Banyak jenis layanan Pos Indonesia tinggal kenangan. Pada masanya, wesel pos adalah produk favorit mahasiswa perantauan.
Hari ini merupakan Hari Bhakti Postel. Saya mengingat bahwa pelbagai jasa yang berhubungan dengan pos telah menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia.
Baru dua hari yang lalu seseorang menceritakan tentang keseruan menerima Kartu Lebaran setiap menjelang Idul Fitri. Ia membayangkan suasana Lebaran masa silam dengan taburan kartu-kartu ucapan “Selamat Idul Fitri” dalam bentuk Kartu Pos.
Pikirannya yang melayang jauh ke masa lampau dipicu oleh pesan-pesan yang baru diterimanya dari rekan-rekan dan kolega-koleganya. Pesan-pesan itu diterimanya dalam bentuk digital yang dikirim secara daring.
Tentu saja kisah Kartu Lebaran itu terjadi pada masa lalu.
Silakan baca artikel yang membahas rasa takut yang bisa menjelma sebagai hambatan menulis.
Anak-anak generasi digital yang mendengarnya mungkin akan terlihat tanpa ekspresi. Jangankan membayangkan hebohnya membaca pesan-pesan Lebaran dalam aneka bentuk kartu, membayangkan wujud Kartu Pos saja sepertinya mereka tak mampu.
Anak-anak memang hidup pada zaman yang serba digital dan daring. Sungguh berbeda dengan kami yang pernah merasakan kejayaan era manual.
Cerita tentang Kartu Lebaran telah memicu minat saya untuk kembali menelusuri berbagai layanan yang diberikan oleh sebuah badan usaha yang pada zaman dahulu kala memiliki sebutan lengkap Kantor Pos dan Giro itu.
Kebetulan pula sebuah catatan pada kalender dinding saya menunjukkan bahwa tiga hari kemudian merupakan Hari Bhakti Postel.
Beberapa Jenis Layanan Pos Indonesia telah Berubah
Sudah lama sekali saya hampir tak pernah berhubungan dengan pelbagai jenis layanan Pos Indonesia. Ketika saya membuka situs resmi milik instansi negara ini, saya mendapati banyak layanan yang cukup asing bagi saya.
Sebagian produk mereka masih bertahan dengan nama-nama yang sudah sangat akrab di mata dan telinga. Misalnya saja Pos Kilat Khusus dan Pos Jumbo Ekonomi.
Namun banyak pula layanan kekinian. Sebagian menggunakan istilah-istilah yang dicomot dari bahasa asing, dan sebagian lainnya sepertinya memanfaatkan kepopuleran bahasa gaul anak-anak milenial. Contohnya Z9 Sameday Service, QComm, QPosin Aja, dan Pospay.
Saya mencoba menduga-duga jenis produk Posindo dengan nama-nama yang masih samar itu. Dan saya berusaha membandingkannya dengan pelbagai layanan yang pernah saya nikmati sekira belasan tahun lampau.
Hari Bhakti Postel: Nostalgia dengan Produk Kantor Pos
Layanan Kantor Pos, sebutan lama untuk Pos Indonesia, cukup akrab dengan kehidupan saya terutama ketika saya berstatus mahasiswa hingga masa awal bekerja pada sebuah perusahaan.
Faktor jarak antara domisili saya dengan kampung halaman tempat kediaman orangtua menjadi alasan keakraban saya dengan layanan pos. Selain itu, kegemaran saya menulis menjadi alasan lainnya.
Berikut ini empat kisah nostalgia saya dengan produk-produk keluaran Kantor Pos.
1. Kartu Pos
Produk yang satu ini notabene merupakan produk pos pertama yang saya kenal.
Ketika berusia sekolah dasar, saya memanfaatkan kartu yang standarnya berwarna oranye itu untuk mengirimkan jawaban Teka Teki Silang (TTS) ke redaksi sebuah majalah anak-anak. Kartu pos telah membantu saya untuk pertama kalinya mendapatkan hadiah dari sebuah majalah.
Hadiah berwujud sepasang sepatu sekolah berwarna hitam menjadi kenangan indah, mengingatkan saya akan dua hal yang pernah saya miliki.
Pertama, saya harus mengakui bahwa saya cukup pintar hingga bisa menjawab dengan benar semua soal TTS. Kedua, saya pernah menjadi anak yang beruntung lolos dari undian dan menjadi salah satu pemenang TTS.
Belakangan saya baru menyadari bahwa kondisi kedua sepertinya lebih masuk akal sebagai alasan saya bisa mendapatkan sepatu hitam itu.
Kartu pos juga sering digunakan sebagai sarana promosi tempat-tempat rekreasi atau kegiatan-kegiatan tertentu. Gambar-gambar lokasi wisata yang eksotis banyak menghiasi kartu-kartu ini.
