Mulai Menulis dari Gambar Ilustrasi, Mungkinkah?

Pernahkah Anda mulai menulis dengan menentukan gambar ilustrasi lebih dulu? Apakah mungkin hal semacam itu kita lakukan saat mulai menuangkan gagasan?

Sebuah artikel yang ditulis Andrias Harefa dalam buku “Agar Menulis – Mengarang Bisa Gampang” cukup menarik perhatian saya. Tulisan pada bab keenam belas itu menguraikan pengalaman menulis yang berbeda dengan kebanyakan teori menulis baku.

Jika pada umumnya panduan menulis dimulai dengan membuat judul, lalu menyusun kerangka tulisan, dan seterusnya, penulis buku yang sangat produktif itu melakukan hal yang berbeda. Ia menceritakan pengalamannya menulis bab yang menjadi pokok bahasan topik ini, yakni proses menulis dimulai dari paragraf penutup.

Apakah bisa? Ya, bisa saja. Salah satu bukti telah terpampang di buku itu. Tak lain dan tak bukan, artikel pada bab keenam belas yang diberi judul “Dari Mana Mulai?”

Bukti lainnya dikemukakan oleh Budi Darma, salah seorang penulis ternama negeri kita. Dalam buku “Proses Kreatif, Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang”, pengarang yang dikenal banyak menghasilkan cerita-cerita absurd itu mengisahkan proses yang dilakukannya dalam menghasilkan karya.

Penulis novel “Olenka” itu menggambarkan proses mengarangnya sembari membandingkannya dengan jalan yang ditempuh kebanyakan penulis lain.

“Orang menulis biasanya mulai permulaan, kemudian menggelinding ke tengah, dan berhenti di bagian akhir. Memang demikian. Akan tetapi, saya terlibat oleh persoalan terlebih dahulu, dan dari situlah saya mulai: pada hakikatnya, saya mulai dari tengah.”

Saya juga menemukan sebuah tulisan menarik di Smart Blogger. Penulis artikel menyatakan bahwa mulai menulis dari tengah merupakan salah satu cara mengatasi writer’s block.

Nah, telah kita dapati dua orang penulis yang mengisahkan pengalaman berharga, menulis tidak harus dimulai dengan menorehkan judul atau bagian pembuka. Namun, proses kreatif itu bisa juga diawali dengan membabar bagian tengah atau bahkan bagian penutup dari bakal tulisan yang akan dihasilkan.

Saya yakin, bukan mereka berdua saja penulis yang melakukan kebiasaan “ganjil” seperti itu. Penulis-penulis lain pun barangkali melakukan hal serupa.

Baca juga: Ternyata Ini Cara GM Meningkatkan Produktivitas Menulis

Gambar Ilustrasi, Sang Penolong

Kalau mulai menulis tidak dengan menulis bagaimana? Wah, teori apa pula ini? Jangan bercanda, dong!

Suatu ketika, saya menangkap sebuah gagasan yang melayang-layang di kepala. Maka, segera saja saya torehkan kalimat-kalimat yang bermunculan dari benak saya.

Awalnya proses menulis berjalan cukup lancar, selancar berkendara di jalanan Jakarta pada hari raya. Seperti biasa, metode menulis cepat masih menjadi andalan saya.

Namun sejurus kemudian, hal yang saya khawatirkan akhirnya terjadi juga. Apalagi kalau bukan writer’s block, salah satu musuh terbesar yang acap menghantui para penulis di tengah semangat yang sedang membara.

Pelbagai upaya segera saya lakukan untuk menyelamatkan momen berharga itu. Mulai dengan rehat sejenak sembari menyeruput secangkir kopi hitam hingga membuka-buka koleksi buku lama, tak ada sebiji pun yang mempan.

Berikutnya: musik, film, dan internet. Tiada satu pun yang mampu mengeluarkan saya dari hadangan “dinding kokoh” yang sulit ditembus itu.

Iseng-iseng saya berselancar mengunjungi situs-situs penyedia gambar cuma-cuma. Saat itu tebersit pikiran nyeleneh: siapa tahu dengan tersedianya gambar sebagai bakal ilustrasi, semangat menulis jadi berkobar lagi, dan sang otak juga jadi memiliki kemampuan berlipat menggulirkan kata-kata.

Siapa yang menyangka kalau pikiran “aneh” itu ternyata betul-betul menjelma sebagai dewa penolong saya hari itu. Entah benar tersulut oleh perasaan eman lantaran gambar yang telah saya sediakan, atau tersundut api lainnya, pekerjaan menulis kala itu kembali lancar.

Setelah berbagai senjata standar gagal mengusir kemacetan pikiran, ternyata gambar ilustrasi yang berhasil mengenyahkan penghambat menulis dari dalam diri saya. Akhirnya kelar juga sebuah karya lengkap dengan ilustrasi yang akan mempercantik tampilannya.

Baca juga: Belajar Menulis Cepat dan Terus-Menerus Cara Mark Levy

Ilustrasi Tak Lagi Sekadar Pemanis

Nah, dua bentuk kegembiraan melingkupi hati saya sesaat setelah menyelesaikan seuntai artikel yang sempat macet itu. Selain kelarnya tulisan yang berarti datangnya kelegaan hati, juga telah lahir sebuah “teori baru” dalam menulis: gambar ilustrasi bisa menjadi pendobrak tembok penghalang menulis yang bisa diandalkan.

Peranan gambar ilustrasi memang belum sampai pada tahap pendorong utama gairah dan keberlanjutan proses menulis. Ia masih dalam tataran membantu mengencerkan otak hingga mampu kembali menghasilkan rentetan kalimat.

Berdasarkan pengalaman yang mengesankan tersebut, saya meyakini suatu hal. Seperti halnya sedemikian banyak teori tentang cara menulis, begitu juga yang terjadi pada cara-cara melancarkan aliran menulis dari kemacetan yang acap menghadang.

Memang saya tidak benar-benar mengawali proses menulis dengan menetapkan gambar ilustrasi. Upaya saya masih sebatas memanfaatkan daya dorong gambar ilustrasi guna membongkar hambatan menulis yang tak terdobrak melalui cara-cara lainnya.

Barangkali suatu saat nanti, ketika ada keinginan hati untuk melahirkan sebentuk tulisan, saya akan mencoba tidak memikirkan judul atau kalimat pembuka. Hal pertama yang akan saya lakukan adalah mencari gambar ilustrasi yang sekiranya cocok untuk menggambarkan ide yang melintas di kepala.

Leave a Reply