Ada 2 tahap berpikir kreatif sebelum menghasilkan tulisan yang bagus, yaitu berpikir lunak dan berpikir keras. Bagaimana cara melakukannya?
Menulis ibarat membuat tembikar. Mula-mula kita mengerahkan cara berpikir lunak dan kemudian mengakhirinya dengan cara berpikir keras.
Dalam bukunya yang berjudul Whack, Pukulan untuk Merangsang Kreativitas dan Ide Baru (2008), Roger von Oech menjabarkan ciri-ciri dua fase berpikir dalam menghasilkan suatu karya. Cara berpikir yang satu memiliki ciri-ciri yang seakan-akan berlawanan dengan ciri-ciri fase berpikir lainnya.
Baca juga munculnya harapan bahwa semangat Proklamasi bakal berimbas pada meningkatnya semangat menulis.
Cara berpikir lunak, yang merupakan tahap berpikir awal, memiliki beberapa tanda seperti bersifat metaforis, merupakan kira-kira, humoris, suka bermain dan mampu menangani kontradiksi.
Sementara itu, cara berpikir keras, yang tak lain merupakan tahap berpikir berikutnya, cenderung lebih bersifat logis, tepat, terperinci dan konsisten.
Sebagian orang yang menyebut cara berpikir lunak sebagai fase imajinatif. Sementara itu, cara berpikir keras masuk ke dalam fase praktis.
Proses Menghasilkan Tembikar Melalui Tahap Berpikir Kreatif
Apakah Anda pernah menyaksikan seseorang yang sedang membuat sebentuk tembikar? Proses membuat tembikar membutuhkan dua fase berpikir seperti yang dikatakan von Oech, yakni fase berpikir lunak dan fase berpikir keras.
Tahap berpikir lunak terjadi saat perancang tembikar merancang model dan corak tembikar yang akan diproduksinya. Termasuk dalam tahap berpikir lunak ketika ia menetapkan warna di antara sejumlah warna yang bisa dipilihnya.
Sedangkan tahap berpikir keras terlihat ketika perajin tembikar memilin-milin tanah liat membentuk pot bunga dan bentuk-bentuk lainnya. Kemudian dilanjutkan dengan membakar tembikar mentah hingga menjadi keras dan siap digunakan atau diperdagangkan.
Baca juga tulisan tentang asyiknya menulis artikel, tak kalah dengan memancing ikan.
Dalam fase berpikir lunak, pembuat tembikar sangat mengandalkan kreativitas dan kemampuan berimajinasi.
Tembikar memang bisa diproduksi secara massal dengan model dan corak yang sama. Untuk menghasilkan tembikar pasaran semacam ini, produsen tidak banyak membutuhkan kreativitas.

Namun tembikar berharga mahal umumnya memiliki corak yang unik dan diproduksi dalam jumlah yang terbatas.
Jenis tembikar ini dihasilkan melalui serangkaian pemikiran dan kerja yang jeli dan teliti. Sang perancang tembikar mungkin harus melakukan riset untuk mendapatkan model tembikar yang berbeda dengan kebanyakan tembikar yang telah ada sebelumnya.
Maka produsen tembikar kualitas ekspor biasanya mendapatkan banyak pemasukan karena harga jual produknya mahal.
Berbeda dengan produsen jenis tembikar pasaran. Mereka harus memproduksi tembikar dalam jumlah besar hanya untuk memperoleh pendapatan yang seringkali pas-pasan.
Apa Persamaan antara Menulis dan Membuat Tembikar?
Kegiatan menulis tak ubahnya membuat tembikar. Serupa dengan proses pembuatan tembikar, proses menulis juga secara umum melalui fase berpikir lunak dan fase berpikir keras.
Fase menulis yang pertama terjadi saat seorang penulis mencari dan menangkap gagasan yang akan ditulisnya. Fase berikutnya mulai berjalan tatkala ia bersiap mencurahkan gagasan dalam wujud sebuah tulisan.
Sebuah tulisan bisa dihasilkan secara massal dengan teknik salin dan tempel (copas) dari berbagai sumber yang tersedia nyaris tak terbatas. Tulisan model begini tentu saja tak membutuhkan pemikiran yang kritis.
Memangnya Anda mau jadi penulis bermodal copas?
Baca juga ulasan mengenai penyebab dan cara menghindari kebiasaan copas dalam menulis.
Sebaliknya, tulisan juga bisa dibuat sebagai sebuah karya yang unik dari pemikiran dan upaya yang spesifik. Hasilnya tentu saja berbeda dengan tulisan hasil plagiat.
Dalam kesempatan ini, kita tidak sedang fokus bicara hasil, melainkan lebih mengarah ke proses.
Hasil memang bisa sangat menentukan tingkat kepuasan. Namun tak sedikit juga keberhasilan menjalani suatu proses yang mendatangkan kegembiraan.
Biasanya proses menulis yang dilakukan melalui fase berpikir lunak akan memakan waktu yang cukup lama. Proses ini tentu berbeda dengan proses menulis yang hanya mengandalkan copy-paste dan teknik-teknik serupa yang bisa dilakukan dalam sekejap mata.
Saya meyakini bahwa proses menulis yang dilakukan secara baik akan memberikan hasil yang lebih memuaskan. Kalaupun belum mampu menghasilkan karya yang mendapat apresiasi khalayak, setidaknya proses menulis seperti ini akan meninggalkan kepuasan batin bagi penulisnya.
Yang jelas, untuk menghasilkan tulisan yang bagus diperlukan kemauan dan kesabaran penulisnya. Sebab, proses menulis melalui tahap berpikir kreatif memang harus menempuh jalan berliku dan menghabiskan waktu yang lebih panjang.