Ketika Stephen King Harus Mengganti Paku Kecilnya

Pada masa mudanya, Stephen King pernah harus mengganti paku kecil yang tertancap di dinding ruang kerjanya dengan paku yang lebih besar.

Paku itu menjadi tempat menempelkan surat-surat penolakan atas kiriman tulisan-tulisan King. Sedemikian banyak penolakan yang diterimanya hingga sebuah paku kecil tak sanggup menahan beratnya. (writetodone.com)

Jika tulisan-tulisan hasil karya penulis sekaliber Stephen King saja banyak yang ditolak, bagaimana dengan kita? Seharusnya surat-surat penolakan (atau bentuk-bentuk penolakan lainnya, mungkin surel atau pesan digital lainnya pada masa kini) lebih banyak dibandingkan yang diterima King.

Sebentar, tunggu dulu, tentu saja kondisi itu berlaku bila jumlah tulisan yang kita hasilkan sebanyak sang maestro horor. Sepertinya yang terjadi adalah, penolakan yang kita terima jauh lebih sedikit karena karya yang kita hasilkan jauh lebih sedikit lagi.

Beberapa waktu yang lalu, saya membaca curhatan seseorang di sebuah grup media sosial. Seorang anak muda mengeluh karena orang yang berkunjung ke blog yang dikelolanya amat sedikit.

Anak muda itu tidak sendirian. Ia mewakili sekian banyak (calon) penulis dengan berbagai platform yang diikutinya. Siapa sih, penulis yang tidak menginginkan banyak orang membaca karya-karyanya?

Penasaran dengan curhatnya, saya mencoba melongok blog yang diakuinya sebagai blog tidak laku. Astaga, secara reflek saya menutup mulut yang sedikit ternganga. Keluhannya benar, memang kunjungan ke blog miliknya masih bisa dihitung dengan jari yang ada di kedua tangan saya.

Namun ada hal lain yang membikin saya lebih terperanjat. Jumlah konten yang nongol dalam blognya kurang dari jumlah jari sebelah tangan saya.

Dengan secuil artikel yang telah dibuat dan ditayangkannya, ia bersungut-sungut menyesali sunyinya pengunjung yang berkenan singgah di blognya. Bagaimana menurut pendapat Anda? Apakah perlu dibandingkan dengan penolakan-penolakan yang menimpa Stephen King?

Baca juga: Cermatlah Memilih Kata, Agar Tak Ada Genangan Air Mata

Antara Bakat dan Kesabaran

Barangkali zaman digital saat ini berpengaruh juga terhadap cara berpikir anak-anak muda yang bermukim di dalamnya. Yang pasti, anak-anak era kini tak harus menancapkan paku di dinding untuk mengabadikan penolakan redaksi.

Zaman yang serba digital telah betul-betul memanjakan kita. Kini, semua model karya tulis bisa langsung dipublikasikan melalui pelbagai media daring, termasuk di antaranya blog pribadi.

Gustave Flaubert pernah mengungkapkan sebuah pernyataan yang (mungkin) bisa dikaitkan dengan persoalan ini. Saya kutip dari sebuah buku serial Chicken Soup berjudul “Harga Sebuah Impian”, penulis novel “Madame Bovary” itu mengatakan bahwa bakat adalah kesabaran yang panjang.

“Bakat adalah kesabaran yang panjang.” (Gustave Flaubert)

Flaubert tentu tidak asal bicara. Saya yakin, kalimat yang diucapkannya itu merupakan sebuah kesimpulan atas jalan panjang yang telah dilaluinya.

Baca juga: Mulai Menulis dari Gambar Ilustrasi, Mungkinkah?

Cara Instan Mengejar Tujuan

Dalam berbagai grup diskusi juga kerap muncul keluhan-keluhan yang hampir sama dengan keluhan yang dilontarkan si anak  muda yang saya ceritakan di awal tulisan. Mungkin keinginan mereka, begitu tulisan nongol langsung diserbu pembaca.

Lantas banyak di antara mereka tak segan mengambil aksi-aksi instan demi sebuah tujuan. Tak heran jika kemudian upaya-upaya tidak elok banyak dijalankan. Salah satu metode jalan pintas berupa salin tempel atau yang lebih kita kenal sebagai copas semakin menggejala.

Ada orang yang gembira mengabarkan blognya yang berisi konten-konten curian bisa mengelabui mesin pencari. Di antara sekian banyak tulisan-tulisan hasil curian itu, ada yang bertengger di halaman depan pencarian.

Malahan saya pernah mendengar kabar yang lebih memprihatinkan, saat si pencuri lebih cepat membikin artikel terindeks di mesin pencari, maka tulisan itu akan diakui sebagai produk asli buatan sendiri. Sementara itu di lain pihak, sang pembuat karya yang sebenarnya harus merana lantaran dirinya dinilai sebagai plagiator hanya karena tak cekatan mendaftarkan karyanya pada si mesin pintar.

Maka kemudian berkembang juga macam-macam sistem pengamanan konten dari bahaya copas. Namun, seperti juga pencuri yang selalu menemukan cara baru memutar kunci pintu, para pen-copas pun tak kurang akal mendapatkan teknik membongkar keamanan konten milik orang lain.

Yang lebih menyedihkan lagi, acap kali saya mendapati pelaku copas melaksanakan aksinya tanpa merasa berdosa sama sekali. Bahkan sebagian membagikan “tips copas yang aman” dengan (sepertinya ada) rasa bangga menguar dari dalam hatinya. Alangkah sedapnya!

Ya, sudahlah. Dunia memang selalu berubah.  Yang penting tetap berikhtiar dengan mematuhi aturan dan norma yang ada.

Meskipun dunia telah banyak berubah, tetapi saya tetap meyakini bahwa ucapan Gustave Flaubert dan tindakan Stephen King tidak akan tertinggal di belakang.

2 Comments

  1. Iya, seringkali kita tidak sadar bahwa kekurangannya ada di diri kita sendiri tapi sudah mengeluh kesana kemari dan meratapi diri merasa jadi orang paling sial. Begitulah manusia, deritanya tiada berakhir.

Leave a Reply