Tips Menulis, Antara Teori dan Praktik

Kumpulan tips menulis menumpuk di laptop saya. Sekian lama saya mengumpulkan tips-tips itu, dan hanya sebagian kecil yang telah saya praktikkan.

Saya sering bertemu dengan hambatan menulis yang banyak disebut orang sebagai writer’s block. Sejak itu saya rajin mencari dan mengumpulkan tips-tips yang berkaitan dengan kegiatan menulis.

Berbagai macam tips menulis telah terkumpul. Ada yang membahas cara-cara mendorong motivasi menulis, ada yang mengupas teori-teori menulis yang baik, dan segala macam urusan dunia tulis-menulis.

Tak ingat lagi saya, berapa jumlah artikel yang telah saya himpun. Materi-materi itu kini tersimpan dalam beberapa folder di laptop saya.

Saat menelusuri banyak situs bertema menulis, semangat menggebu-gebu selalu bergaung dari dalam diri saya. Pun ketika saya mendapatkan sekian banyak tulisan yang menarik perhatian saya, dan kemudian saya menyimpannya.

Semangat saya mengumpulkan bahan bacaan itu saya maksudkan sebagai bekal mencari inspirasi tentang dunia kepenulisan. Awalnya saya memang mencari dan “menimbun” artikel sebanyak-banyaknya, mumpung banyak tersedia tulisan-tulisan yang bisa saya dapatkan secara cuma-cuma.

Selama ini, saya asyik menghimpun tulisan-tulisan yang saya anggap memiliki nilai yang kelak akan menambah kemampuan saya menulis. Selain itu, saya juga berburu pengetahuan dalam bentuk lain, seperti buku-buku elektronik dan kursus-kursus daring.

Tabiat Kemaruk yang Berdampak Buruk

Apa yang kemudian terjadi? Banyak artikel dan buku elektronik yang belum sempat saya sentuh. Bahkan, ada juga sedikit kursus kepenulisan—termasuk kursus yang menyangkut pengembangan bisnis—terlewat karena saya lupa mencatat agendanya.

Bahkan, saya pernah “ditegur” oleh seorang penyelenggara kursus gara-gara tidak hadir dalam kursus daring yang diadakannya. Padahal jauh-jauh hari saya telah mendaftarkan diri, dan sang admin telah mengingatkan saya hampir setiap hari.

Saya merasa malu dan tak enak hati. Sudah disediakan pengetahuan yang bisa saya dapatkan dengan cuma-cuma, eh saya malah abai, seakan-akan tidak peduli.

Menyadari kekeliruan tersebut, saya menjadi lebih berhati-hati dalam kesempatan berikutnya. Kini saya tak lagi kemaruk mendaftar semua tawaran kursus meskipun saya tak harus mengeluarkan sepeser pun biaya.

Saya memilih-milih kursus atau pelatihan yang sekiranya memang benar-benar saya butuhkan. Tentu saja, saya pun mempertimbangkan waktu penyelenggaraannya, apakah memungkinkan bagi saya mengikutinya secara penuh.

Terkait materi-materi yang telah saya himpun selama ini, sedikit demi sedikit saya bongkar file-nya dan saya pelajari isinya. Bagian artikel yang dapat dipraktikkan sebisa mungkin segera saya terapkan, meskipun hanya menghasilkan konsep yang tidak tuntas.

Tulisan ini pun merupakan wujud kesadaran diri saya untuk mengamalkan ilmu yang telah saya dapatkan. Satu artikel yang saya tulis ini mewakili banyak program yang telah saya canangkan, di antaranya program nggak nulis ya nggak ngopi dan menulis minimal seribu kata dalam sehari.

Tips Menulis Paling Sederhana di Dunia

Mulanya saya merasa kemampuan menulis saya telah berada pada tahap yang cukup meyakinkan. Keyakinan ini mendorong saya berpikir dan berusaha keras untuk (selalu) menghasilkan tulisan-tulisan berkualitas.

Ternyata, penilaian diri yang terlalu tinggi menyebabkan saya kehilangan produktivitas. Kekhawatiran akan “tidak sempurna”-nya tulisan-tulisan saya telah membawa saya nyaris tidak menghasilkan apa-apa dalam waktu yang cukup lama.

Setelah siuman dan sadar diri, kini saya belajar lagi dari awal. Saya tengah berusaha keras mengembalikan dan bila memungkinkan menambah produktivitas dengan menghasilkan karya-karya tulisan berikutnya.

Sembari masih terus mencari-cari ilmu yang bisa menambah motivasi dan keterampilan menulis, perlahan-lahan saya mulai bisa menjaga kontinuitas menulis. Terbukti, dalam beberapa minggu terakhir—kecuali hari Minggu yang telah saya tetapkan sebagai hari libur menulis—saya selalu mampu mencapai target penulisan yang telah saya gaungkan.

Hasil ini kembali meyakinkan saya akan kebenaran teori yang disampaikan oleh beberapa praktisi menulis, di antaranya Mark Levy dan Hernowo. Secara umum, mereka menyatakan bahwa kebiasaan paling baik untuk menjadi seorang penulis yang produktif adalah melakukan praktik menulis.

Seperti juga Kuntowijoyo dengan ungkapan legendarisnya, “Menulis, menulis dan menulis.” Kalau orang sono mungkin bilang begini, “Practice makes perfect.”

Jadi, barangkali saya tetap akan mengumpulkan bahan-bahan pelajaran tentang motivasi dan teknik menulis. Namun, saya juga akan berupaya mengimplementasikan tips menulis paling sederhana yang pernah saya kenal, yakni menulis, menulis, dan menulis.

Leave a Comment