Tugas editor adalah memperbaiki konsep yang dihasilkan penulis. Namun, editing yang terlalu dini justru merusak proses kreatif yang sedang berjalan.
Pada tingkatan yang berbeda-beda, dalam diri setiap penulis pasti terkandung “seorang” editor. Tugasnya tentu mengedit tulisan yang dihasilkan sang penulis.
Besar kecilnya campur tangan editor berlainan antara penulis yang satu dengan penulis lainnya. Hal itu bergantung pada kebiasaan masing-masing penulis.
Berbicara mengenai editor, saya teringat pada Zona Menulis yang pernah disampaikan oleh Andrias Harefa dalam bukunya Happy Writing.
Penulis produktif itu membagi penulis ke dalam empat zona. Pembagian zona penulis berdasarkan tingkat keberanian seorang penulis dalam menghasilkan dan menyebarkan karya-karya tulisnya.
Zona pertama disebut Zona Lemas. Wah, kok nggak enak banget sebutannya, ya?
Ya begitulah, karena penulis yang masuk ke dalam zona ini disinyalir tidak memiliki keberanian dan pertimbangan dalam menulis. Kalau nggak berani menulis ya produktivitasnya auto rendah.
Yang kedua adalah Zona Kritikus. Dalam zona ini berkumpul para penulis yang banyak pertimbangan. Karena terlalu banyak pertimbangan, maka tulisan pun nggak kelar-kelar.
Para penulis yang “nyasar” ke zona ini umumnya tak banyak berproduksi. Kalaupun ada produksi, mungkin produk tak jadi sehingga tidak sampai ke tangan masyarakat pembaca.
Zona yang ketiga adalah wadah para penulis pemberani. Andrias Harefa menamakannya sebagai Zona Nekat. Seperti sebutannya, penulis-penulis dengan tingkat keberanian yang tinggi dan tanpa banyak pertimbangan akan berkumpul di sini.
Mengingat karakteristiknya, sebagian besar penulis yang bersemayam dalam Zona Nekat memiliki tingkat produktivitas yang tinggi.
Ciri-ciri lain tulisan yang dihasilkan para penulis nekat adalah banyaknya kekeliruan yang terkandung dalam tulisan-tulisan itu. Kesalahan-kesalahan yang sering terjadi seperti ejaan yang tidak tepat, kosakata yang kurang bervariasi, kesalahan pengetikan (typo), dan kesalahan-kesalahan lainnya.
Penulis ideal mestinya berada pada zona keempat yang disebut sebagai Zona Keunggulan atau Zona Kearifan. Para penulis andal yang bermukim di sini memiliki tingkat produktivitas tinggi dengan tulisan-tulisan yang berkualitas.
Editor yang Terlalu Cepat Bekerja
Ketika kegemaran menulis mulai bersemi dalam hati, saya ingin mengawali kiprah kepenulisan dengan memasuki Zona Nekat.
Banyak pakar menulis yang menyarankan agar para pemula seperti saya berangkat berbekal nekat saja. Pokoknya tulis, tulis, dan tulis!
Namun apa daya, dalam diri saya bermukim seorang “editor” yang sangat rajin bekerja. Atau barangkali lebih tepat jika saya menyebutnya tidak memiliki tingkat kesabaran yang cukup tinggi.
Sepertinya ia merasa dirinya selalu berada dalam sirkuit balap. Dan ia tak rela tertinggal jauh di belakang saya selaku (pengen-nya disebut) penulis. Bahkan adakalanya terkesan ia terlihat hendak mendahului saya.
Silakan baca juga tulisan mengenai kegiatan menulis ibarat membuat tembikar.
Saya sering kewalahan menerapkan salah satu teori menulis beraliran nekat. Baru sekalimat dua kalimat terketik di layar laptop, sang editor keburu mengusik-usik.
Cepat sekali editor bayangan itu menemukan pelbagai kekeliruan dalam tulisan yang belum saya selesaikan. Ia merasa kesalahan-kesalahan itu harus diperbaiki saat itu juga.
Kekeliruan yang ditemukaannya bisa berwujud apa saja.
Apakah itu menyangkut tata bahasa yang kurang pas. Atau kalimatnya kepanjangan. Mungkin juga kosakatanya yang itu-itu saja.
Pendek kata, ia tak pernah kekurangan bahan untuk mengoreksi tulisan-tulisan saya. Ia pun tak pernah kehilangan ketergesaan untuk melakukannya sebelum saya menyelesaikan sebuah konsep tulisan.
Sungguh konyol. Saya belum memiliki kemampuan menulis yang memadai, tetapi cepat sekali memberikan pertimbangan macam-macam bagi tulisan-tulisan yang belum lagi saya selesaikan.
Ketika Sang Editor Mulai Sabar
“Perseteruan” saya dengan editor yang sangat ceriwis bisa diibaratkan lomba balap sepeda.
