Ternyata Ini Rahasia GM Meningkatkan Produktivitas Menulis

Sebagai penyuka kegiatan menulis, saya selalu mencari cara meningkatkan produktivitas menulis. Dan saya menemukan kembali cara lama yang cukup ampuh khasiatnya.

Saya mengingat seorang guru SMP zaman sekolah dulu yang mempunyai cara unik untuk memaksa siswa-siswa menyelesaikan tugas yang diberikannya. Guru itu cukup mengatakan, “Selesai ndak selesai, kumpulkan!”, dan kami tak pernah mampu mengelak dari kewajiban.

Karena sudah menghapal kalimat sakti itu, sedapat mungkin saya–dan saya yakin teman-teman sekelas saya juga–menyelesaikan tugas yang diberikan Pak Guru sebelum beliau meneriakkan kalimatnya yang legendaris itu.

Kalimat itu terngiang-ngiang kembali di telinga manakala saya sedang mempelajari sebuah ilmu tentang produktivitas menulis. Dalam tulisan sebelumnya berjudul “Belajar Menulis Cepat dan Terus-Menerus Cara Mark Levy”, saya telah memaparkan sedikit resep menjaga aktivitas menulis agar tidak sering berhenti di tengah jalan. Dan ini adalah cerita mengenai resep lain racikan Levy untuk meningkatkan produktivitas menulis.

Pada bagian lain buku “Menjadi Genius dengan Menulis”, Levy menguraikan pentingnya tenggat waktu (deadline) untuk memacu semangat menulis. Dalam buku itu Levy menggunakan jam beker sebagai simbol alat pengatur waktu.

Ya, menurut Levy, kita bisa memanfaatkan kemampuan jam beker dalam menjaga mata tidak terpejam saat dibutuhkan. Ia akan memaksa kita waspada pada waktunya guna melaksanakan tugas yang telah kita rencanakan.

Jam beker dengan lonceng yang siap berdering sesuai setelan waktu yang ditentukan sang majikan melambangkan tenggat waktu yang harus dipatuhi. Alat ini memang dibuat dengan salah satu tujuannya agar manusia bisa menjalankan kegiatan sesuai jadwal yang telah ditetapkannya.

Memanfaatkan Deadline

Bekerja dengan tenggat waktu akan sangat berbeda dibandingkan bekerja tanpa batasan waktu sama sekali. Penulis sekaliber Goenawan Mohamad (GM) pun mengakui kehebatan tenggat waktu dalam memacu keproduktifannya menghasilkan tulisan.

Detik.com pernah mewartakan beberapa kebiasaan GM ketika menulis, terutama rutinitasnya mengisi kolom Catatan Pinggir (Caping). Saat ditanya bagaimana GM bisa rutin menulis Caping selama puluhan tahun, ia memberikan jawaban yang di luar dugaan.

GM mengaku ia bisa menulis setiap minggu karena memang sudah kewajibannya untuk mengisi Caping. “Ya karena disuruh Tempo. Selama saya bisa pasti saya lakukan,” katanya.

Sepertinya sebuah jawaban yang terlalu merendah bagi seorang penulis sekelas GM. Namun, jawaban itu mengisyaratkan adanya sebuah parameter yang membuat GM harus bekerja untuk memenuhinya.

Saya menemukan jawaban GM yang lebih jelas dalam sebuah artikel di kumparan.com. Sebuah kesaksian yang menunjukkan betapa GM sangat bergantung pada tenggat waktu. Berikut ini kutipan tulisan perihal pentingnya tenggat waktu dalam menulis.

Saya pernah bertanya kepada GM, apa yang membuat dia kuat menulis “Caping” setiap minggu, selama hampir empat puluh tahun terus-menerus. “Deadline,” katanya, dengan senyumnya yang cerdik dan gampang mengecoh itu. “Kalau tidak ada deadline, tentu saya tidak menulis.” (Amarzan Loebis dalam Kecap Dapur Tempo 1971-2011).

 Baca juga: Menulis Ibarat Membuat Tembikar

Dampak Tenggat Waktu terhadap Produktivitas Menulis

Mark Levy memaparkan dua macam peran penting tenggat waktu dalam kegiatan menulis.

1. Tenggat waktu akan memompa semangat menulis dengan memberikan sebuah parameter.

Bayangkan dua keadaan yang berbeda. Kondisi pertama, bos Anda memberi suatu tugas. Sembari menyerahkan tugas itu, si Bos bilang, “Terserah kamu, mau selesai hari ini atau lusa atau minggu depan. Nggak masalah.”

Menerima instruksi seperti itu, kira-kira apa yang Anda lakukan? Cepat-cepat merampungkan tugas hari itu juga? Saya kira kebanyakan orang akan menyelesaikannya minggu depan, menjelang ketemu bosnya. Sebab parameter tugas itu memang tidak jelas hingga orang tidak merasa terpacu untuk segera membereskannya.

Keadaan yang kedua, bos Anda juga minta Anda menyelesaikan sebuah pekerjaan. Kali ini Pak Bos mengharapkan Anda menuntaskannya paling lambat sore hari itu juga agar sang Bos bisa mempelajarinya pada malam harinya. Sebab, esok paginya ia harus melakukan teleconference dengan Direksi di Kantor Pusat.

Apakah Anda punya pilihan untuk mengerjakan tugas itu selain hari yang sama? Tentu saja tidak. Karena sangat jelas parameter yang ditetapkan bos Anda untuk mengukur keberhasilan kerja Anda.

2. Tenggat waktu akan membuat kita terus menulis hingga bisa mendapatkan ide-ide baru.

Suatu ketika Anda tiba pada posisi buntu, tidak memiliki ide apa pun yang bisa Anda kembangkan menjadi sebentuk tulisan. Selama ini, Anda tidak mempunyai jadwal menulis. Maka ketika kursor tak bergerak selain berkedip-kedip saja, kemungkinan Anda tak akan membutuhkan waktu lama untuk meninggalkan komputer Anda.

Akan berbeda kejadiannya bila Anda sedang berada dalam kondisi yang sama, buntu, tetapi Anda telah menetapkan skedul menulis dengan tenggat waktu yang jelas. Membayangkan tenggat waktu yang ada di hadapan Anda, besar kemungkinan Anda akan tetap berada di depan komputer, mengetik apa saja yang melintas di kepala.

Sebab sesuai dengan pelajaran yang disampaikan Mark Levy, ngetik “asal-asalan” bisa juga memunculkan gagasan-gagasan yang tak terpikirkan sebelumnya.

Merenungi Pesan Pak Guru

Kini saya kembali merenungi ucapan Pak Guru yang telah saya sampaikan pada bagian awal tulisan ini. Kalimat yang dilontarkannya ternyata cukup efektif memacu anak-anak didiknya bergegas menyelesaikan tugas.

Ketika kini menjadi seorang penulis mandiri (freelance writer), tentu saja tidak ada Pak Guru yang selalu tegas menetapkan tenggat waktu. Jadi, mau tak mau, saya harus membikin sendiri jadwal menulis lengkap dengan batas waktu “pengumpulannya”.

Barangkali untuk menaikkan produktivitas menulis, saya perlu menciptakan seorang guru imajiner yang akan berseru ketika tiba waktunya, “Ayo, segera selesaikan dan kumpulkan!”

Leave a Reply