Sudah mengetahui cara mengatasi writer’s block dengan mengikuti “lomba menulis buruk”? Apakah kita berani menghasilkan tulisan tak bermutu?
Sebagian di antara kita mungkin pernah mengikuti lomba menulis. Mestinya lomba itu bertujuan memunculkan tulisan yang sebagus-bagusnya.
Rasanya, semua lomba menulis bakal seperti itu, mencari tulisan terbaik. Hingga saat ini, saya belum pernah mendengar atau mengetahui adanya seseorang atau suatu lembaga menyelenggarakan lomba menulis buruk.
Sebab, setiap penulis tentu akan berusaha melahirkan tulisan yang bagus. Sebaliknya, menulis buruk tentu saja amat dihindari oleh penulis mana pun.
Namun, saya tak menyangka, ternyata ada pihak tertentu yang justru menganjurkan para penulis (pemula) untuk memproduksi tulisan yang seburuk-buruknya. Bahkan bila perlu kita dianjurkan mengikuti lomba menulis buruk.
Hah, lomba menulis buruk? Lomba apaan, tuh? Emang ada yang bikin? Siapa pula yang mau ikutan?
Cara Mengatasi Writer’s Block yang Ampuh
Ternyata, “lomba menulis buruk” merupakan sebuah strategi yang dirancang untuk menghadapi kebuntuan menulis. Sebagian orang lebih mengenalnya sebagai writer’s block.
Seperti yang telah kita ketahui, salah satu alasan terjadinya writer’s block adalah kekhawatiran seorang (calon) penulis bahwa dia akan menghasilkan tulisan yang buruk. Sebuah kecemasan yang sangat menghambat kemajuan.
Nah, bentuk hambatan menulis semacam itu wajib segera dikikis sampai habis. Guna mengatasi keadaan yang tak menguntungkan itu, beberapa penulis senior menganjurkan kepada para pemula untuk mulai menulis draf “asal jadi”.
“Mulailah menulis secara bebas, tidak usah membayangkan wujud hasil akhir tulisan. Tuangkan saja semua gagasan dan pengetahuan yang tersimpan dalam benak Anda.”
Begitulah kira-kira petuah yang mereka sampaikan kepada para penulis pemula semacam saya.
Sebuah nasihat yang masuk akal sebenarnya. Sebab bila sedari awal pikiran kita sudah sibuk pengen segera mendapatkan hasil yang bagus, sangat mungkin proses menulis bakal tersendat.
Namun, ternyata menjalankan anjuran itu secara konsisten tak semudah membalik telapak tangan. Saya sendiri kerap merasa kesulitan mengaplikasikan wejangan yang tampak sederhana tersebut.
Menulis Buruk Juga Perlu Latihan
Siapa bilang menulis buruk itu gampang? Menulis “asal-asalan” juga perlu perjuangan, lho.
Sebabnya, ada sisi editor dalam diri kita yang senantiasa mengusik kekhusyukan kita menulis secara bebas. Umumnya, sang editor bukanlah jenis makhluk penyabar yang mampu berdiam diri menyaksikan tuannya menulis tanpa beban.
Ia bakal beranjak dari peraduannya setelah melihat tulisan amburadul yang terpampang di depan hidungnya. Terlalu sulit mengendalikan keinginannya untuk segera mengedit tulisan yang centang perenang.
Kemampuan mengendalikan “tabiat buruk” editor seperti ini menjadi salah satu kunci keberhasilan seorang penulis menuangkan semua gagasan yang tersimpan dalam benaknya. Nah, lomba menulis buruk bisa menjadi sarana untuk meningkatkan kemampuan ini.
Ajang lomba menulis buruk dimaksudkan untuk melatih keberanian penulis menghasilkan draf tulisan yang buruk. Menjalankan suatu aktivitas yang jarang kita lakukan memang membutuhkan pembiasaan.
Sebenarnya kegiatan ini bukan benar-benar berwujud lomba menulis yang diikuti oleh sejumlah orang. Kita hanya harus menantang diri kita sendiri untuk mengalirkan sebanyak mungkin ide menjadi tulisan, dan kemungkinan hasilnya bakal buruk.
