Menulislah untuk Orang Malas

Yuk, ikuti tips menulis bagi orang malas. Strategi ini penting karena kebanyakan orang tidak membaca melainkan memindai saja.

Sebagaian besar pembaca tak hendak bersusah payah. Mereka ingin segera mendapatkan apa yang mereka cari dengan cara paling gampang yang mereka temukan.

Silakan baca juga artikel yang membahas pentingnya humor sebagai selingan dalam sebuah tulisan.

Hasil penelitian menunjukkan betapa malas orang-orang yang bertandang ke lapak-lapak media daring. Hanya 16% pengunjung blog membaca konten secara penuh.

Sebagian besar responden melewatkan beberapa bagian tulisan. Sebagian lainnya hanya memilah-milah konten guna mencari kata-kata kunci yang mereka butuhkan.

Bahkan ada yang sekadar melirik judul tulisan tanpa membaca isinya sama sekali. Nah, pusing, kan?

Pembaca Konten Daring Ibarat Macan Lapar

Pembaca media daring bagaikan seekor macan lapar. Dengan langkah gontai, ia mencari-cari mangsa.

Binatang buas itu menginginkan cara paling mudah untuk mendapatkan buruannya. Ia ingin segera menikmati santap malamnya tanpa bersusah-payah.

Sang macan memulai usahanya dengan berjalan lunglai, mengendap-endap, dan mencari-cari hewan sial yang paling tak berdaya. Ketika mendapatkan incarannya, barulah ia melompat, menerkam, dan melumpuhkan mangsanya.

Seekor macan tak berminat mengejar calon mangsa yang tampak sulit dijinakkan. Ia bakal melengos darinya dan mencari hewan lain yang terlihat lebih gampang ditaklukkan.

Begitulah sifat macan dan beberapa binatang pemangsa lain yang bermukim di rimba raya.

Silakan baca juga tulisan mengenai masalah yang disebabkan banjir informasi.

Kondisi serupa terjadi di “rimba” maya. Konten yang bejibun membikin (calon) pembaca bebas memilih sesuka hati mereka.

Mereka akan bergegas meninggalkan konten-konten yang tak menggugah selera. Umumnya, orang enggan menekuri konten yang muter-muter nggak karuan juntrungannya.

Banyak hal yang menjadikan seseorang tak hendak memelototi artikel yang bertele-tele. Keterbatasan waktu dan keinginan untuk segera mendapatkan solusi merupakan beberapa alasan para pembaca (daring) enggan berlama-lama singgah di sebuah blog.

Jadi jelas, pembaca konten daring bertindak laksana seekor macan lapar, hanya mengincar mangsa yang sekilas tampak gampang dilahap. Mereka akan memilah-milah sekian banyak konten dengan cepat dan memilih konten yang tampak mudah dicerna.

Cara “Menjebak” Orang Malas Agar Mau Membaca

Menghadapi tipikal pembaca demikian, para kreator konten dituntut memiliki kemampuan menyajikan konten-konten praktis yang to the point saja.

Ada beberapa tips untuk menjaring calon pembaca blog bertipe macan lapar. Berikut ini sebagian tips yang bisa diterapkan di blog Anda.

1. Meletakkan bagian paling penting di awal tulisan

Menulis artikel untuk disajikan secara daring tentu berbeda dengan membuat karangan ilmiah untuk kepentingan akademis.

Umumnya karya ilmiah disajikan dengan struktur baku. Dimulai dengan latar belakang, dilanjutkan dengan paparan dan diakhiri kesimpulan.

Karya tulis dengan model penulisan struktural tidak akan menarik minat banyak pembaca. Jika menemui tulisan semacam ini, sebagian besar pembaca bakal kabur ke lapak lainnya.

Maka, untuk menarik kesan pertama yang menggoda pembaca bertipe scanner, segera tampilkan kata kuncinya di awal tulisan. Setelah pembaca menemukan kata kunci yang dicarinya, kita bisa berharap mereka menelusuri seluruh materi yang kita sajikan pada paragraf-paragraf selanjutnya.

2. Meniru cara kerja mesin pemindai

Untuk memuaskan pengunjung website yang berlaku sebagai mesin pemindai (scanner), penulis konten perlu menghidangkan artikel yang scanable.

Beberapa bagian tulisan yang bisa dijadikan sarana untuk menarik minat “kaum pemindai” antara lain:

  • Judul artikel yang mewakili isi tulisan secara keseluruhan;
  • Sub judul yang menggambarkan poin-poin penting;
  • Butir-butir rincian (bullet points) yang berfungsi mengurangi uraian panjang.

Silakan baca juga tulisan yang mengulas perdebatan tentang konten adalah raja atau bukan.

3. Menggunakan kosakata yang familier bagi pembaca

“Aturan” ini tentu gampang dipahami.

Kita, sebagai penulis, akan bersikap sama ketika bertindak selaku pembaca. Tentu saja kita lebih suka membaca tulisan-tulisan yang pilihan kata-katanya sesuai dengan selera kita.

Oleh sebab itu, mengenal profil pembaca menjadi salah satu kunci keberhasilan kita menyajikan konten-konten yang selaras minat mereka.

4. Menghindari berpanjang-panjang kata

Berpanjang-panjang kata bukan tindakan bijaksana bagi seorang penulis konten. Pembaca (yang kebanyakan tak sabar) cenderung melompat-lompat ketika menemukan kalimat yang tampak seperti kereta api panjangnya.

Ada beragam pendapat mengenai panjang pendeknya kata dan kalimat dalam artikel yang ditayangkan di media daring.

Sebuah penelitian yang dilakukan American Press Institute menghasilkan kesimpulan yang mendukung nasihat ini.

  • Pembaca memahami 100% materi artikel yang berisi rata-rata delapan kata per kalimat;
  • Pemahaman pembaca berkurang menjadi 90% ketika rata-rata panjang kalimat 14 kata.
  • Pemahaman pembaca “terjerembab” menjadi di bawah 10% saat membaca artikel panjang dengan rata-rata 43 kata per kalimat.

Itulah beberapa tips menulis bagi orang malas agar para pembaca tidak melewatkan begitu saja konten-konten yang kita sajikan.

Leave a Comment