Orang Bodoh Menjadi Penulis

Hanya orang bodoh yang mau menjadi penulis. Umumnya penulis tak bisa berharap mendapatkan penghasilan yang cukup dari kegiatan menulisnya.

Secara meyakinkan, Roald Dahl mengungkapkan keprihatinannya akan kondisi para penulis. Meskipun terasa meyakitkan, secara umum pernyataan novelis yang lahir di Wales itu sulit dibantah kebenarannya.

“A person is a fool to become a writer. His only compensation is absolute freedom. He has no master except his own soul, and that, I am sure, is why he does it.”

Begitulah pernyataannya yang bikin hati para penulis teriris-iris.

Memang, hanya orang bodoh yang mau menjadi penulis. Penulis tidak dapat berharap banyak bakal mendapatkan kompensasi yang layak, kecuali kebebasan semata. Dia tidak memiliki majikan selain jiwanya sendiri, dan saya yakin, itulah alasan seseorang menjadi penulis.

 

Kenapa, sih, tak ada angin tak ada hujan, penulis buku anak itu mengumbar kegelisahan soal kompensasi bagi penulis? Oh, rupanya ia membandingkan kehidupan (ekonomi) penulis dengan pebisnis.

“The life of a writer is absolute hell compared to the life of a businessman. The writer has to force himself to work. He has to make his own hours and if he doesn’t go to his desk at all there is nobody to scold him.”

Itulah sederet kalimat yang mengawali munculnya kemasygulan soal kompensasi yang diterima penulis. Kerja keras penulis tak mampu mendatangkan penghasilan yang memadai.

Apa yang Menjanjikan dari Profesi Penulis?

Kalimat yang disampaikan penulis novel Matilda itu seakan-akan menghina profesi penulis. Benarkah demikian?

Sekilas saya bisa mengatakan bahwa ucapan Roald Dahl itu benar adanya. Kalaupun ada penulis yang tidak sejalan dengan ungkapan ini, dalam arti penulis sukses yang memperoleh bayaran cukup, jumlahnya tak banyak. Jauh lebih banyak penulis dalam kondisi mengenaskan seperti yang digambarkan oleh pengarang buku yang meraih penghargaan Children’s Book Award itu.

Namun, ketika sudah mengetahui keadaan penulis bakal seperti itu, mengapa banyak orang mengidam-idamkan profesi yang tak menjanjikan ini? Bahkan, termasuk Roald Dahl sendiri?

Silakan baca tulisan tentang aktivitas menulis yang bisa menjadi beban sekaligus memunculkan kesenangan.

Pertanyaan ini langsung dijawab dalam lanjutan quote Dahl. Penulis yang lahir dari orang tua berkebangsaan Norwegia itu yakin, di luar kompensasi dalam wujud materi atau kehormatan, kebebasan merupakan sebentuk penghargaan yang tak lebih rendah nilainya.

Dengan kebebasan, penulis bisa menggaungkan suara hati. Selain mendapatkan perasaan dihargai, konon seseorang yang mampu mengungkapkan isi hati berarti telah mengobati luka jiwanya sendiri.

Namun, pertanyaan lanjutan telah mengantre di belakangnya, “Apakah benar kebebasan bakal didapatkan oleh seorang penulis?” Lebih-lebih lagi, penulis novel Charlie and the Chocolate Factory itu menggunakan istilah absolute freedom, seakan-akan penulis memiliki kebebasan mutlak.

Faktor-Faktor Penentu Kebebasan Penulis

Menjawab pertanyaan ini sangatlah sulit. Kita bakal menemukan seribu satu macam faktor yang dapat memengaruhi tingkat kebebasan penulis dalam menghasilkan karya mereka.

Tentu saja tak mungkin kita membahas semua faktor sebanyak itu. Kita hanya akan mengulas sebagian di antaranya.

Faktor pertama yang amat menentukan kebebasan menulis adalah jenis tulisan itu sendiri. Kita mengenal banyak jenis tulisan dilihat dari pelbagai sudut pandang.

Secara umum, karya tulis bisa dibedakan ke dalam golongan fiksi dan nonfiksi. Dengan melihat definisinya, kita bisa langsung membayangkan bahwa secara umum tulisan berjenis fiksi memiliki tingkat kebebasan lebih besar ketimbang tulisan nonfiksi.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), misalnya, memaknai fiksi sebagai cerita rekaan, atau tidak berdasarkan kenyataan. Tentu saja menulis cerita rekaan tidak harus mengikuti banyak aturan sebagaimana tulisan berlatar kenyataan.

Karakteristik tulisan fiksi yang demikian itu amat mendukung kebebasan menulis. Bahkan, kondisi itu acap dimanfaatkan oleh para penulis untuk mengkamuflase maksud sesungguhnya dari tulisan-tulisan yang mereka publikasikan.

Platform tulisan merupakan faktor lainnya yang berpengaruh terhadap kebebasan penulis dalam menuangkan gagasan-gagasan mereka. Sebagai contoh, jurnal ilmiah sudah tentu menyediakan kebebasan yang jauh lebih sedikit dibandingkan media sosial.

Selain kedua hal itu, masih bisa kita temukan sederet urusan yang bisa melapangkan atau menggerus kebebasan penulis mengungkapkan isi pikiran.

Bagaimana Orang Bodoh Memperoleh Kebebasan?

Nah, untuk mengurangi kemasygulan oleh kenyataan pahit kompensasi bagi penulis yang tak seindah gemerlap bintang di langit, kita bisa membayangkan sisi yang berbeda. Tak banyak profesi di dunia ini yang menawarkan kenikmatan yang bakal dirasakan para penulis.

Apa, sih, “kenikmatan spesial” bagi para penulis? Apa lagi kalau bukan perasaan bebas (dalam batas-batas tertentu) saat menuangkan gagasan ke dalam wujud tulisan?

Silakan baca juga ulasaan mengenai enaknya menjadi penulis tanpa keahlian khusus.

Dan, pada sisi yang lain, pernyataan Roald Dahl justru dapat menumbuhkan kebanggaan seorang penulis. Bukankah mantan pilot pesawat tempur semasa Perang Dunia II itu “mengapresiasi” kemandirian seorang penulis, yang mesti bekerja tanpa ketergantungan pada sosok bos cerewet yang terus memantau kerjanya dan mengomelinya bila ada yang tak beres?

Tentu bukan orang bodoh yang mampu mendapatkan kebebasan dalam aktivitas yang dijalankannya. Mestinya seseorang yang sanggup bekerja secara mandiri juga tidak tepat dimasukkan ke dalam golongan orang-orang bodoh, bukan?

Leave a Comment