Jangan mencari kesempurnaan, sebab upaya itu akan berakhir sia-sia. Lebih baik gunakan waktu yang berharga untuk belajar dan menulis sesuai kemampuan kita.
Sering kali perasaan ragu-ragu menyelinap ke hati ketika membuka laptop untuk mulai menuangkan gagasan di kepala menjadi sebentuk tulisan.
Berbagai pertanyaan langsung bergelayut dalam benak saya. Salah satu di antaranya, apakah saya akan mampu menghasilkan karya yang memuaskan pembaca?
Pikiran semacam itu biasanya akan seketika meredupkan hasrat menulis yang sebelumnya menggebu-gebu.
Maka, aplikasi Miscrosoft Word yang telah terbuka di depan mata pun tak segera terisi apa-apa. Barangkali hanya kursor yang berkedip-kedip akan menghiasi lembarannya.
Bila pun sempat mengetik judul dan beberapa kalimat pembuka, jari-jari tangan akan segera berhenti menari-nari tatkala pikiran tentang kesempurnaan kembali mencuat ke permukaan. Alhasil, saya akan mengalihkan energi untuk berselancar merayapi berita aktual atau sekadar mencari hiburan sebagai pengalihan semata.
Sebuah kondisi yang selalu memenjarakan kreativitas dan produktivitas telah lahir kembali.
Bayangan akan buruknya kualitas hasil karya yang akan saya hasilkan telah memunculkan seonggok rencana abadi. Dan rencana abadi itu tersimpan rapi pada folder bernama “Konsep” yang kini telah beranak pinak menjadi beberapa seri.
Sadarlah, Wahai Penulis Pemula!
Acap kali saya merasa malu pada diri sendiri.
Benarkah saya telah menjelma sebagai seorang penulis jempolan? Sedemikian jempolannya hingga harus merasa ketakutan bila tulisan yang saya hasilkan tidak akan menyenangkan hati pembaca?
Padahal telah cukup banyak saya membaca tulisan-tulisan para ahli dan praktisi menulis yang jelas-jelas memberi saran bagi penulis pemula untuk menulis saja sebanyak-banyaknya.
Mengapa saya malah terjebak menghabiskan tenaga dan pikiran, berusaha memproduksi tulisan yang selalu berkualitas tinggi? Dan akhirnya kerap dihantui oleh ketakutan sendiri?
Sepertinya tulisan berkualitas belum menjadi ranah saya, deh. Saya mesti tahu diri.
Tahapan yang seharusnya saya lalui masih dalam urusan kuantitas, belum sampai pada tataran terlampau memikirkan kualitas.
Usai menyadari hal itu, maka saya menulis artikel ini sebagai salah satu upaya saya menempatkan diri pada posisi yang semestinya. Yakni posisi yang mengharuskan saya berupaya keras untuk menghasilkan sejumlah tulisan, dan tidak terlalu menyibukkan diri membayangkan hasil yang berkualitas tinggi.
Barangkali, sasaran realistis yang mungkin bisa saya raih dalam waktu dekat ini belum beranjak dari sisi volume. Sepertinya saya masih harus mengejar jumlah karakter dan banyaknya kata yang saya torehkan di program-program pengolah kata.
Mengapa Kita Boleh Salah dan Tak Harus Mencari Kesempurnaan?
Writetodone.com pernah menayangkan sebuah artikel yang mengupas kesempurnaan. Dalam salah satu bagian tulisan dimaksud, sang penulis menyatakan sebuah ungkapan yang cukup menarik, yakni “kesalahan adalah kesempatan”.
Dengan kerangka berpikir demikian, kita dianjurkan untuk tidak takut berbuat salah, sebab kesalahan bukanlah sebuah masalah. Atau bisa juga dimaknai bahwa kita tidak perlu selalu mengejar kesempurnaan.
Kesalahan justru bisa mendatangkan keuntungan. Dengan membuat suatu kesalahan, maka kita telah membuka satu atau beberapa kesempatan.
Kita akan belajar dari kesalahan yang telah kita perbuat. Kekeliruan itu akan menuntun kita menuju langkah-langkah perbaikan yang dapat kita upayakan, agar pada masa mendatang kita tidak lagi melakukan kesilapan yang sama.
Bahkan, ketika seseorang masuk penjara karena telah berbuat suatu kesalahan, ia tetap akan mendapatkan keuntungan. Dengan menghuni penjara, ia akan beroleh “waktu luang” yang mungkin tak didapatkannya kala hidup bebas.
