Ikuti cara menulis resensi buku yang berbeda dengan teori lainnya. Sudah saatnya menulis secara kreatif untuk menghasilkan karya unik dan menarik.
Sering membaca artikel tentang tata cara menulis resensi buku? Wah, tulisan yang membahas cara menulis resensi banyak sekali.
Lantas, apakah kita harus mengikuti langkah-langkah yang disarankan dalam artikel semacam itu? Ya, itu tergantung pada masing-masing orang.
Setiap orang boleh mengikuti teori mana saja sesuai selera. Selain itu, tujuan menulis resensi buku juga menjadi pertimbangan lain dalam menentukan langkah-langkah yang akan dilakukannya.
Menulis resensi untuk mengikuti lomba tentu harus mengikuti aturan yang ditetapkan panitia lomba. Biasanya, model penulisan dan poin-poin yang harus tercantum dalam artikel merupakan sebagian di antara ketentuan-ketentuan yang ditetapkan panitia.
Dalam kesempatan ini, kita akan membahas penulisan resensi buku tidak berkaitan dengan lomba dan semacamnya. Artinya, kegiatan menulis resensi yang akan kita lakukan bersifat bebas tidak harus mengikuti aturan mana pun.
Silakan baca ulasan buku tentang kisah seorang nenek hebat yang hidupnya penuh inspirasi.
Jika begitu kondisinya, kita bisa menggunakan cara-cara unik sehingga bisa menghasilkan resensi yang lain dari biasanya.
Langkah-langkah menulis resensi buku (yang asyik) tidak banyak, tiga saja. Ini dia langkah-langkah menulis resensi buku yang sederhana:
- Mencari bagian paling “seksi”
- Menulis secara bebas
- Mengedit tulisan
Mari kita mulai kupas satu per satu.
Mencari Bagian Paling “Seksi”
Langkah pertama menulis resensi adalah mencari bagian paling “seksi” dalam buku yang akan kita ulas. Bagian ini merupakan bagian paling “menjual”, kira-kira bakal bikin pembaca menggumam “Wow!” saat kelak membaca buku itu.
Tujuannya tentu saja untuk memancing (calon) pembaca agar bersedia singgah di lapak kita. Jika tidak ada bagian seksi yang menarik hati, pembaca akan berlalu begitu saja.
Jadikan bagian ini sebagai pembuka resensi.
Bukan urusan gampang menemukan bagian ini. Apalagi bila buku yang hendak kita tulis resensinya memuat banyak materi yang “mencengangkan”.
Namun, di situlah letak seninya. Ketika kita berhasil menjumpai bagian paling “wah!”, dan kemudian memang sesuai dengan selera pembaca, maka kita telah memulai langkah yang amat baik.
Mengapa kita tidak memulai dengan membaca seluruh isi buku layaknya teori-teori umum tentang menulis resensi?
Tolong jawab dulu pertanyaan ini. Untuk menemukan bagian paling “wow!” dalam sebuah buku, adakah cara lain selain membaca seluruh isi buku?
Kalau ada, silakan Anda lakukan. Namun, bila tidak ada, mau tak mau, Anda harus membaca hampir semua bagian buku seperti langkah awal kebanyakan teori menulis resensi.
Lah, sama saja, dong?
Untuk bagian ini memang tidak ada jalan lain. Kecuali, seperti yang telah saya sampaikan, Anda menemukan cara berbeda untuk mendapatkan “wow!”-nya.
Baiklah, saya koreksi. Mencari bagian paling “seksi” menjadi langkah kedua setelah didahului langkah pertama, yakni membaca (dan memahami) seluruh isi buku.
Eh, tunggu sebentar. Apakah tidak perlu memilih buku yang hendak diulas? Teori-teori lain mengatakan demikian, lho!
Wah, itu sih sudah pasti. Nggak mungkin juga merensi buku sembarangan. Mesti dicari dulu buku yang menarik dan nantinya bakal bikin pembaca antusias.
Ya, sudah. Kalau begitu, kita koreksi lagi, ya.
Jadinya begini: langkah pertama, cari buku yang akan dibikin resensi; kedua, baca seluruh isi buku; dan ketiga, cari bagian paling “seksi” dari buku itu.
Menulis Secara Bebas
Langkah berikutnya mestinya paling enak dilakukan. Silakan Anda menjalankan langkah ini dengan cara yang Anda sukai.
