Secangkir Kopi Penakar Kata-Kata

Berapa banyak kata yang bisa dihasilkan oleh secangkir kopi? Jangan sampai kopi yang kita seduh tidak menelorkan apa-apa.

Pembahasan kita kali ini masih berkutat seputar mencari cara menaikkan produktivitas menulis. Berbagai tulisan yang mengupas motivasi dan memberikan banyak tips untuk mendongkrak produktivitas gampang sekali kita temukan di ranah maya.

Sebagian di antara materi-materi itu meninggalkan  kesan cukup mendalam, dan layak dicoba. Namun tidak semuanya bisa (langsung) diaplikasikan dalam proses menulis seketika itu juga.

Sekelebat inspirasi yang amat mengesankan justru saya dapatkan dari sebuah iklan. Ya, sebuah ide meningkatkan produktivitas menulis ternyata tidak selalu muncul dari tulisan-tulisan yang memang sengaja dibuat untuk keperluan itu.

Pada sebuah blog suvenir bagi penulis, saya menghentikan pencarian saya ketika menatap sebuah promosi macam-macam suvenir yang diklaim cocok bagi seorang penulis. Tatapan mata saya tertuju pada beberapa cangkir besar atau dalam bahasa sono dikenal sebagai mug, yang tampil dalam beberapa bentuk dan beraneka rupa hiasan.

Cangkir yang saya pandangi kali ini bukan sekadar alat untuk menampung minuman sebagaimana cangkir yang kita kenal sejak lama. Sebut saja sebagai wadah kopi yang merupakan minuman paling digemari para penulis, atau mungkin jenis minuman lainnya.

Tampak satu sisi permukaan bagian samping mug ini bergaris-garis kuning emas tipis dan pada ujung masing-masing garisnya tertera angka dan huruf berwarma hitam. Kelihatannya semacam gelas ukur untuk menakar cairan yang dituangkan ke dalamnya, tetapi terlihat lebih indah.

Gelas Takar Minuman?

Saya pernah melihat barang serupa ini di dapur sebuah kafe, barangkali untuk menakar kopi agar komposisinya pas. Di luar kafe, benda semacam ini juga bisa kita temukan di tempat-tempat yang ada anak bayi, sepertinya berfungsi untuk mengukur volume susu yang akan diberikan kepada sang bayi.

Namun gelas yang menarik perhatian saya dalam iklan kali ini tidak menunjukkan kode ml (mili liter) layaknya gelas pengukur minuman. Yang saya saksikan adalah ukuran-ukuran yang tidak lazim tercantum pada sebuah gelas ukur.

Pada setrip paling dasar, tertulis 1.000 words, lalu di atasnya ada 750 words, dan semakin ke atas, angkanya semakin kecil. Demikian seterusnya hingga posisi puncak cangkir tentu saja bertuliskan tanda 0 words.

Barangkali sampai di sini Anda, jika sebelumnya belum pernah menemukan benda seperti ini, sudah mulai menduga kegunaan gelas dengan hiasan tidak umum ini. Sebagai seorang (yang merasa diri) penulis, saya segera tertarik dengan tampilan barang promosi yang baru pertama kali saya temui ini.

Secangkir Kopi yang Memaksa Kita Menghasilkan Kata

Bukan tertarik dalam arti sebentuk kekaguman semata. Setelah melihat barang itu, seketika timbul sebuah ide dalam benak saya.

Dengan gelas ukur ini, kita dapat membiasakan diri melipatgandakan manfaat kopi, atau minuman lainnya sesuai selera masing-masing orang. Bila selama ini kita mengakrabi kopi sebagai cairan sakti yang mampu “mengganjal” kelopak mata yang redup, kelak fungsi kopi akan merambah ke bidang lainnya.

Ketika bermukim dalam gelas ini, faedah kopi bertambah lagi. Si hitam beraroma khas itu akan membantu kita menorehkan kata-kata.’

Kita bisa memaksakan diri untuk menyelesaikan 1.000 kata, atau berapa pun yang kita inginkan, dalam sekali duduk dengan segelas kopi di atas meja kerja kita. Kita akan mengawali program ini dengan layar kosong dan kopi secangkir penuh, terlihat pada permukaan cairan yang sejajar dengan setrip bertanda 0 kata.

Bibir kita belum boleh menyentuh minuman itu sebelum jemari mengetikkan sejumlah kata. Kita hanya akan menikmati sedapnya kopi atau minuman kesukaan lainnya sebanyak tulisan yang kita munculkan di layar.

Rumusnya sederhana saja: nggak nulis, maka nggak ngopi. Aroma kopi yang sedap seharusnya menjadi pendorong semangat kita menuliskan sebanyak mungkin kata.

Posisi permukaan cairan hitam memperlihatkan seberapa tinggi produktivitas menulis kita. Sebelum menghabiskan secangkir kopi, tentu saja kita harus terlebih dahulu menuntaskan target yang kita canangkan, misalnya 1.000 kata.

Mengukur Produktivitas Menulis

Wah, benda “ajaib” ini bisa menjadi salah satu cara menerapkan sebuah teori produktivitas menulis yang lumayan sulit dipraktikkan, yakni menetapkan target dan berusaha mencapainya. Salah seorang penulis produktif yang telah memanfaatkan kekuatan tenggat waktu alias deadline sebagai pemacu produktivitasnya menulis adalah Goenawan Mohammad, sosok yang amat tenar di balik seri Catatan Pinggir-nya.

Sebelum ini saya telah mengenal beberapa sarana dengan fungsi serupa. Dua di antara sarana yang saya maksudkan adalah jam dan sobekan kertas.

Kita bisa menggunakan jam yang terpasang di dinding atau sekadar jam digital yang terinstal di layar komputer sebagai pengingat. Sedangkan sesobek kertas bertulisan data jumlah kata yang telah saya hasilkan biasanya saya tempelkan di dinding persis di depan meja kerja.

Jika belum terbiasa dengan target yang banyak, kita dapat memulainya dengan memancang target kecil-kecilan. Barangkali berawal dari angka psikologis 300 kata saat kita mengawali metode ini.

Kelak jumlah itu akan terus bertambah seiring dengan berlipatnya energi dan semakin baiknya kebiasaan kita menghasilkan kata-kata.

Kita tentu bisa membuat variasi skala ukuran cangkir kopi sesuai dengan kemampuan dan kemauan kita. Saya memulainya dengan secangkir kopi panas yang tersaji dalam sebuah wadah dengan strip paling bawah bertanda 500 kata.

Dalam mengejar target 500 kata, saya menggunakan metode menulis cepat dan terus-menerus atau membuat tulisan pribadi. Kini saya membutuhkan dua cangkir kopi untuk menghasilkan 1.000 kata dalam sehari.

Saya mengingatkan hal terpenting dalam urusan ini. Jangan sampai kita menjadi tak berselera menyeruput kopi yang nikmat hanya untuk menghindar dari kewajiban meraih target yang tertera pada cangkirnya.

Selain itu, kemampuan memelihara tekad diri sendiri amat penting bagi seorang pekerja lepas yang tak bisa berharap pada orang lain untuk mengingatkan kita. Sebab kita juga yang akan menikmati atau meratapi hasilnya kelak.

Jadi, berapa kata yang telah Anda hasilkan dari secangkir kopi hitam yang tersaji di atas meja?

Leave a Reply