Agar Lancar Menulis, Bangunlah Ruang Privat dan Ruang Publik

Seorang penulis harus menyiapkan 2 jenis ruang, yakni ruang privat dan ruang publik. Keduanya berguna untuk melancarkan proses menulis yang dilakukannya.

Beberapa waktu lalu saya kembali membaca buku lama karangan Hernowo yang berjudul “Mengikat Makna Update”. Di dalam buku inspiratif ini saya mendapatkan sebuah artikel yang sangat menarik untuk didalami.

Dalam artikel dimaksud, penulis buku itu menceritakan sebuah kisah, entah kisah nyata entah fiktif belaka.

Kisah itu “dibintangi” oleh Pak Rudi, seseorang yang memiliki kepiawaian memaparkan isi pikirannya dalam wujud tulisan. Namun akhir-akhir ini ia merasakan bahwa karya-karya tulis yang dihasilkannya terasa hambar, tak lagi bisa dinikmati seperti dulu.

Meskipun demikian, ia tetap berusaha membesarkan hatinya. Ia cuma merasa dirinya kini menulis bagaikan sebuah robot. Maka, ia berupaya mencarikan cara untuk mengembalikan robot itu ke sosok semula layaknya seorang manusia.

Akhirnya, Pak Rudi menemukan inspirasi dalam sebuah pertunjukan yang mendemonstrasikan teknik menulis menggunakan 2 ruang yang berbeda. Pak Rudi merasa cocok dengan model menulis seperti ini sehingga memutuskan untuk mengaplikasikan teknik ini dalam proses menulis yang dilakukannya.

Cara Menulis di Ruang Privat dan Ruang Publik

Seusai menonton pertunjukan itu, Pak Rudi selalu menggunakan 2 jenis ruang dalam proses menulis. Sebuah ruang diberi nama “ruang privat” dan satu ruang yang lain dinamai “ruang publik”.

Pak Rudi menggunakan ruang privat pada awal proses penulisan. Di dalam ruang ini, Pak Rudi merasa sangat bebas menuliskan apa saja yang muncul dalam pikirannya.

Pak Rudi tidak merasa bimbang atau takut ketika mengungkapkan semua isi hati dan pikirannya. Hal yang mendasari keberaniannya tiada lain karena ia sedang berekspresi di ruang privat yang diperuntukkan bagi dirinya semata. Tidak ada orang lain yang bisa mengakses ruang pribadinya itu.

Jadi, ruang privat adalah ruang yang digunakan untuk menuliskan isi pikiran secara bebas karena hanya diri penulis yang dapat mengaksesnya.

Seusai mengeluarkan semua isi hati dan pikirannya tanpa berpikir macam-macam, Pak Rudi mengambil waktu jeda sekira 15 menit. 

Setelah rehat, ia memindahkan konsep tulisannya ke ruang sebelah, yakni ruang  publik. Di ruang yang dialokasikan bagi kalangan umum ini, Pak Rudi mulai menata ulang tulisan-tulisan yang telah dihasilkannya di ruang pribadi.

Dalam bilik umum ini, Pak Rudi memoles seluruh isi tulisannya, sejak judul hingga titik penutup. Ia mulai menata tata bahasa yang amburadul. Ia juga mengganti sejumlah pilihan kata yang dirasakannya kurang tepat.

Pendek kata, ia mengerahkan segala kemampuan yang dimilikinya untuk mengubah konsep tulisannya menjadi sebentuk karya yang layak dinikmati semua orang.

Dengan demikian, ruang publik adalah ruang yang digunakan penulis untuk melakukan editing atas konsep-konsep tulisannya hingga menjadi tulisan yang siap disajikan bagi kalangan umum.

Konsep  ”Usang” yang Tetap Gurih

Konsep menulis yang dilakukan Pak Rudi sebenarnya merupakan sebuah konsep “usang” yang telah sangat lama berkembang. Berbagai sebutan disematkan orang untuk menandai proses menulis jenis ini.

Ada yang menyebutnya dengan nama teknik menulis bebas atau free writing. Ada pula yang menamainya cara menulis cepat. Mungkin juga ada sebutan-sebutan lainnya.

Saya sendiri telah cukup lama mempraktikkan cara menulis seperti ini. Hasilnya, produktivitas menulis saya meningkat dibandingkan ketika saya selalu bernafsu menyelesaikan sebuah tulisan dalam sekali duduk.

Dengan metode sebelumnya, produktivitas menulis saya tidak berjalan sesuai harapan. Jangankan menyelesaikan sebuah artikel, mulai menulis saja sering kebingungan sendiri. Pelbagai bayangan buruk telah membayang di depan mata bahkan saat niat menulis baru terlintas dalam pikiran.

Metode menulis bebas yang digambarkan Hernowo dengan menggunakan 2 macam ruang semakin mengokohkan keyakinan saya. Saya meyakini bahwa model ini benar-benar bisa membantu meningkatkan produktivitas menulis yang sempat menurun tajam.

