Menulis Ibarat Membuat Tembikar

Menulis ibarat membuat tembikar. Mula-mula kita mengerahkan cara berpikir lunak dan kemudian mengakhirinya dengan cara berpikir keras.

Dalam bukunya yang berjudul “Whack, Pukulan untuk Merangsang Kreativitas dan Ide Baru”, Roger von Oech menjabarkan ciri-ciri dua fase berpikir dalam menghasilkan suatu karya. Cara berpikir yang satu memiliki ciri-ciri yang seakan-akan berlawanan dengan ciri-ciri fase berpikir lainnya.

Cara berpikir lunak memiliki beberapa tanda seperti bersifat metaforis, merupakan kira-kira, humoris, suka bermain dan mampu menangani kontradiksi. Sementara itu, cara berpikir keras cenderung lebih bersifat logis, tepat, terperinci dan konsisten.

Ada pula orang yang menyebut cara berpikir lunak sebagai fase imajinatif. Sementara itu, cara berpikir keras masuk ke dalam fase praktis.

Proses Menghasilkan Tembikar

Apakah Anda pernah menyaksikan seseorang yang sedang membuat sebentuk tembikar? Proses membuat tembikar membutuhkan dua fase berpikir seperti yang dikatakan von Oech, yakni fase berpikir lunak dan fase berpikir keras.

Tahap berpikir lunak terjadi saat perancang tembikar merancang model dan corak tembikar yang akan diproduksinya. Termasuk ketika ia menetapkan warna di antara sejumlah warna yang bisa dipilihnya.

Sedangkan tahap berpikir keras terlihat ketika perajin tembikar memilin-milin tanah liat membentuk pot bunga dan bentuk-bentuk lainnya. Kemudian dilanjutkan dengan membakar tembikar mentah hingga menjadi keras dan siap digunakan atau diperdagangkan.

Dalam fase berpikir lunak, pembuat tembikar sangat mengandalkan kreativitas dan kemampuan berimajinasi. Tembikar memang bisa diproduksi secara massal dengan model dan corak yang sama. Untuk menghasilkan tembikar pasaran semacam ini, produsen tidak banyak membutuhkan kreativitas.

Namun tembikar berharga mahal umumnya memiliki corak yang unik dan diproduksi dalam jumlah yang terbatas. Jenis tembikar ini dihasilkan melalui serangkaian pemikiran dan kerja yang jeli dan teliti. Sang perancang tembikar mungkin harus melakukan riset untuk mendapatkan model tembikar yang berbeda dengan kebanyakan tembikar yang telah ada sebelumnya.

Maka produsen tembikar kualitas ekspor biasanya mendapatkan banyak pemasukan karena harga jual produknya mahal. Berbeda dengan produsen jenis tembikar pasaran. Mereka harus memproduksi tembikar dalam jumlah besar hanya untuk memperoleh pendapatan yang seringkali pas-pasan.

Baca juga: Lebih Asyik Mana, Menulis Artikel atau Memancing Ikan?

Antara Menulis dan Membuat Tembikar

Kegiatan menulis tak ubahnya membuat tembikar. Serupa dengan proses pembuatan tembikar, proses menulis juga secara umum melalui fase lunak dan fase keras.

Fase menulis yang pertama terjadi saat seorang penulis mencari dan menangkap gagasan yang akan ditulisnya. Fase berikutnya mulai berjalan tatkala ia mulai mencurahkan gagasan dalam wujud sebuah tulisan.

Sebuah tulisan bisa dihasilkan secara massal dengan teknik salin dan tempel (copas) dari berbagai sumber yang tersedia nyaris tak terbatas. Tulisan model begini tentu saja tak membutuhkan pemikiran yang kritis.

Sebaliknya, tulisan juga bisa dibuat sebagai sebuah karya yang unik dari pemikiran dan upaya yang spesifik. Hasilnya tentu saja berbeda dengan tulisan hasil copas.

Kita tidak sedang fokus bicara hasil di sini, tetapi lebih mengarah ke proses. Hasil memang bisa sangat menentukan tingkat kepuasan. Namun tak sedikit juga keberhasilan menjalani suatu proses yang mendatangkan kegembiraan.

Biasanya proses menulis yang dilakukan melalui fase berpikir lunak akan memakan waktu yang cukup lama. Proses ini tentu berbeda dengan proses menulis yang hanya mengandalkan copy-paste dan teknik-teknik serupa yang bisa dilakukan dalam sekejap mata.

Saya meyakini bahwa proses menulis yang dilakukan secara baik akan memberikan hasil yang lebih memuaskan. Bagaimana dengan Anda?

Leave a Reply