Humor Adalah Daya Tarik Kuat bagi Sebuah Tulisan

Humor adalah sesuatu yang memiliki daya tarik kuat untuk bikin orang senang. Bisakah humor menambah daya tarik tulisan?

Saya tertarik membahas topik humor dan hubungannya dengan menulis, setelah menyaksikan beberapa tayangan lelucon di Youtube. Model lelucon yang ditampilkan di kanal video itu sangat beragam.

Kebanyakan video yang menampilkan guyonan yang apik sangat menarik perhatian. Segala macam tema kehidupan bisa diolah menjadi humor yang menggelitik.

Beberapa orang kreator konten telah “menyihir” saya untuk sering menyambangi sajian-sajian mereka. Sebagian tayangan mereka sangat menghibur hingga saya betah berlama-lama menongkronginya.

Baca juga tulisan tentang menulis buruk yang bisa membantu mengatasi writer’s block.

Lumayan, tayangan-tayangan semacam ini mampu mengendurkan saraf yang acap tegang. Biasanya saya mencari materi-materi lucu saat tak mampu keluar dari kebuntuan menulis yang kerap datang mengadang.

Tentu saja saya juga bakal berkunjung lagi ke lapak-lapak seperti ini di lain hari. Kreasi-kreasi humor (yang bagus) memang ngangeni.

Humor Selera Rendah

Tentu saja, disamping guyonan-guyonan yang asyik itu, tak sedikit pula konten (yang dimaksudkan sebagai lelucon) justru menjengkelkan. Bahkan tak jarang kita menemukan konten-konten yang menjijikkan dan bikin perut mual bagai menelan seekor kadal.

Kita telah menyaksikan sejumlah kreator video di Youtube yang kena batunya lantaran ulah tak elok yang mereka lakukan. Humor rendah adalah bahan yang mereka jadikan andalan untuk mengais cuan.

Akibatnya, mereka harus menerima hujatan dan bahkan sempat berurusan dengan aparat penegak hukum. Mereka mendapat masalah lantaran keteledoran mereka sendiri memproduksi lawakan-lawakan kategori sampah yang bikin rongga perut bergejolak mau muntah.

Anda tentu mengenal beberapa di antara produsen-produsen lelucon tak berguna semacam itu.

Kita tinggalkan saja sampah-sampah yang hanya mengotori jagat maya. Berharap saja agar para produsen dan pelaku konten-konten busuk segera sadar diri untuk mengakhiri tindakan yang tak berguna.

Semoga juga para calon produser dan aktor serta aktris yang hendak ikut-ikutan terjun ke “bisnis kotor” semacam itu tersengat oleh nasib nahas yang menimpa para pendahulu mereka. Tentu saja dengan harapan agar mereka lebih mengerahkan daya mereka untuk memproduksi konten-konten yang positif ketimbang menghasilkan konten asal-asalan.

Nah, di antara onggokan sampah, saya menemukan beberapa jenis materi humor sehat yang mendatangkan tawa atau minimal mengajak kita mengulum senyum. Pada akhirnya, senyum dan tawa itu bakal mendatangkan berbagai keuntungan ikutannya, termasuk fulus tentunya.

Kalau dalam pelajaran Biologi zaman saya sekolah dulu, seingat saya sebutannya adalah simbiose mutualisma. Jadi, pengonten dan penikmat konten sama-sama mendapatkan keuntungan meskipun dalam wujud yang berbeda.

Lelucon Receh yang Mengesankan

Untuk kalangan anak-anak muda, tema menggombali lawan jenis menjadi daya tarik yang tak ada habis-habisnya. Ucapan kayak apa pun, jika berakhir dengan kata-kata gombal, biasanya akan membuat si target jengah dengan pipi bersemu merah.

Bila telah sampai pada tahap itu, pemirsa bakal ikut-ikutan gemes. Lantas timbul keinginan dalam hati mereka untuk terlibat dalam adegan-adegan yang tengah mereka nikmati.

Penikmat video yang berjenis kelamin sama dengan si penggombal mendadak terinspirasi untuk melakukan hal serupa. Sementara itu, pemirsa yang sejenis dengan “korban” kegombalan tiba-tiba merasa ingin berada pada posisi si korban guna menggantikan peran yang dimainkannya.