Penerapan teknik ini bisa beragam sesuai dengan pengalaman dan bacaan yang dipahami oleh masing-masing penulis. Salah satu panduan yang saya gunakan dalam menghasilkan tulisan adalah teknik menulis cepat dan terus-menerus yang dipaparkan oleh Mark Levy.

Dalam bukunya “Menjadi Genius dengan Menulis”, penulis yang memulai karir sebagai wiraniaga itu mengungkapkan teorinya secara gamblang. Dengan mengikuti proses ini, ditambah paparan dalam beberapa artikel dengan topik serupa, selama beberapa bulan saya mampu sedikitnya menghasilkan seribu kata dalam sehari.

Kendala Menulis Tanpa Pola

Sebelum bersua dengan yang namanya teknik menulis bebas ini, banyak sekali kendala yang mnghadang proses menulis yang saya lakukan. Beberapa hambatan yang bisa saya sebutkan antara lain keinginan untuk menghasilkan tulisan yang sempurna dengan sekali jalan, ketakutan akan penilaian pembaca atas kualitas tulisan, dan yang terbaru pikiran menyangkut SEO (Search Engine Optimization) yang mulai menggelayut sejak sebelum menorehkan kata.

Hal-hal itu membuat saya ditimpa rasa bimbang sehingga kerap termangu-mangu ketika hendak memulai menorehkan kata. Sesaat setelah membuka laptop, pikiran sudah terganggu oleh bayangan tulisan yang akan saya hasilkan bakal mengecewakan, artikel tidak SEO friendly, dan sebagainya.

Berbagai bayangan buruk semacam itu menimbulkan rasa enggan menulis. Sebuah keengganan yang sangat mengganggu dan tidak seharusnya terjadi.

Hal ini terjadi karena saya belum memahami pengertian ruang publik dan ruang privat. Saya masih menjalankan proses menulis tanpa memperhatikan sekat yang memisahkan kedua jenis ruang itu.

Ruang Privat Mampu Meningkatkan Kepercayaan Diri

Ruang privat telah menanjakkan tingkat kepercayaan diri saya. Kini, saya tak lagi perlu merasa malu dan takut mendapatkan penilaian buruk atau bahkan cemoohan dari pembaca. Toh tulisan yang saya hasilkan dalam ruang ini aman dari “jamahan” orang.

Hanya diri saya yang bisa mengakses, membaca dan melakukan apa saja terhadap tulisan-tulisan saya. Tentu juga tidak bakal muncul komentar-komentar yang bisa menimbulkan rasa rendah diri dan frustrasi.

Rasa aman itu benar-benar membuat saya bebas mengungkapkan isi pikiran, termasuk masalah-masalah pribadi. Tidak ada lagi keraguan untuk menuangkan apa saja yang telah lama tersimpan atau baru saja melintas dalam hati.

Selain itu, tidak adanya kewajiban untuk menghasilkan tulisan yang siap saji membuat proses menulis berjalan cepat dan lancar layaknya kendaraan yang melaju di jalan bebas hambatan.

Satu-satunya urusan yang sesekali masih menjelma sebagai hambatan adalah hasrat editor dalam diri saya yang suka tidak sabar menanti waktu yang tepat untuk mulai bekerja. Sang editor yang seharusnya hanya bekerja di ruang publik, kerap memaksakan kehendaknya untuk segera mengobrak-abrik konsep ketika masih dalam penggarapan di ruang privat.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, saya semakin mampu mengendalikan nafsu besar sang editor. Meskipun tidak 100% meniadakan perannya, tetapi tak banyak lagi kiprah editor dalam diri ini di ruang privat.

Saya selalu berusaha menyabarkan dirinya. “Sabarlah sebentar. Tak lama lagi, kamu bakal bebas mengumbar kemampuanmu di ruang sebelah!”

Umumnya sang  editor patuh mengikuti anjuran ini, walaupun kadang-kadang masih nyolong start.

Misalnya, begitu melihat adanya typo alias salah tik, sontak ia ingin segera menghambur ke TKP untuk membetulkannya. Saya masih acap menyerah kepadanya dalam urusan ini.

Ide Lama yang Kembali Menggema

Itulah sedikit cerita menyangkut perubahan teknik dalam proses menulis yang saya alami. Saya telah menceritakan pengalaman ini dalam beberapa artikel di blog ini.

Di antara artikel-artikel itu adalah tulisan mengenai hambatan-hambatan dalam proses menulis, cara membuat tulisan pribadi yang praktis, dan belajar menulis dari Goenawan Mohamad.

Ide untuk menuliskan artikel ini muncul saat saya kembali membuka-buka bacaan lawas dengan maksud menyegarkan kembali pengetahuan dan motivasi menulis. Buku-buku karya Hernowo memang telah lama menjadi rujukan untuk mendapatkan ilmu tentang membaca dan menulis yang sangat menarik dan cukup mudah diterapkan. Salah satu ide lama yang dikemas dengan cara baru kembali membuka mata saya. Apakah Anda merasa perlu membangun ruang privat dan ruang publik untuk meningkatkan produktivitas Anda?

Leave a Reply