Menebak Arah Hubungan Sastra dan Kecerdasan Buatan

Hubungan antara sastra dan kecerdasan buatan masih menjadi perdebatan. Apakah proses kreatif para sastrawan bakal dipengaruhi oleh kehadiran AI?

Tak sedikit warga mengungkap rasa gembira ketika kecerdasan buatan yang biasa disebut  artificial intelligence (AI) tiba. Segepok kenyamanan bakal mereka rengkuh dari rezeki nomplok berwujud mesin cerdas yang siap membantu manusia menyelesaikan pelbagai pekerjaan.

Hanya berbekal sekalimat permintaan, sebentuk karya bakal segera tiba dan siap ditayangkan. Apa pun pinta Anda, mau puisi, cerita pendek, atau cerita panjang, dengan senang hati AI akan menyodorkannya bagi Anda.

Mesin pintar itu bekerja dalam sedetik dua detik saja, sehingga Anda tak perlu menunggu lama. Mau sepuluh puisi atau dua ratus prosa, AI tak akan kehabisan daya.

Silakan baca juga tulisan yang membahas tentang cara menulis untuk orang malas.

Berkat AI, dunia sastra tak bakal kekurangan kata. Perbendaharaan yang tersimpan dalam kantung data mereka bukannya berkurang setiap kali digunakan, malah semakin bertambah.

Di lain pihak, pandangan kontra juga banyak jumlahnya. Dengan keresahan di dada, para penentang berusaha mengadang laju AI agar tak makin menyebar ke sana kemari.

Bagi mereka, kecerdasan buatan hanyalah mesin yang bekerja tanpa jiwa. Ketika kita menyerahkan proses produksi karya-karya sastra kepada mesin-mesin tak berjiwa, maka kita hanya akan beroleh untaian kata tanpa makna dan kandungan rasa.

Sejauh Mana Kecerdasan Buatan “Mengacak-acak” Dunia?

Teknologi AI telah merambah ke pelbagai bidang kehidupan. Dunia kesehatan, pendidikan, perdagangan, dan perbankan adalah contoh bidang-bidang kehidupan yang telah dijelajahi pasukan robot cerdas.

Dalam bidang kesehatan, kecerdasan buatan berperan antara lain sebagai perawat digital yang selalu siaga melayani pasien. Ia mengingatkan pasien ketika harus makan, minum obat, berolah raga, dan melakukan kegiatan-kegiatan lainnya.

Artificial intelligence, dalam dunia pendidikan, menjelma sebagai guru digital yang akan mengingatkan siswa untuk mengerjakan tugas-tugas yang harus diselesaikannya. Ia juga dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi tingkat pemahaman siswa akan suatu pelajaran sehingga pihak sekolah tidak keliru memberikan materi yang harus dipelajari.

Bidang perdagangan pun tak luput dari “campur tangan” kecerdasan buatan. Telah banyak perusahaan perdagangan yang “mempekerjakan” AI sebagai tenaga analis guna memberikan masukan tentang kecenderungan pasar, peluang bisnis dan strategi yang tepat untuk ekspansi.

Dalam bidang perbankan, AI bakal menggantikan peran mbak-mbak Customer Service melayani para nasabah. Para pelanggan bisa bertanya tentang produk-produk dan ketentuan-ketentuan yang berlaku, termasuk minta disediakan rekening koran, dan sebagainya.

Bagaimana dengan sastra?

Dunia sastra juga tak sanggup menolak kehadiran kecerdasan buatan. Manusia telah menghasilkan jenis AI yang pandai mengarang cerpen dan puisi.

Berikut ini bait terakhir dari tujuh bait puisi tentang Kecerdasan Buatan karya salah satu AI bernama ChatGPT atas permintaan saya:

Jadi mari kita berjalan bersama, dengan kebijaksanaan dan wawasan,

Menggunakan Kecerdasan Buatan untuk menciptakan dunia yang lebih baik.