Teknik yang digunakan untuk menghasilkan tawa penonton terbilang sederhana saja. Strategi paling umum yang dilakukan gombalers adalah menggunakan metode singkatan dan analogi.

Singkatan atau akronim bisa dicomot dari mana saja. Nama orang merupakan salah satu sasaran empuk untuk dijadikan bahan singkatan.

“Nama aku Maudy. Maudi itu ada kepanjangannya, lho. Kalau belum tahu kepanjangan Maudi, aku kasih tahu, ya. Mau disayang sama kamu!”

Walah!

Akrab banget, kan, dengan rangkaian kalimat gombal serupa itu? Anda menyimpan banyak koleksinya?

Baca juga artikel yang membahas sikap bodo amat yang dibutuhkan seorang penulis.

Model analogi lain lagi wujudnya. Biasanya perasaan suka seseorang terhadap lawan jenisnya dianalogikan dengan sebuah benda atau suatu kejadian tertentu yang awalnya tampak tak ada hubungannya.

Penasaran? Nih, saya kasih sedikit contoh dialognya.

“Aku mau mendoakan baju kamu.”

“Hah, mendoakan bajuku? Memang apa untungnya mendoakan baju?”

“Ya, mudah-mudahan baju kotor kamu dan baju kotor aku suatu saat nanti bisa dikumpulkan dalam satu ember yang sama!”

Wow! Dunia serasa tak dihuni banyak manusia.

Anda, kaum muda, pasti sudah sering mendengar kalimat yang mirip-mirip dengan ucapan itu, bukan? Atau, jangan-jangan, Anda sendiri pelakunya?

Benarkah Humor Adalah Sesuatu yang Sehat?

Itu hanya sedikit contoh tayangan-tayangan kocak yang saya yakin sangat digemari terutama oleh anak-anak muda. Setiap episode guyonan semacam itu hampir selalu ditonton jutaan orang.

Model lelucon lainnya banyak sekali dan bertebaran di sana sini. Anak-anak muda masa kini memang pintar berkreasi, dan internet telah membuka kesempatan yang sangat luas bagi mereka untuk mengekspresikan diri.

Eh, dari tadi ngomongin lelucon melulu, sih. Memangnya apa hubungan antara lelucon dengan menulis? Apa perlunya seorang penulis menonton lelucon atau membaca tulisan humor?

Sebuah tulisan berjudul “How to Tickle Your Reader’s Funny Bone” sangat menarik untuk dibahas. Sang penulis yang bernama Annie Binns mengungkapkan besarnya manfaat menggelitik pembaca dengan selipan humor dalam tulisan kita.

Dalam artikel yang ditayangkan writetodone.com itu, ia mengatakan bahwa tertawa bisa menimbulkan banyak manfaat bagi kesehatan. Faedah-faedah itu antara lain relaksasi, menurunkan tekanan darah, mengatasi kebotakan, dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Nah, lo, banyak kegunaannya, kan?

Baca juga tulisan mengenai sebuah semboyan atau quote menulis “bertuah” yang mampu menumbuhkan kepercayaan diri.

Di luar manfaat humor dalam bidang kesehatan yang mungkin baru bisa kita dapatkan dalam jangka panjang, saya memperoleh dampak bagus yang langsung saya rasakan. Betah dan bergairah rasanya membaca tulisan-tulisan yang diselingi beberapa lelucon di dalamnya.

Tentu saja bukan sekadar lucu yang bikin nagih sebuah tulisan. Syarat lain seperti kualitas tulisan yang bagus merupakan kondisi awal yang tidak bisa diabaikan begitu saja.

Namun, seandainya tidak menemukan hubungan antara humor dengan menulis pun, rasanya tidak akan rugi menikmati humor sekali-sekali. Bukankah seorang penulis juga membutuhkan hiburan sebagai selingan agar tidak bosan?

Nah, apakah Anda sepakat bahwa humor adalah sesuatu yang bagus dan bisa menjadi daya tarik bagi (calon) pembaca atau pemirsa?

Leave a Comment