Penulis Tak Harus Menjadi Penyelamat Dunia

Penulis tak harus menjadi penyelamat dunia untuk memberi manfaat bagi sesama. Ralph Waldo Emerson lebih menekankan para penulis melakukan tindakan sederhana.

Ya, seorang penulis tidak harus menghasilkan tulisan yang bisa menghindarkan dunia dari bencana akibat perang atau musibah-musibah lainnya. Penulis tak mesti menghasilkan karya yang mampu mengatasi kelaparan rakyat Afrika.

Tugas seorang penulis sederhana saja. Penulis hanya perlu mengungkapkan apa yang terpikirkan dalam benaknya, atau apa yang dilihat matanya, atau apa yang dirasakan hatinya.

Silakan baca artikel yang membahas cara menulis yang sederhana.

Merealisasikan tulisan yang memberikan sedikit manfaat bagi pembaca jauh lebih baik ketimbang berharap menyelamatkan dunia dari kehancuran tapi hanya dalam angan-angan.

Bila suatu ketika timbul ambisi yang terlalu menggebu, barangkali saya akan kembali mengingat ucapan Ralph Waldo Emerson.

Jangan Memaksakan Diri Menjadi Penyelamat Dunia

Ketika seorang (calon) penulis larut dengan pikiran-pikiran atau bayangan-bayangan besar seperti menyelamatkan dunia, maka sejatinya dia tidak sedang menulis, melainkan melamun saja. Ia tak akan pernah menghasilkan tulisan.

Keinginan hati yang terlampau besar sangat berpotensi mengagalkan upayanya menulis. Ia hanya akan berkutat dengan kertas kosong dan tak kunjung menorehkan kata-kata.

Sebuah pelajaran sangat berharga saya dapatkan dari sebuah artikel dalam buku Chicken Soup for the Writer’s Soul, Harga Sebuah Impian.  Artikel inspiratif itu berjudul “Apa pun yang Kalian Tulis” kiriman Elizabeth Engstrom.

“Lakukanlah dan kau akan mempunyai kekuatan.”

Ralph Waldo Emerson

Sepenggal ucapan Ralph Waldo Emerson itu ditampilkan sebagai pembuka tulisan.

Ketimbang sibuk memikirkan hasil akhir naskah yang hendak kita bikin, lebih baik tancap gas saja mulai menulis. Tuliskan apa yang terlintas dalam pikiran Anda atau apa yang terasakan oleh hati Anda.

Proses menulis bebas bakal banyak menolong dalam kondisi semacam ini. Konsep tulisan acak adul tak menjadi masalah sepanjang isi pikiran kita tertuang di atas kertas atau aplikasi pengolah kata di gawai kita.

Kira-kira semacam itu inti artikel yang ditulis oleh Elizabeth Engstrom berdasarkan pengalamannya bertemu dengan seorang penulis idolanya.

Kesempatan bertemu dengan penulis besar yang dikaguminya telah menyadarkan dirinya akan satu hal. Ucapan “sepele” sang idola mengantarnya menjadi seorang penulis yang realistis dalam berkarya.

Saat itu Engstrom membayangkan kalimat-kalimat yang membubung ke langit bakal dilontarkan sang idola. Namun, ucapan Theodore Sturgeon, penulis yang dikaguminya, membuatnya terbangun dari mimpi indah.

Penulis yang disebutnya sebagai pakar fiksi ilmiah itu “hanya” mengucapkan seuntai kalimat sederhana. Jauh sekali dari kesan bahwa seorang penulis harus selalu menyampaikan gagasan-gagasan besar.

“Apa pun yang kalian tulis, keyakinan kalian akan terpancar.”

Theodore Sturgeon

Tak Harus Mengubah Dunia Melalui Tulisan, Berikan Saja Manfaat-Manfaat Sederhana

Seperti halnya Engstrom, saya pun ikut terperangah. Adakalanya saya membayangkan hal-hal yang mungkin terlampau jauh dari jangkauan meskipun tidak sampai menyelamatkan dunia dari kekisruhan.

Saya kembali mengingat-ingat, begitu banyak hal-hal “kecil” saya sudah dapatkan dari pelbagai tulisan yang pernah saya baca. Meskipun tampak sederhana, tulisan-tulisan itu memberikan manfaat secara nyata.

Saya pernah amat terbantu oleh sebuah artikel yang “hanya” membahas rumus menghitung jumlah karakter dalam suatu baris Excell. Tulisan itu menyampaikan sebuah informasi saja, yakni menggunakan formula “=SUM(LEN(…))” untuk menghitung jumlah karakter pada suatu cell.

Sepertinya, tulisan semacam itu tidak akan sampai mengguncang dunia. Namun, informasi “receh” yang terkandung di dalamnya amat berguna bagi saya dan mungkin pembaca lainnya.

Berkat artikel itu, saya bisa merancang judul lebih cepat. Ya, judul yang ramah buat pembaca sekaligus dicintai mesin pencari karena panjangnya tidak melampaui batas toleransi.

Saya juga perlu menyampaikan terima kasih kepada seorang penulis yang membahas situs-situs yang menyediakan gambar-gambar gratis. Sebenarnya informasi semacam itu nyaris tak berharga lantaran demikian banyak orang telah mengabarkannya dalam berbagai bentuk konten di media massa.

Namun, tetap saja penulis konten itu telah berjasa mengarahkan saya ke beberapa tautan situs yang saya butuhkan kala mencari gambar yang cocok sebagai pemanis tulisan. Kepusingan saya menyangkut pemilihan gambar ilustrasi pun banyak berkurang.

Itu sekadar dua contoh tulisan sederhana yang memberi manfaat nyata dalam bidang kepenulisan. Banyak sekali tulisan-tulisan berfaedah lainnya dalam pelbagai bidang kehidupan.

Pembaca Juga Membutuhkan Informasi Sederhana

Belajar dari pengalaman-pengalaman itu, terasa sekali tulisan yang disajikan Engstrom benar adanya.

Menunggu tulisan yang bakal mengguncang dunia acap menghentikan aktivitas menulis hingga tidak menghasilkan apa-apa. Jangankan menyelamatkan dunia, menghibur diri sendiri dari kejemuan akibat tak kunjung menghasilkan karya pun tak sanggup.

Silakan baca juga tulisan mengenai cara unik mengatasi wrtiter’s block.

Jadi, ketimbang pusing mencari tema-tema “wah” yang hanya membikin Microsoft Word terlalu lama kosong, mending tulis saja hal-hal remeh-temeh yang melintas di kepala. Bisa jadi urusan-urusan sepele itu justru dibutuhkan pembaca.

Untuk memberi manfaat bagi orang lain, seorang penulis memang tidak harus menjadi penyelamat dunia.

Leave a Comment