batu

Kini kita hidup di era digital, sehingga tak lagi harus menulis di atas batu. Lalu mengapa masih juga kita malas menghasilkan tulisan?

Coba bayangkan jika kita harus hidup pada suatu masa, ketika orang harus memahat batu bila ingin menuliskan suatu pesan. Kebayang, kan, bagaimana susahnya update status. Apalagi kalau harus membuat konten sekian ratus kata.

Kesulitan orang-orang yang hidup pada zaman batu tidak hanya dimulai saat menulis pesan. Sebelum menancapkan pahat mereka di atas permukaan batu, mereka harus mencari dan (mungkin) mengangkut sebongkah batu yang berat.

Coba bandingkan kehidupan kita sekarang dengan mereka pada masa itu. Kira-kira fasilitas seperti apa lagi yang belum kita dapatkan saat ini?

Bermacam-macam kertas dengan pelbagai jenis dan ukuran sangat mudah kita dapatkan. Toko-toko alat tulis tersebar hampir di setiap sudut kota.

Bahkan jika kita sedang mager, tak ingin beranjak dari peraduan, pelbagai sarana daring siap melayani kita. Tinggal klak-klikklak-klik, barang yang kita butuhkan segera tiba di depan mata.

Itu jika kita masih ingin bernostalgia dengan era manual. Seandainya tidak, dunia digital siap memanjakan kita dengan pelbagai kemampuannya.

Program-program pengolah kata luring atau daring bertebaran di mana-mana. Tak sulit kita menemukan mereka.

Kita bisa memilih program yang berbayar atau yang disediakan secara cuma-cuma. Pilihan kita bergantung pada kebutuhan dan anggaran yang tersedia.

Suatu hal yang wajar bila tidak ada lagi alasan yang bisa menggagalkan niat kita “memahat” kata-kata. Sungguh tidak masuk akal jika dengan kondisi yang ada, kita tak kunjung menghasilkan karya.

Tantangan di Era Digital

Namun kenyataannya, keadaan demikian memang masih sering terjadi. Fasilitas yang sangat gampang didapat belum mampu menjadi daya dorong yang kuat untuk berkarya.

Tidak perlu jauh-jauh menunjuk hidung orang lain. Saya sendiri masih sering dihantui rasa malas yang membuat seabrek rencana menulis menjadi berantakan.

Kini faktor sarana hampir tidak lagi bisa dijadikan alasan. Namun untuk menciptakan alibi, saya tidak pernah kekurangan bahan.

Gangguan dari lingkungan sekitar, pikiran yang bercabang dengan banyaknya urusan, dan banyak lagi kondisi yang bisa saya jadikan kambing hitam. Pokoknya selalu ada 1.001 alasan untuk tidak segera mulai menjalankan rencana.

Bahkan kemudahan-kemudahan yang saya dapatkan menjelma sebagai “jalan sesat” yang membelokkan langkah saya dari tujuan semula. Maksud hati menulis opini, eh, malah asyik berselancar ke sana kemari.

Benar sekali apa yang dikatakan oleh Henneke dari enchantingmarketing.com. “We feel a resistance to getting started and allow ourselves to get distracted by more pleasurable activities, such as watching cat videos, scrolling Instagram, or doing simple tasks like answering emails.”

Dunia maya memang menjanjikan hiburan yang melimpah ruah. Sebuah tantangan masa kini yang tak mudah ditaklukkan.

Saatnya Kembali Menata Rencana

Jangankan menjalankan rencana, acap pula tahap membikin rancangan pun tertunda. Entah sampai kapan kondisi semacam ini akan terus berjalan.

Program-program pendorong semangat telah saya siapkan. Target-target pemaksa kerja pun telah saya pancangkan.

Namun apa daya. Pelbagai program dan target itu tak selamanya cukup perkasa untuk mengalahkan kecenderungan menunda yang demikian digdaya.

Baru beberapa hari berlalu sejak hati dan tangan mencatatkan tekad untuk tidak menunda pekerjaan. Eh, sudah mulai ketinggalan lagi oleh target-target yang seakan-akan langsung menjauh dari jangkauan.

Ternyata, meskipun saya bisa menjalankannya dengan cukup baik, target menulis yang telah saya susun tidak selalu berhasil menjaga konsistensi saya. Sekira dua bulan berjalan lancar, dalam seminggu kebiasaan menunda kambuh.

Saya mencoba berusaha sekuat tenaga untuk membayangkan sulitnya upaya orang-orang pada zaman dahulu kala. Bagaimana jadinya bila saya, dengan segenap kemalasan dan segudang alasan, harus menjalani kehidupan yang serba terbatas pada masa lalu?

Saya tetap akan menjalankan target menulis 1.000 kata sehari yang telah terbukti mampu menaikkan produktivitas saya. Selain itu, saya juga berusaha memperbaiki spirit menulis dengan bermacam-macam resep yang sebagian telah berjalan.

Satu lagi tambahan kegiatan yang bisa membantu mengalihkan diri dari godaan jagat internet yang demikian memikat. Saya memanfaatkan sebagian waktu luang untuk mengevaluasi tulisan-tulisan yang telah saya hasilkan.

Membandingkan kondisi sekarang dengan masa lalu menjadi salah satu sarana pendorong motivasi saya. Bukan sebaliknya, malah menyeret saya hanyut dalam keasyikannya.

Karena hidup di era digital, seharusnya saya memiliki produktivitas yang jauh lebih tinggi ketimbang manusia purba yang hidup di zaman baheula.

Leave a Reply