Dengan etika sebagai kompas, kita akan selalu terarah,

Kecerdasan Buatan, dalam perjalanan kita, tetaplah bercahaya.

Hal-hal yang berkaitan dengan keindahan dan kualitas karya-karya sastra bikinan AI bersifat relatif. Tidak ada angka mutlak yang bisa menilai bagus tidaknya sebuah karya sastra.

Lantas, akankah kita menyerah pada “pendudukan” kecerdasan buatan dalam dunia sastra?

Seperti Apa Hubungan Sastra dan Kecerdasan Buatan?

Kekhawatiran akan pengaruh buruk AI dalam jagat sastra terutama berpotensi terjadi dalam proses menghasilkan karya. Pada tahap ini, campur tangan kecerdasan buatan bisa menggembirakan atau menyedihkan.

Artificial Intelligence dapat membantu seorang sastrawan menemukan gagasan. Seperti kita ketahui, AI telah menghimpun data yang amat besar hingga bisa dijadikan lumbung ide bagi siapa pun yang tengah mencarinya, tak terkecuali para penganggit karya sastra.

Mesin kecerdasan itu pun merupakan ladang referensi yang bisa bikin badan kita pegal-pegal saat menelusurinya lantaran banyaknya informasi yang dikandungnya. Dan, sang mesin cerdas bisa diandalkan untuk menyediakan rujukan yang kita butuhkan dengan kepandaian memilah-milah yang telah ditanamkan ke dalam “otak”-nya.

Silakan baca juga tulisan yang mengulas enaknya menjadi penulis di era digital.

Maka, dari segi kecepatan, kita bisa berharap banyak pada kecerdasan buatan. Selain kecepatan, kemampuan berproduksi secara massal yang dimiliki AI bisa sangat berarti.

Namun, proses pembuatan karya sastra tidak hanya berkaitan dengan kecepatan berproduksi. Ada hal lain, yang bisa jadi merupakan faktor paling penting dalam produk sastra, yakni pemberian makna dan rasa ke dalam karya sastra.

Kecerdasan buatan, dalam hal ini ChatGPT sebagai contohnya, telah mengakui dirinya lemah dalam urusan ini.

Menilik cara kerja AI, kita patut merenung lagi. AI menyandarkan kemampuannya pada instruksi-instruksi yang diterimanya ketika belajar dan data-data yang masuk ke dalam perbendaharaan informasi yang dihimpunnya. Dengan cara kerja seperti itu, hasil karya yang dibuatnya bakal sangat bergantung pada input-input yang diserapnya.

Proses Kreatif Sastrawan: Mungkinkah Ada Intervensi AI?

Ketika ada intervensi AI ke dalam dunia sastra, tahap yang paling mungkin disusupi adalah proses berkarya para sastrawan. Setiap sastrawan memiliki cara berproses yang berbeda-beda satu dengan yang lainnya.

Proses kreatif beberapa sastrawan dalam menelurkan karya-karya mereka bisa menjadi gambaran adanya “perseteruan” antara keteraturan proses yang “dianut” kecerdasan buatan dan pengaruh perasaan yang terdapat pada diri manusia.

Berikut ini beberapa sastrawan yang menceritakan pengalaman mereka dalam proses penciptaan karya sastra.

Sutan Takdir Alisjahbana (STA)

STA telah menghabiskan sangat banyak waktu untuk menggeluti ilmu dan filsafat. Namun, menulis sastra lebih membahagiakan dirinya. Alasannya, dalam berkarya sastra, ia menjelma seorang pencipta yang bebas mengungkapkan perasaan, pikiran, dan fantasinya.

Ungkapan yang cukup panjang itu ditulis STA dalam artikel “Pengalaman Sekitar Menulis Karangan Sastera” dalam buku Proses Kreatif: Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang Jilid 2 (2009).

