3 Cara Menghadapi Kritikan Pedas Ala La Tahzan

Dalam buku La Tahzan, Dr. ‘Aidh al-Qarni menyampaikan cara menghadapi kritikan pedas yang datang kepada kita. Apa saja saran al-Qarni?

Selaku makhluk sosial, manusia senantiasa melakukan berbagai hubungan sosial. Selain memunculkan peluang, hubungan-hubungan sosial juga mengandung risiko.

Salah satu risiko yang dihadapi setiap orang dalam kaitan dengan urusan ini adalah mendapatkan kritikan pedas dari orang lain.

Kritik memang bisa berdampak positif atau negatif, seperti makna yang disampaikan dalam KBBI. Kritik adalah kecaman atau tanggapan, atau kupasan kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya.

Jadi, selain berupa tanggapan, kritik juga bisa berbentuk kecaman.

Dunia tulis-menulis termasuk wilayah yang memiliki risiko besar memunculkan kritikan pedas. Seorang penulis yang melemparkan tulisannya kepada publik, tentu berharap mendapatkan respon positif dari masyarakat pembaca.

Namun yang terjadi tidak selalu sesuai harapan. Adakalanya sang penulis tidak mendapatkan pujian atau setidaknya masukan, melainkan kecaman.

Kecaman yang datang bisa terasa sangat pedas, bahkan tak jarang disertai ungkapan-ungkapan menjurus kasar dan di luar konteks tulisan.

Orang yang tidak siap menerima kritikan semacam ini biasanya menjadi depresi atau frustrasi. Semangat menulis yang awalnya berapi-api, bisa mendadak padam bak tersiram air hujan.

Kalau sudah begini, siapa yang rugi?

Baca juga anjuran untuk cermat memilih kata dalam menulis atau berbicara, sebab pemilihan kata yang keliru bisa berdampak buruk bagi kita.

Orang yang mengkritik secara kasar mungkin saja sekadar meluapkan emosi. Sesaat setelah melontarkan kritikan, bisa jadi ia segera melupakan kata kasar yang telah disampaikannya.

Sementara itu, orang yang terkena kritik harus menanggung dampak buruk yang bisa bertahan lama. Gagasan-gagasannya mandek akibat rasa cemas yang berlebihan. Potensi dirinya tak berkembang karena perkataan orang.

Agar kita tidak terpengaruh secara negatif oleh kritikan pedas, apalagi yang menjurus kasar, kita harus memiliki strategi yang baik untuk menghadapinya. Dalam salah satu bab dalam bukunya La Tahzan, Dr. ‘Aidh al-Qarni membahas beberapa cara meredam kritikan pedas yang tertuju kepada kita.

Cara Menghadapi Kritikan Pedas yang Patut Kita Cermati

Berikut ini 3 cara menghadapi kritikan pedas yang saya rangkum dari pendapat penulis asal Saudi itu.

1. Kuatkan jiwa untuk mendengar kritikan, cemoohan dan hinaan.

Bila kita merasa terusik dan terpengaruh oleh kritikan pedas, seakan-akan kita telah termakan oleh umpan yang disebarkan oleh pengkritik. Maka kita harus bisa menahan diri untuk tidak melontarkan balasan berupa kata-kata yang sama buruknya dengan yang disampaikan para pengkritik.

Bila kita tidak mampu menjawab kritikan pedas dan menyakitkan dengan ungkapan yang baik, lebih baik kita abaikan kritikan itu. Anggap saja sebagai angin lalu.

cara menghadapi kritikan pedas
Infografik cara menghadapi kritikan pedas

2. Menjawab atau merespon kritikan pedas dengan menunjukkan sikap yang baik.

Menurut al-Qarni, pada hakikatnya ucapan-ucapan menyakitkan yang disampaikan oleh pengkritik merupakan bentuk ungkapan penghormatan kepada kita. Semakin tinggi derajat dan posisi yang diduduki seseorang, semakin pedas pula kritikan-kritikan yang akan diterimanya.

Dengan menyadari hal itu, kita bisa menahan diri untuk tidak membalas kritikan pedas dengan kata-kata yang serupa dengan yang dilontarkan para pengkritik.

Jika memang harus menjawab kritikan itu, sampaikan dengan cara yang baik. Jika perlu, ucapkan terima kasih atas “masukan” yang mereka berikan kepada kita.

Baca juga ulasan mengenai banyaknya perpustakaan tak membuat tingkat literasi Indonesia membanggakan.

3. Memperbanyak kebaikan dan memperbaiki kesalahan yang telah kita lakukan

Kesalahan merupakan hal yang wajar dilakukan. Tidak ada seorang manusia pun yang tidak pernah berbuat salah.

Cara merespon kesalahan itu yang akan menentukan, apakah kita bisa belajar dari kesalahan atau tidak.

Al-Qarni memberikan sebuah perumpamaan “menyumpal mulut para pengkritik dengan potongan-potongan daging agar diam seribu bahasa”. Balasan terbaik bagi para pengecam adalah memperbanyak perbuatan baik, memperbaiki akhlak dan meluruskan kesalahan.

Implementasi “Rumus” al-Qarni

Dalam lingkup dunia tulis-menulis, kita bisa mengaplikasikan nasihat tersebut dalam tulisan-tulisan yang kita tayangkan di media.

Misalnya, kita bisa belajar lebih banyak agar bisa memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah kita buat. Kemudian hasil belajar itu kita gunakan untuk membuahkan karya-karya yang lebih baik dan memberi manfaat bagi pembaca.

Kadang-kadang timbul masalah lain. Pada zaman kini, sering kali kita sulit menentukan apakah sebuah pernyataan yang dikemukakan seseorang itu merupakan kritik yang membangun atau justru sebentuk perundungan.

Demikian banyak kata dan ungkapan yang telah berubah makna, atau maknanya sengaja disamarkan.

Maka, jalan satu-satunya untuk menghadapi kritik semacam itu seperti yang diungkapkan oleh Dr. ‘Aidh al-Qarni.

Mula-mula kita menguatkan hati untuk tidak terusik dengan kritikan itu. Berikutnya, kita jawab kritikan dengan cara yang baik dan dengan kalimat yang santun. Terakhir, kita jadikan kritikan yang tertuju kepada kita sebagai sebentuk tantangan untuk menghasilkan karya yang lebih baik.

Semoga kita mampu menghadapi kritikan pedas dengan cara santun.

Kalau ingin memperoleh banyak inspirasi dari buku ini, Anda bisa mendapatkan bukunya di sini.

Leave a Comment