Apa Arti Copas dan Bagaimana Cara Menghindarinya?

Copy paste alias copas adalah kebiasaan buruk yang harus dihindari karena merugikan diri sendiri dan orang lain. Bagaimana cara menghindari “tradisi” copas?

Saya pernah terperanjat ketika suatu ketika menemukan perdebatan “aneh” dalam sebuah grup diskusi daring. Topik yang dibahas dalam perdebatan itu terkait dengan masalah copy-paste tulisan dan bentuk-bentuk konten lainnya di situs internet.

Saya berpikir bahwa diskusi itu berjalan aneh lantaran adanya pandangan yang menganggap praktik copas sebagai kegiatan yang umum terjadi dalam dunia blogging. Bahkan, ada yang menganggap orang yang anti copas sebagai manusia tidak berwawasan.

Apa Arti Copas?

Arti copas atau copy paste dalam tulisan ini adalah pengambilan konten yang telah ditayangkan dalam suatu blog atau situs internet tanpa izin pemilik konten. Selain itu, pelakunya menerbitkan konten colongan tersebut dalam blog yang dikelolanya tanpa mencantumkan nama atau pranala (link) sumber.

Kembali ke perdebatan ganjil tentang copas.

Mula-mula seorang narablog (blogger) mengeluhkan adanya sebuah blog yang men-copas mentah-mentah artikel bikinannya yang ditayangkan dalam blog pribadinya. Orang yang melakukan praktik copas ini tidak meminta izin atau memberi kredit kepada pemilik artikel.

Silakan baca juga tulisan mengenai pengalaman menulis untuk memenuhi kriteria SEO.

Semula saya menduga semua orang bakal membela si penuntut dan merisak (bully) pelaku copas. Namun, yang terjadi adalah muncul pendapat-pendapat pro dan kontra atas lontaran keluh-kesah korban.

Si terduga pelaku awalnya tak menampakkan batang hidungnya lantaran di-mute oleh admin grup. Saya sempat berpikir bahwa ia sedang menyusun kalimat yang paling pas dan akan menyampaikannya sebagai bentuk permohonan maaf atas kekhilafan yang telah dilakukannya.

Namun, tidak demikian yang terjadi. Ketika untuk pertama kalinya nongol, si terduga menyampaikan ucapan yang membikin saya terlonjak kaget.

Bagai tersambar petir di siang bolong, saya benar-benar terkejut oleh ucapan-ucapan yang dilontarkannya dalam forum yang anggotanya kebanyakan narablog itu. Ada dua hal yang menyebabkan mulut saya ternganga lebar saking surprised-nya.

Hal pertama berkaitan dengan urusan copas-nya sendiri. Selama ini saya memang sudah mengetahui maraknya praktik copy paste dalam dunia blogging.

Namun melihat komentar sang pencopas—dan banyak komentar lainnya yang telah saya lihat sebelumnya—ternyata teknik copy dan paste sudah dianggap sebagai sebuah kelaziman dalam dunia internet. Tentu saja tidak semua orang berpandangan demikian.

Hal kedua yang dikatakannya lebih mencengangkan lagi. Sang penjiplak tak merasa malu melakukan perbuatan hina itu, bahkan ia cenderung “membanggakan” kelakuannya.

Benarkah Copas Adalah Bagian dari Internet Marketing?

Puncak “ketakjuban” saya terjadi kala si pencopas meledek orang yang melaporkan pencurian artikel yang dilakukannya. Ia menyebut pelapor sebagai “katak dalam tempurung”.

Menurut pendapat si pencuri konten, orang yang anti copas dan meributkan praktik copy paste adalah manusia yang tidak memahami perkembangan internet marketing. Luar biasa!

Ternyata, internet marketing itu kayak gitu, ya!

Silakan baca juga artikel yang mempertanyakan kebenaran semboyan “konten adalah raja”.

Saya sempat bertanya-tanya dalam hati, apakah pemahaman saya mengenai internet marketing selama ini keliru? Apakah saya termasuk binatang amfibi yang terjebak dalam batok kelapa seperti yang dikatakan oleh orang yang merasa dirinya paham ilmu pemasaran internet itu?

Sepertinya saya harus belajar lebih banyak lagi tentang ilmu internet marketing agar tidak keliru menerjemahkan dan mengaplikasikannya.

Meskipun telah terdesak oleh banyaknya kecaman, si terduga praktik copas masih terus berusaha membela diri. Ketika tak mampu berkelit lagi, ia mengatakan bahwa kejadian ini hanya merupakan sebuah kekeliruan kecil dan tak perlu diributkan.

Penyebab Timbulnya “Hobi” Copas

Kejadian yang telah saya ceritakan di atas bisa menjadi pelajaran berharga. Terdapat beberapa kemungkinan yang menyebabkan ada tukang copy paste yang tetap pede.