Dalam setiap etape, sang editor berusaha menyusul saya, tetapi saya masih bisa menjauhkan diri dari kejarannya. Memasuki etape berikutnya, ia berusaha mengejar saya lagi, dan saya bisa menjauhinya kembali.
Begitulah yang selalu terjadi. Kadang-kadang saya berhasil mencapai garis finish tanpa benar-benar terkejar olehnya. Maka, tulisan saya pun meluncur ke lapak-lapak daring, termasuk blog pribadi saya ini.
Namun adakalanya ia bisa mendahului saya dan bahkan kemudian mencegat saya di tengah jalan. Bila demikian yang terjadi dan saya tak memiliki cukup tenaga untuk menyingkirkannya, usai sudah harapan kelarnya tulisan.
Tulisan saya akan berhenti sebatas sebagai konsep. Konsep-konsep ini pun bergabung dengan para “korban” editor lainnya dalam folder konsep yang telah saya sediakan.
Silakan baca ulasan mengenai rasa takut dinilai sebagai salah satu bentuk hambatan menulis.
Ada dua kemungkinan yang bakal terjadi pada konsep-konsep itu.
Pertama, ia akan menemukan saat yang tepat untuk keluar dari sarangnya dan bergerak menemui pembaca. Saat itu terjadi ketika keberanian saya meningkat hingga mampu mengatasi adangan sang editor yang terus berusaha mencegat.
Bisa juga yang terjadi adalah kemungkinan kedua. Ketika saya tak menemukan alasan-alasan baru untuk mengangkat kembali ke ranah media, maka tulisan-tulisan itu akan tetap berdiam dalam kungkungan folder konsep dalam kondisi yang merana.
Itu kejadian yang berlangsung sekitar dua hingga tiga tahun yang lampau. Secara perlahan, tingkat keberanian saya mulai merayap naik.
Sepertinya sang editor agak keder menyaksikan perkembangan ini. Ia kelihatan mulai lebih sabar mendampingi saya.
Saya memang belum mampu sepenuhnya mengendalikan nafsu sang editor. Bagaimanapun saya tetap akan selalu mengharapkan jasanya mengedit tulisan-tulisan saya.
Namun setidaknya kini saya merasa sudah cukup mampu menjaga jarak aman dari kejarannya.
Dampak yang ditimbulkannya cukup melegakan dada. Frekuensi munculnya tulisan-tulisan saya di ranah publik semakin besar.
Blog yang Sedang Menggeliat
Folder konsep yang semula buncit pun mulai mengempis.
Satu demi satu penghuninya beranjak menuju persinggahan selanjutnya. Mereka mulai mengisi beberapa blog yang baru saya bangun beberapa bulan belakangan ini.
Konsep-konsep yang sekian lama terkungkung dalam folder itu sesekali menjadi dewa penolong bagi saya. Mereka menjadi penambal kekurangan materi blog karena produktivitas saya belum mampu memenuhi kebutuhan blog-blog yang dahaga konten itu.
Adakalanya saya tergoda untuk mendapatkan konten dari lapak para penjual tulisan yang tersebar di mana-mana. Atau memproduksinya secara massal memanfaatkan tool-tool pengganda tulisan yang semakin eksis di dunia maya.
Alhamdulillah, hingga kini saya masih istikamah mengisi blog dengan tulisan-tulisan yang sepenuhnya hasil kerja otak dan jemari tangan saya. Saya ingin blog yang saya bangun tidak sekadar menjadi sarana untuk mengejar page one.
Bukankah sebaik-baik manusia adalah orang yang paling banyak memberikan manfaat bagi sesama? Saya tidak berani mengatakan bahwa tulisan-tulisan saya berfaedah bagi pembaca. Bisa jadi hal itu masih sebatas angan-angan.
Namun, seandainya tujuan membagikan manfaat itu belum tampak, saya berusaha untuk tidak berkecil hati. Saya terus berupaya membesarkan perasaan saya dengan mengatakan kepada diri saya sendiri untuk terus melangkah dan memperoleh kemajuan demi kemajuan.
Seperti yang telah saya sampaikan, pada awalnya saya masuk ke kancah tulis-menulis tanpa tahu berada pada posisi yang mana. Mau masuk ke Zona Nekat tapi tak punya bekal nekat yang cukup.
Mau mengaku sebagai penghuni Zona Kritikus, lha wong pemahaman mengenai tulisan yang baik saja belum punya.
Zona Keunggulan? Ssstt, jangan kebablasan, dong. Ayam-ayam tetangga sudah pada bersiap-siap ngakak, tuh!
Zona yang satu lagi, tentu saja saya tak menginginkannya. Namun kalau dirasa-rasa, sepertinya Zona Lemas memang tempat yang paling pas. Mudah-mudahan saja saya bisa segera beranjak lepas.
“Tuan Editor yang berada dalam diri saya, tolong sabar, akan tiba waktu bagi Tuan untuk mulai bekerja.”