Terlalu Banyak Informasi Bikin Susah Sendiri

Terlalu banyak informasi yang kita terima dan kita simpan tidak selalu menguntungkan. Tak jarang, informasi yang melimpah  justru bikin kita susah.

Pernah merasa lega ketika bertemu dengan kalimat “There are no more posts to show right now”? Saya sering berharap segera menemukan kalimat itu saat menelusuri postingan di Facebook yang seakan tak ada titik akhir.

Hal yang serupa terjadi sewaktu membuka-buka halaman-halaman yang ditampilkan mesin pencari. Tak jarang timbul rasa senang menjumpai halaman pencarian yang paling belakang.

Mulanya memang menggembirakan ketika menjelajahi berbagai informasi melalui mesin pencari. Hanya dengan mengetik beberapa kata pada bilah pencarian, seketika muncul ratusan atau bahkan ribuan berita yang terkait dengan kata kunci.

Semakin banyak informasi, sepertinya sangat menyenangkan hati. Kian leluasa kita memilih bahan-bahan yang sesuai dengan kebutuhan.

Benarkah demikian? Sepertinya tidak selalu begitu kejadiannya.

Baca juga:  Ternyata Ini Rahasia GM Meningkatkan Produktivitas Menulis

Banyak Informasi yang Menyusahkan Diri

Sering kali saya merasa sangat letih ketika halaman-halaman Google Search atau Facebook terus bermunculan bagaikan sumur tanpa dasar. Begitu pula halnya dengan media-media berita dan platform lainnya. Hati saya bertanya-tanya, “Kok nggak habis-habis sih, postingan orang? Mana ujungnya, nih?”

Ajaibnya, perasaan menjadi lega justru ketika mendapati kenyataan bahwa pilihan-pilihan lain tak lagi tersedia. Akhir halaman pencarian atau penutup postingan di media sosial menjadi semacam oase di padang gersang.

Sepertinya aneh, ya. Bukankah berakhirnya halaman pencarian merupakan pertanda bahwa kita tidak memiliki alternatif lain lagi untuk kita lihat?

Nyatanya memang demikian. Keterbatasan pilihan tidak selalu berarti bahwa kekecewaan akan menghampiri kita. Adakalanya justru membikin perasaan jadi lega.

Kondisi kelimpahan informasi yang menyusahkan hati semacam itu bisa kita temukan di berbagai tempat. Bukan di media daring saja kita bisa menjumpainya. Di jagat nyata kita pun bisa bertemu dengannya.

Misalnya, suatu saat saya nyari-nyari camilan untuk menemani kopi hitam yang telah tersedia di rumah. Deretan penganan kecil tersusun memanjang bagai kereta api membuat saya menjadi bingung sendiri. Maksud hati mampir sebentar di sebuah toko roti, eh ternyata molor sekian lama lantaran bimbang akibat banyaknya pilihan.

Kajian tentang Informasi Berlebih

Sebuah penelitian memberikan kesimpulan yang berbeda dengan gambaran yang selalu mengisi kepala. Selama ini saya membayangkan, semakin banyak informasi akan semakin menyenangkan. Namun sebuah hasil penelitian menyatakan hal yang sebaliknya.

Kompas.com mewartakan hasil kajian yang dilakukan tim Universitas California. Seorang anggota tim bernama Ming Hsy, Ph.D. mengungkapkan salah satu hasil penelitian mereka dengan sebuah perumpamaan. Ia menyatakan bahwa mendapatkan informasi yang berlebihan bagaikan melahap junk food yang tak memiliki kandungan kalori.

Seperti halnya pengonsumsi makanan cepat saji, penerima informasi merasa dirinya menjadi lebih baik seusai menerima sekian banyak informasi.  Padahal sebagian besar informasi yang diterimanya tidak berguna. Jadi, semacam fatamorgana saja.

Selain itu, terlalu banyak manerima masukan bukannya membantu mempercepat kita dalam mengambil keputusan. Informasi yang berjibun justru bisa membuat kita bingung. Akibatnya, waktu yang dibutuhkan untuk mengambil keputusan bertambah lama.

Selain berdampak pada pikiran dan perasaan, ternyata melimpahnya informasi juga bisa mendatangkan efek buruk bagi kesehatan tubuh. Sebuah artikel yang tersaji di sebuah portal berita mengindikasikan hal tersebut.

Situs detik.com memberitakan sebuah pernyataan tentang bahaya yang mengancam jantung orang yang menerima terlalu banyak informasi negatif ke dalam pikiran mereka.

Menurut seorang dokter ahli jantung, stres akibat memikirkan informasi negatif dapat meningkatkan hormon adrenalin di otak. Kondisi tersebut bisa membikin denyut jantung bertambah cepat.

Baca juga: Belajar Menulis Cepat dan Terus-menerus Cara Mark Levy

Fokus pada Tenggat Waktu

Setelah mengetahui beberapa hasil penelitian perihal dampak buruk informasi yang berlebihan, semestinya kita semakin paham pentingnya memilah-milah informasi. Dan tentu saja mengukuhkan hati untuk hanya mencari informasi yang benar-benar kita perlukan.

Kondisi informasi yang berlebih juga kerap kali terjadi dalam proses menulis. Ketika mencari-cari referensi untuk mendukung opini, internet menjadi andalan sumber informasi mengingat kemudahan mendapatkan berbagai bahan di sana.

Namun sebaliknya, internet juga bisa menjelma sebagai sumber kekacauan paling menyebalkan. Adakalanya panggung daring itu menjadi rimba yang acap bikin orang tersesat. Niat semula mencari referensi, malah keasyikan berselancar dan tak sanggup berhenti hingga kebanjiran informasi.

Lantas, bagaimana mengatasi gangguan berwujud meluapnya informasi? Masing-masing orang tentu memiliki cara sendiri.

Saya mengandalkan tenggat waktu alias deadline sebagai  salah satu senjata pamungkas dalam mengatasi “serangan” informasi yang tiada henti. Jadwal menulis yang dilengkapi dengan tenggat waktu yang jelas bisa menjadi satu solusi.

Namun ada hal penting lain selain menetapkan waktu tayang yang jelas.  Deadline yang kita pasang semestinya tidak meninggalkan celah untuk kita merasa bebas berselancar kian kemari.

Dengan penetapan jadwal yang ketat, kita tidak akan merasa memiliki banyak waktu luang untuk berkelana di dunia maya. Sebab, luangnya waktu hanya akan membawa kita mengunjungi situs-situs yang tak memberikan bahan relevan dengan topik tulisan kita.

Beragam cara bisa kita terapkan untuk fokus pada tenggat waktu. Pelbagai program pengingat bisa kita pasang di gawai. Kita pun dapat memakai cara klasik dengan menuliskan jadwal pada kertas warna-warni dan menempelkannya di dinding persis di depan mata.

Apakah kedua hal itu sudah cukup untuk memaksa kita bersegera menuntaskan sebuah karya? Tentu saja banyak urusan lainnya yang perlu kita perhatikan. Barangkali keyakinan diri untuk mematuhi jadwal yang telah kita tetapkan akan menjadi faktor yang paling menentukan.

Leave a Reply