1. Tidak paham aturan plagiarisme

Komentar yang dilontarkan si pencopas terkait internet marketing mengindikasikan bahwa dirinya tidak memahami digital marketing yang sesungguhnya. Seorang digital marketer tentu saja harus melakukan kegiatan pemasaran dengan cara-cara yang baik.

Praktik copas tanpa hak merupakan bentuk plagiarisme.

Plagiarisme terjadi dalam berbagai bentuk, salah satunya berwujud tulisan. Plagiarisme tulisan muncul ketika seseorang mengakui tulisan orang lain sebagai tulisannya sendiri.

Kita telah mengetahui bahwa plagiarisme merupakan tindakan amat tercela karena melanggar hak kekayaan intelektual.

2. Terlalu mengikuti hawa nafsu

Jika ternyata sang penjiplak “kura-kura dalam perahu” dalam urusan plagiarisme, maka kemungkinan kedua ini yang tengah menghinggapi dirinya. Nafsu yang menyelubungi dirinya bisa berwujud ketenaran, cuan, dan sebagainya.

Nafsu yang tidak dibarengi dengan kemampuan memadai—dalam hal ini kemampuan menghasilkan konten berkualitas–berpeluang menjadi pendorong pelanggaran.

Didorong oleh nafsu yang demikian, secara sadar ia melakukan pencurian konten. Bayangan hasil yang bakal diperolehnya, entah berwujud materi atau bentuk lainnya, lebih besar ketimbang risiko yang dihadapinya.

Cara Menghindari Kebiasaan Copy Paste

Berdasarkan penyebabnya, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menghindarkan diri dari kebiasaan melakukan praktik copas.

1. Memahami konsekuensi plagiarisme

Hal pertama yang harus kita sadari adalah copas dan plagiarisme merupakan tindakan melanggar hukum. Perbuatan ini bisa merugikan orang lain, yakni orang yang memiliki hak atas materi yang dicuri.

Dengan memahami bahwa melakukan copy paste dapat merugikan orang lain, sudah seharusnya kita berupaya meninggalkan perbuatan semacam itu. Apalagi orang yang melakukan perbuatan ini juga bisa dituntut secara hukum.

copas adalah tindakan buruk, ini 3 cara menghindarinya
Ilustrasi 3 cara menghindari copas

2. Membangun motivasi dan kemampuan menulis

Faktor motivasi memegang peranan penting dalam upaya kita menghindar dari kebiasaan melakukan copas. Coba kita tanyakan lagi kepada hati kita masing-masing, apa sebenarnya motivasi utama ngeblog.

Salah satu “jurang” yang bisa menggelincirkan kita adalah motivasi ngonten yang semata-mata untuk mencari uang. Berhati-hatilah bila jenis motivasi ini terlalu menguasai batin Anda.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan keinginan mendapatkan penghasilan berupa materi dari karya kita. Menulis bisa menjelma sebagai ladang penghasil uang yang dapat diandalkan.

Namun, masalah akan muncul ketika kita menggunakan prinsip “asal mendatangkian fulus”.

Kemungkinan yang akan terjadi adalah kita mencari ceruk (niche) yang berpeluang besar menghasilkan cuan, tak peduli kita berminat dan memahami bidang itu atau tidak. Lalu, kita menggarap ceruk itu dengan pelbagai cara.

Ketidakmampuan kita menghasilkan karya orisinal dalam “ceruk basah” yang sebenarnya tidak dalam penguasaan kita, bakal membuka peluang kita mencomot konten milik orang lain. Kan, yang penting cuan.

Silakan baca juga ulasan mengenai cara menulis tanpa memiliki keahlian khusus.

3. Menurunkan standar kualitas konten

Keinginan untuk (selalu) menghasilkan konten yang sempurna merupakan pendorong untuk giat belajar dan berlatih. Namun, hasrat seperti itu juga bisa berbelok arah menjadi “pembisik” yang berbahaya.

Jika kita tidak mampu mengendalikan keinginan itu dengan semestinya, ia bisa membawa kita mengambil jalan pintas.

Salah satu jalan pintas itu berbentuk copas. Karena kita menginginkan konten berkualitas tinggi, sementara kemampuan kita tidak mampu mengikuti, maka praktik copy paste akan menjelma sebagai godaan yang amat menggiurkan.

Bagaimana tidak. Copas tidak membutuhkan upaya keras, tetapi hasilnya jelas. Maka, kita perlu waspada terhadap “bahaya laten” copas. Waspadalah!

Ibarat berkendara. Lebih baik melalui jalur lambat dengan dengan kemampuan sendiri daripada melaju kencang di jalur cepat menggunakan mobil hasil curanmor. Betul nggak, sih?

Nah, itulah beberapa penyebab orang terdorong melakukan praktik copy paste yang merugikan serta langkah-langkah agar kita tidak memiliki kebiasaan buruk tersebut. Bagaimanapun, copas adalah perbuatan tercela dan seyogianya kita tidak melakukannya.

Leave a Comment