Selain itu, kartu yang dibuat dengan kertas tebal ini bisa menjadi “alat pamer” melalui foto-foto suatu tempat di negara-negara tertentu. Dengan berkirim kartu pos semacam itu, seakan-akan sang pengirim hendak mengatakan, “Aku sedang berada di sini, lho!”
Kini saya tidak menemukan lagi produk Kartu Pos sebagai salah satu jenis layanan Pos Indonesia. Sepertinya, kartu-kartu ini sekarang lebih banyak berdiam diri sebagai penghuni museum atau koleksi pribadi.
2. Pos Kilat Khusus
Saya membutuhkan layanan ini untuk mengirimkan tulisan-tulisan saya ke surat kabar dan majalah. Meskipun frekuensinya tidak banyak, tetapi melalui kegiatan tulis-menulis saya mengenal produk pos yang satu ini.
Layanan ini meyakinkan saya bahwa naskah-naskah saya akan tiba di meja redaksi tepat waktu dan dalam keadaan “selamat”.
Seingat saya, dulu ada produk bernama Surat Tercatat. Saya tidak begitu paham, apakah ini memang nama produk resmi Kantor Pos atau istilah yang disebut-sebut dalam obrolan saja.
Di situs posindonesia.co.id, saya tak menemukan jenis layanan ini.
3. Wesel Pos
Saya meyakini bahwa Wesel Pos merupakan produk Kantor Pos yang memberikan kenangan paling indah. Kenangan tak terlupakan terjadi saat saya berada di bangku kuliah di kota Yogyakarta.
Apakah Anda mengira bahwa saya rutin mendapatkan kiriman uang dari orangtua melalui sarana ini?
Sayang sekali perkiraan Anda keliru. Orangtua saya tidak pernah mengirimi saya Wesel Pos. Bukan karena mereka pelit atau tidak sayang kepada anak.
Bapak saya tidak membutuhkan layanan pos untuk memenuhi kebutuhan keuangan saya.
Setiap dua atau tiga minggu sekali saya pulang menjemput “nafkah” ke kampung halaman. Saya hanya membutuhkan waktu kurang dari dua jam perjalanan menggunakan bus antarkota untuk sampai ke sana.
Sebelum berkembangnya era perbankan modern dan produk-produk keuangan digital, Wesel Pos menjadi andalan para pengelola surat kabar dan majalah untuk mengirimkan honor tulisan kepada para penulis. Saya termasuk kontributor yang pernah merasakan manisnya menerima “upah mengetik” melalui sarana pos ini.
Dibandingkan dengan Pos Kilat Khusus, tentu saja frekuensi penggunaan Wesel Pos jauh lebih sedikit. Sebabnya sudah jelas, proporsi tulisan yang dimuat di koran atau majalah sangat kecil dibandingkan jumlah naskah yang saya kirimkan.
Untuk masa kini, saya melihat ada layanan bernama Posgiro Mobile. Ini merupakan produk kekinian dalam wujud aplikasi Android.
Dalam program ini terdapat fitur Wesel Instan, dan salah satu fungsinya sebagai sarana untuk mengirimkan uang.
Silakan baca tulisan mengenai kondisi literasi Indonesia yang mengenaskan di tengah banyaknya perpustakaan.
4. Kartu Lebaran
Menjelang hari raya Idul Fitri, Kantor Pos zaman lampau akan terlihat sangat sibuk. Lalu lintas pengiriman ucapan meningkat tajam.
Kala itu memang ucapan-ucapan “Selamat Idul Fitri” dan semacamnya masih berbentuk kertas persegi kira-kira seukuran Kartu Pos, isinya ditulis tangan atau bisa juga di-print.
Kartu Lebaran dihiasi dengan berbagai gambar, umumnya gambar masjid atau tulisan kaligrafi. Ada kartu yang menyertakan ucapan yang telah tercetak, ada pula yang menyerahkan penulisan ucapannya kepada masing-masing orang.
Setelah dibubuhi perangko secukupnya, kartu-kartu ini segera menumpuk di Kantor Pos, membikin sibuk para pekerja di sana.
Kartu Lebaran sendiri menjadi salah satu bentuk kreativitas orang pada saat itu. Banyak orang yang mempunyai usaha pembuatan kartu ini karena permintaannya sangat tinggi.
Sekarang, kartu-kartu ini mungkin tinggal menjadi memori, seperti yang telah saya ceritakan pada awal tulisan ini.
Itulah beberapa produk Kantor Pos yang meninggalkan kenangan cukup mendalam. Produk-produk yang kini telah berubah wujud dan kemasan mengikuti perkembangan zaman.
Selamat Hari Bhakti Postel. Semoga bakal muncul lagi jenis layanan Pos Indonesia yang kembali berjaya.