Misalnya menggunakan cara menulis bebas. Tuliskan bagian paling “wow!” yang telah Anda temukan sesuka hati.
Panduan menulis secara bebas bisa Anda dapatkan di banyak tempat. Cara menulis cepat dan terus-menerus bisa menjadi salah satu alternatif bila Anda berkenan.
Sembari menulis, alangkah bagus bila Anda mampu membayangkan wajah pembaca saat menikmati tulisan Anda kelak. Ketika mulut mereka terlihat sedikit menganga, bisa jadi itu pertanda bagus.
Lanjutkan saja menulis sampai semua hal tentang buku yang Anda ulas tertuang di sana. Tidak usah memikirkan kualitas tulisan, biarkan saja amburadul tak keruan.
(Ssstttt! Sebenarnya bukan tidak perlu memikirkan kualitas tulisan. Soal kualitas nanti saja, ada waktunya sendiri. Saya bilang tak usah berpikir soal kualitas biar Anda tidak pusing duluan.)
Pada tahap ini, melibatkan “pihak” lain, dalam hal ini editor dalam diri Anda, bisa merusak suasana. Kehadirannya bakal menghambat munculnya gagasan. Maka, untuk sementara, upayakan agar sang editor tidur lelap.
Mengedit Tulisan
Kini, waktu pusing kepala pun tiba. Mengedit tulisan bisa menjelma sebagai bagian tersulit dalam proses menulis resensi buku dan bentuk-bentuk tulisan lainnya.
Dalam tahap ini, kita membutuhkan pengetahuan mengenai tata bahasa, kekayaan kosakata, dan sebagainya. Kemampuan berimajinasi yang baik akan menjadi nilai tambah yang amat menguntungkan.
Nah, sudah saatnya Anda membangunkan sang editor yang terlelap di peraduan. Ia harus mulai membereskan kesalahan-kesalahan tata bahasa, mengganti kosakata yang monoton, serta memoles konsep tulisan hingga menjadi karya yang enak dibaca.
Dalam tahap ini, saltik atau yang lebih populer dengan sebutan typo harus diminimalkan.
Cara Menulis Resensi Buku yang Disederhanakan
Sebentar, sebentar! Ini saja langkah-langkahnya?
Kalau tidak dilengkapi dengan data semacam judul buku, penulis, penerbit, tahun terbit, jumlah halaman, harga, dan lain-lain, apakah cukup? Bukankah pembaca menginginkan informasi yang lengkap?
Bila menurut Anda, pembaca menginginkan data lengkap, ya, lengkapi saja. Gitu aja kok repot!
Silakan lengkapi resensi dengan data yang dibutuhkan.
Selain itu, Anda juga bisa menambahkan opini Anda dari pelbagai sisi tentang isi buku. Termasuk kelebihan dan kekurangannya.
Mari, kita rumuskan kembali tahap-tahap yang perlu dilakukan. Berikut merupakan langkah-langkah menulis resensi buku:
- Menentukan buku yang akan diresensi
- Membaca seluruh isi buku
- Mencari bagian paling “seksi”
- Menulis secara bebas ringkasan isi buku
- Memberikan penilaian tentang isi buku
- Melengkapi data buku
- Memaparkan kesimpulan
- Mengedit tulisan
Jika dipandang perlu, Anda juga bisa membandingkan buku yang Anda ulas dengan buku-buku lain dengan genre yang sama. Untuk bisa menuliskan bagian ini, Anda harus membaca (dan tentu saja memahami) lebih dari satu buku.
Lah, kok, jadi banyak tahap-tahapnya?
Ya, iyalah. Katanya mau menulis resensi buku yang asyik dan bikin pembaca senang. Mesti lengkap dan bagus, dong.
Sabar, jangan keburu berkecil hati. Anda tidak harus mengikuti semua langkah itu.
Jika Anda menulis semata-mata untuk memberikan manfaat bagi pembaca, Anda bisa memilih langkah-langkah yang sekiranya dibutuhkan pembaca. Misalnya untuk mengisi blog milik Anda sendiri atau jenis-jenis jurnalisme warga yang tidak menetapkan syarat konten secara kaku.
Nah, kini Anda bisa memilih cara menulis resensi buku yang sesuai dengan tujuan yang Anda harapkan.