Ketika kita mampu mengikuti “lomba” semacam itu, sepertinya rasa takut yang menggelayuti pikiran kita bakal berkurang. Setelah itu, kita akan lebih berani menuangkan isi pikiran kita lantaran tak lagi terbebani rasa takut akan menghasilkan tulisan yang memalukan.
Dampak dari hilangnya ketakutan itu akan kita rasakan kemudian. Kita bakal mampu menghasilkan tulisan yang lebih banyak lagi. Kita akan lebih produktif menulis.
Meskipun yang kita hasilkan hanyalah tulisan buruk yang tak layak dipublikasikan, setidaknya kita telah menulis sesuatu. Menghasilkan tulisan yang buruk (untuk diri kita sendiri) tetap saja lebih bagus ketimbang tidak menulis sama sekali.
Dengan cara itu, kita bisa menelurkan bahan tulisan yang melimpah. Hati penulis mana tak merasa girang menyaksikan tumpukan bahan baku di depan mata?
Jadi, dalam lomba ini tidak penting tulisan mana yang bakal menjadi juara. Sebab tujuan utamanya agar kita terdorong untuk berani menuangkan gagasan.
Alah Bisa Karena Biasa
Sebuah artikel yang membahas tipe-tipe kebuntuan menulis dan cara mengatasinya memaparkan pendapat beberapa penulis yang sangat menarik.
Menurut artikel tersebut, seorang penulis bernama Seth Godin mengemukakan pendapatnya mengenai tulisan buruk berguna untuk mengasah kemampuan menulis.
Penulis dan pembicara dari Amerika Serikat itu mengatakan bahwa ketika kita sudah terbiasa menghasilkan banyak tulisan, lambat laun kita akan semakin terampil menulis.
Setelah sekian banyak tulisan buruk kita hasilkan, pada suatu saat nanti, kita bakal mampu mendapatkan tulisan yang berkualitas baik.
Alah bisa karena biasa. Sepertinya, peribahasa ini mampu menggambarkan proses menulis yang dipaparkan oleh Godin.
Bukan itu saja. Ada juga peluang lain yang terbuka bagi kita.
Di antara sekian banyak draf tulisan buruk yang telah kita torehkan, kita memiliki banyak kesempatan melakukan pengeditan. Dengan demikian, kita memiliki peluang lebih besar membuahkan tulisan berkualitas.
Jangan Menulis, Tuangkan Ide Saja
Dengan cara berbeda, seorang penulis lain mengajak kita menjalani proses serupa.
Dalam artikel itu juga ditunjukkan usaha Slavoj Žižek menyederhanakan proses menulis yang dilakukannya. Penulis yang dikenal sebagai filsuf asal Slovenia itu mengemukakan bahwa dalam tahap awal menghasilkan karya, dirinya tidak menulis, melainkan menuangkan ide saja.
Mengucurkan ide tentu saja tidak perlu dibatasi dengan aturan apa pun. Saat kita merasa bebas tanpa ikatan aturan-aturan dan teori-teori tentang menulis, maka ide-ide akan mudah keluar, mengalir deras dari pikiran kita.
Seusai semua ide tercurah menjadi tulisan, barulah kita mengubah wujud diri kita menjadi seorang editor. Pada saat itu, kita bisa mengedit ide-ide yang tertulis secara berantakan itu tanpa rasa khawatir ada ide yang tertinggal lantaran salurannya tersumbat.
Nah, dua orang penulis telah membeberkan panduan yang menarik. Para penulis yang tergolong kawakan itu telah “merendahkan diri” mereka sendiri dengan rela menulis seadanya pada awal proses menulis.
Lantas, mengapa kita (terutama saya) yang baru terjun ke dunia kepenulisan harus bersombong-sombong ria, merasa takut bakal menghasilkan tulisan buruk? Jadi, tunggu apa lagi? Ayo, kita ramaikan ajang “lomba menulis buruk”, sebab ini merupakan salah satu cara mengatasi writer’s block yang mungkin masih bercokol dalam diri kita.