Dengan sangat jelas STA mengungkapkan betapa karya sastra lekat dengan pelbagai perasaan manusia: kebahagiaan, kegirangan, dan kesedihan. Ungkapan-ungkapan yang mustahil muncul dari AI yang tak memiliki hati.

Titis Basino P. I.

Titis Basino P. I. menyampaikan pendapatnya mengenai proses menulis karya sastra melalui artikel “Bergurau atau Mencela Lewat Mesin Tik” yang dimuat dalam buku Proses Kreatif: Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang Jilid 3 (2009). Dalam berkarya, Titis tak ingin “dikekang” oleh aturan-aturan tertentu.

Pengakuan yang disampaikan Titis ini menyiratkan “pemberontakan” terhadap pelbagai aturan. Sesuatu yang berkebalikan dengan “tabiat” kecerdasan buatan yang tunduk pada keteraturan.

Mesin yang dipandang memiliki kecerdasan tinggi itu bukan hanya enggan menolak aturan. Bahkan, ia tak mungkin “hidup” bila tak ada tangan-tangan manusia yang memasukkan algoritma ke dalam tubuhnya.

Seno Gumira Ajidarma

Seno Gumira Ajidarma membeberkan “ketidakmampuannya” menuangkan sebuah pengalaman menarik ke dalam karya sastra melalui tulisan “Cerita Pendek Tentang Sebuah Proses” dalam buku Proses Kreatif: Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang Jilid 4 (2009). Nada ceritanya menunjukkan kegemasannya lantaran ia telah kehilangan kesempatan berkarya dari pengalaman pribadi yang mendebarkan.

Ceritanya begini. Suatu ketika, di sebuah hotel di Singapura, ia menyaksikan pemandangan menarik di depan matanya. Tampak dua orang berkulit hitam terlibat perselisihan hingga keduanya harus berurusan dengan pihak keamanan.

Salah seorang dari mereka terlihat menangis meraung-raung lantaran merasa dikhianati oleh rekannya yang meninggalkannya sendirian. Menurutnya, temannya telah melarikan seluruh harta benda miliknya.

Uniknya, usai kejadian itu, Seno kembali melihat terduga pelaku kejahatan berada di Malaysia. Nah, kejadian-kejadian bak sinetron yang tak sempat ditulis itu lantas menimbulkan kegelisahan.

Kisah yang dituturkan Seno menunjukkan adanya hambatan karena keterbatasan informasi yang dikuasainya. Kejadian sekilas yang disaksikannya hanya berwujud selentingan. Barangkali cuma bisa dijadikan sumber ide yang harus dikembangkannya lebih lanjut bila ia hendak menjadikannya sebagai sebuah karya sastra.

Perjalanan ke Afrika, yang diperkirakannya sebagai tempat asal terduga pelaku kejahatan dan korbannya, yang dilakukannya bertahun-tahun kemudian, baru “menyadarkannya” bahwa proses menulis tidaklah segampang menggaruk punggung yang gatal. Seorang penulis perlu benar-benar menyelami objek dan latar belakang yang akan ditulisnya bila menginginkan karangannya “bernyawa”.

Mungkinkah proses menyelami objek dan mengolahnya hingga mewujud sebuah tulisan yang “hidup” dilakukan oleh “seorang” AI?

Barangkali tidak semua penulis mengalami hal-hal demikian, dan juga tidak semuanya menganut prinsip serupa. Definisi sastra yang amat lentur memungkinkan orang mencipta sastra dengan pelbagai cara.

Namun, ada satu kondisi yang diakui sendiri oleh AI. Sebagai mesin yang tak dilengkapi hati, AI berkarya berdasarkan data dan pemahaman algoritma. Jadi, tetap saja sulit berharap kecerdasan buatan mampu menghasilkan produk-produk “berjiwa” layaknya buatan manusia.

Sepertinya, hubungan sastra dan kecerdasan buatan belum perlu terlampau dikhawatirkan.

Leave a Comment