Jadi, masihkah kita merasa jeri bakal membuat kesalahan, atau ciut hati lantaran tidak mencapai kesempurnaan?
Fokuslah Menulis, Jangan Mencari Kesempurnaan
Nah, untuk tahap awal ini, saya masih akan memacu diri untuk mencapai target menulis seribu kata dalam sehari. Tak terlalu peduli mutunya bakal seperti apa, dan juga tak hirau saya akan mampu mencapai sasaran itu dalam berapa banyak (konsep) tulisan.
Dalam menjalankan agenda ini, saya menggunakan metode freewriting atau menulis bebas. Salah satu panduan yang telah saya pelajari dan saya terapkan adalah teknik menulis cepat dan terus-menerus yang dipaparkan oleh Mark Levy.
Untuk hari ini, sampai dengan saat ini, saya kira saya telah mengetik tak kurang dari 700 kata dalam dua tulisan. Jadi, saya optimis dapat melalui hari ini dengan mencapai target seribu kata yang telah saya canangkan.
Meskipun demikian, rasanya saya belum akan segera bangkit dari rasa khawatir akan buruknya kualitas tulisan yang saya hasilkan. Saya belum berpikir untuk menerbitkan atau menayangkan tulisan ini, juga beberapa konsep artikel yang saya tulis beberapa waktu lalu.
Sebelum tiba pada keputusan untuk menyajikan tulisan-tulisan tersebut kepada khalayak, tentu saja saya harus menggandeng “editor” dalam diri saya. Ia harus bersiap diri untuk bekerja keras memperbaiki tulisan yang mungkin sangat tidak layak untuk dipublikasikan.
Sungguh berat menahan diri untuk untuk tidak segera menghitung posisi terakhir jumlah kata yang telah saya guratkan. Tak bisa saya mungkiri, target yang saya canangkan telah membebani pikiran saya.
Saya ingin segera menuntaskan sisa kata-kata yang harus saya tik di layar komputer. Adakalanya gangguan untuk menelusuri tugas-tugas lain, atau mengakses hiburan, terlalu sulit diabaikan.
Perangkat untuk Mengunci Perhatian
Terdapat pelbagai cara untuk menjaga fokus pada tugas di hadapan kita. Ada yang mengandalkan kemampuan dirinya semata, ada pula yang memanfaatkan program-program komputer untuk membantu mengendalikan perhatiannya agar tak mengembara ke mana-mana.
Bahkan, tak jarang orang melakukan hal-hal ganjil.
Misalnya, ada seorang penulis yang sengaja menutup matanya saat menorehkan kata-kata, agar hati dan pikirannya tidak tergoda untuk segera mengoreksi tulisan yang belum diselesaikannya. Itulah gaya menulis bebas yang dilakukannya.
Belum lama ini saya mengenal sebuah alat yang bisa berperan mengerem keinginan berpaling dari proyek yang sedang kita jalankan. Perangkat dalam komputer ini akan mengunci aplikasi-aplikasi komputer lainnya yang tidak sedang kita perlukan.
Ketika kita sedang menulis, dengan mengacu pada sasaran tertentu, peranti ini mematikan program-program lain hingga kita mencapai target yang kita canangkan. Kalaupun harus mencari referensi dan perkara-perkara lainnya, lakukan di luar “jam kerja” yang telah kita tetapkan.
Jadi, dengan mengaktifkan sarana ini, kita tidak akan terganggu oleh urusan-urusan yang hanya akan mengalihkan perhatian kita dari fokus menyelesaikan tugas yang tengah kita emban. Jadi, kita akan menghabiskan waktu yang lebih sedikit karena kita memusatkan perhatian pada proyek yang harus segera kita bereskan.
Pencipta alat ini menamai hasil karyanya dengan sebutan yang lumayan aneh, Cold Turkey Writer. Perangkat ini bekerja pada Mac dan Windows. Sedangkan untuk sistem komputer yang berbeda barangkali tersedia perangkat lunak lain yang berfungsi serupa.
Menggunakan program yang cuma-cuma saja, saya telah merasakan manfaatnya. Apalagi kalau bersedia membayar harga versi komplitnya.
Dalam kasus yang tengah saya hadapi, tujuan yang cocok adalah target jumlah kata. Dengan menggunakan CTW, setidaknya saya harus mengetik sejumlah kata agar program-program lainnya bisa terbuka dan berfungsi kembali seperti sedia kala.
Sebuah tantangan yang tidak gampang dilalui, bukan? Apalagi jika kita masih terus berpikir dan mencari kesempurnaan.