Ketika SEO Tak Membiarkan Kita Bebas Menulis

Kini SEO telah “mengekang” perasaan bebas menulis. Meskipun tak segampang kata Arswendo, saya pernah merasakan menulis yang tak sesulit sekarang.

Saya memulai kegemaran menulis sejak duduk di sekolah menengah. Lalu menulis menjadi semacam tuntutan saat saya menempuh pendidikan di perguruan tinggi.

Kala itu, pelbagai pengalaman yang berkaitan dengan kegiatan menulis mengisi kehidupan saya. Yang namanya pengalaman yang berlangsung sekian lama, tentu saja ada yang menyenangkan dan ada pula yang menyesakkan.

Pengalaman pahit sudah pasti banyak sekali. Mulai saat saya mesti nyari-nyari alasan untuk mendapat pinjaman mesin tik hingga malu-malu ketika mendapat honor sekian ribu. Termasuk juga ketika harus mencuri-curi baca di kios majalah berharap salah satu artikel atau cerita nongol di sana.

Sementara itu pengalaman manis sesekali hadir juga. Saya akan terus mengenang secuil kejadian paling menyenangkan ketika saya mampu melunasi biaya kuliah dengan uang hasil menulis.

Kebanggaan begitu menyeruak di rongga dada saat saya berada di bilik telepon umum dan mengabarkan berita besar ini kepada orangtua di kampung. “Bapak nggak usah repot-repot nyari duit buat bayar uang SPP saya semester ini!”

Waktu itu memang masih zaman serba manual. Mengetik naskah cerita menggunakan mesin tik manual yang bunyinya bisa membangunkan tetangga kos yang tengah terlelap. Cerpen dikirim dalam wujud beberapa lembar kertas yang terbungkus amplop coklat besar. Dan honor harus dicairkan di Kantor Pos melalui sarana wesel pos yang sepertinya kini tinggal kenangan.

Zaman kini, teknologi telah sangat memanjakan orang. Tidak pernah lagi telinga kita mendengar suara gaduh saat batang-batang huruf besi menghantam permukaan kertas. Tidak juga kita harus repot-repot menyambangi kantor pos atau bus surat untuk mengirim naskah. Kita bisa melakukan dan mendapatkan semua itu tanpa harus beranjak dari pembaringan.

Baca juga: Adu Balap Seorang Penulis Melawan Editor

Beda Zaman, Beda Tantangan

Namun tak ada kemudahan yang selalu berjalan mulus tanpa sebiji kerikil pun yang mungkin membuat kita tersandung. Ibarat terlepas dari mulut buaya, tubuh kita berpindah ke mulut singa robot.

Kita tak lagi direpotkan urusan-urusan manual seperti yang dialami para pendahulu kita yang hidup di zaman baheula. Namun sekarang kita harus menghadapi mulut-mulut teknologi yang siap mencaplok tulisan-tulisan yang tak sejalan dengan algoritma yang telah ditanam dalam tubuh-tubuh robot perayap.

Pada zaman lampau, saya bisa menuliskan kata-kata dan kalimat-kalimat seindah yang saya inginkan. Tentu saja sebatas kemampuan yang saya miliki. Tidak ada ikatan rumus-rumus tulisan kecuali sedikit aturan tema dan jumlah kata yang ditentukan oleh redaksi media yang menjadi tujuan.

Yang terjadi saat ini sungguh berbeda jauh. Sejak menulis judul hingga menerakan tanda titik pada kalimat penutup, kita seperti terpenjara oleh kaidah-kaidah SEO dengan seabrek aturan.

Pada era yang nyaris dikuasai oleh mesin pencari ini, setiap kalimat yang kita hasilkan harus seturut aturan. Jika tidak, maka robot-robot yang siaga 24 jam akan segera menyingkirkan karya kita dari percaturan dunia (maya).

Kalau sudah demikian, berarti tulisan-tulisan yang kita hasilkan dengan susah payah akan tenggelam ke dasar lautan. Tak akan ada manusia yang bisa mengambil manfaat dan hikmah darinya. Bahkan ikan-ikan penghuni dasar samudra pun sepertinya enggan menjadikannya sebagai menu sarapan.

Baca juga: Menulis Ibarat Membuat Tembikar

Tak Bebas Menulis

Kata orang bijak, kita harus  bisa menjadikan kesulitan sebagai tantangan. Baiklah Pak Bijak, saya telah merasa tertantang untuk menaklukkan robot-robot penjaga mesin peramban.

Eh, sebentar. Maksud saya, saya tak akan mengikuti semua kemauan sang peramban. Saya akan mencoba merasa bebas menulis dan menghasilkan karya yang (semoga) bukan kategori asal-asalan. Sembari tetap berupaya lolos dari hadangan robot-robot yang selalu siaga di hadapan kita.

Karena tak ingin terseret jebakan SEO terlalu dalam, saya tak berniat mengaplikasikan semua rumus SEO ke dalam tulisan. Sebaliknya, sebab tak mungkin menghindar dari tuntutan zaman yang kini berpusat di tangan Google dan kawan-kawannya, tak mungkin juga saya bertahan dengan idealisme setinggi bintang.

“Yang sedang-sedang saja,” begitu kata seorang penyanyi dalam sebuah lagu yang pernah tenar di negeri ini. Permintaan pasar yang banyak dilakukan melalui mesin pencari perlu dipenuhi.

Sebaliknya, idealisme dalam wujud perasaan bebas menulis guna menghasilkan tulisan yang berkualitas tetap harus dikejar. Toh, pada akhirnya mutu juga yang akan membuat pembaca tak cepat beranjak dari konten-konten yang kita sajikan.

Leave a Reply