Mencatat ide tak bisa diperlakukan sebagai urusan sepele. Mengabaikan aktivitas ini bisa memunculkan kesulitan di belakang hari.
Saya sedang terkesima oleh seuntai kalimat mutiara. “Lebih baik pensil yang pendek daripada ingatan yang panjang.”
Semula saya tidak mampu mengira sama sekali maksud ucapan ini. Apa hubungan antara pensil yang pendek dengan ingatan yang panjang?
Tanpa sengaja saya menemukan kalimat menggelitik ini. Sejak pertama kali menjumpainya, saya tertarik pada susunan kata-kata yang terasa ajaib dan berbeda dengan yang lain.
Kalimat itu telah berhasil menggiring saya untuk memikirkannya.
Membandingkan dua hal yang seakan-akan tak berkaitan telah menimbulkan sensasi tersendiri. Dan itu sangat menarik hati.
Baca juga catatan mengenai manfaat menulis buruk bagi kelancaran aktivitas menulis.
Menurut Anda, pensil–sebuah alat sederhana yang biasa dipakai untuk menulis atau menggambar– dan ingatan–sesuatu yang abstrak dan (mungkin) letaknya tersembunyi dalam otak– memiliki hubungan seperti apa coba? Bahkan keduanya bersemayam di alam yang berbeda.
Jika pencetus quote itu berharap bisa menggelitik rasa penasaran dengan mengunggah perbandingan ganjil semacam itu, ia berhasil memengaruhi saya. Saya cukup terpukau oleh kemahirannya menyatukan dua urusan yang berbeda.
Sayang sekali, saya tidak berhasil menemukan penjelasan yang terang-benderang mengenai ungkapan ini. Rangkaian kata-kata ini masih berselimut misteri hingga kini.
Maka, saya menggunakan satu-satunya cara yang tersisa untuk memahaminya. Cara yang saya maksud tiada lain meraba-raba, kira-kira maksud penulisnya seperti apa.
Saya pun mencoba mengaitkan untaian kata mutiara itu dengan pengalaman yang terjadi pada diri saya sendiri.
Jangan Remehkan Mencatat Ide
Sudah amat sering saya membaca sebuah nasihat berkaitan dengan menulis, khususnya pada tahap pencarian ide. Berikut ini petuah yang tengah saya bincangkan.
“Segera catat ide yang muncul di kepala! Jangan biarkan ia sekadar melintas dan tak meninggalkan bekas.”
Saya tak sangsi akan kebenaran sepenggal nasihat ini. Pengalaman buruk yang berulang telah meyakinkan saya untuk menganggap enteng petuah sederhana itu.
Saya sering kehilangan ide yang mampir sebentar di kepala lantaran tak segera mencatatnya. Saya akan menyimpan baik-baik petuah yang menganjurkan untuk mencatat ide sesegera mungkin.
Anjuran itu telah mengingatkan diri saya akan sejumlah pengalaman buruk hilangnya gagasan lantaran saya abai mencatatnya. Saat itu, dengan angkuhnya saya terlalu mengandalkan ingatan yang amat terbatas untuk menampung semua gagasan yang datang.
Bahkan, penulis seproduktif Tim Denning sampai mengungkapkan bahwa writer’s block mustahil datang bila kita mengoleksi catatan.
Baca juga tulisan mengenai sikap bodo amat bagi seorang penulis.
Mark Levy (2005) menyajikan sebuah contoh yang menunjukkan betapa ruginya seseorang yang tidak mencatat ide-ide yang meluncur dari kepalanya pada saat itu juga.
Suatu ketika, Levy sedang mengajar dalam sebuah pelatihan. Ia mengambil waktu 20 menit untuk mewawancarai beberapa peserta pelatihan sembari mencatat hal-hal penting yang diutarakan para peserta.
Beberapa waktu kemudian, penulis buku Accidental Genius: Revolutionize Your Thinking Through Private Writing itu hendak mengetes daya ingat para responden yang telah diwawancarainya. Ia meminta mereka mengulang apa yang telah mereka katakan dalam wawancara.
Bagaimana hasilnya? Rata-rata, para peserta wawancara mengingat setengah saja dari semua hal yang mereka ungkapkan beberapa saat sebelumnya.
Mencatat Ide, Gampang atau Susah?
Sepertinya gampang menjalankan “perintah” itu, bukan? Cuma mencatat, tidak perlu berpikir, apa susahnya?
Namun yang terjadi tidak semudah menekuk jari. Aral, kalau boleh menyebutnya demikian, kerap hadir mengganggu niat baik saya dalam upaya mengamankan gagasan.
Lupa tidak membawa buku catatan kecil beserta ballpoint atau pensil merupakan keadaan yang kerap menjadi alasan. Padahal, sebuah perkakas modern bernama gawai jarang sekali lepas dari genggaman ke mana pun saya pergi.
Tentu saja alat serba guna itu bisa menjadi substitusi kertas dan pensil. Bahkan, kebanyakan orang tak lagi membutuhkan alat tulis manual sejak kehadiran si pintar.
Yah, namanya juga alibi.
Kabar baiknya, kini saya bisa menerjemahkan kalimat menggelitik itu dengan kejadian ini. Setidaknya terjemahan yang bakal saya pakai sendiri.
“Catatlah ide yang kamu tangkap menggunakan pensil, sependek apa pun pensil itu. Sebab bila tidak, ide-ide yang sempat singgah di kepalamu bakal segera menghilang karena ingatanmu tidak sepanjang yang kamu kira.”
Lebih Berarti dengan Spesialisasi
Banyak kajian mengenai kapasitas otak manusia. Salah satunya menyebutkan bahwa memori dalam otak manusia memiliki daya tampung 2,5 petabyte. Angka ini setara dengan 1 juta gigabyte.
Seingat saya, saya belum sempat menimbun data sebanyak itu dalam otak saya. Harusnya, di sana masih tersedia ruang yang lapang untuk menyimpan gagasan-gagasan yang berseliweran.
Nyatanya saya sering kelimpungan tatkala bersiap menulis artikel di depan komputer.
Layar komputer yang menampakkan warna putih program pengolah kata itu seringkali masih tampak bersih selama beberapa puluh menit atau bahkan sekian jam sejak saya menghidupkannya.
Baca juga ulasan tentang rasa bosan yang bisa memercikkan kreativitas.
Sebuah bukti telah terhidang di depan mata. Saya tidak dapat selalu mengandalkan otak untuk mencatat ide-ide yang demikian banyak.
Maka, itulah gunanya pensil, meskipun pendek ukurannya. Dan secarik kertas tentu saja, memangnya mau menulis di mana?
Akan lebih baik bila saya membiarkan pikiran yang panjang mengemban tugas lain. Misalnya mengembangkan ide yang tercatat di kertas atau gawai. Itu akan lebih berfaedah.
Limpahkan saja “pekerjaan ringan” mencatat gagasan itu kepada pensil. Toh, selama ini si arang berselimut kayu itu lebih banyak menganggur, meratapi nasib di kotak sempit.
Ada harapan besar ketika kita menerapkan spesialisasi semacam itu. Mudah-mudahan sang pikiran lebih fokus menangani urusan-urusan penting ketimbang nyambi melakukan tugas-tugas “sepele” semacam mencatat ide.
Cerita yang saya alami menunjukkan sesuatu yang benar. Dalam kondisi tertentu, sebatang pensil (yang berukuran pendek) bisa lebih berguna daripada ingatan (meskipun panjang).
Sebagai penutup, saya kembali meyakinkan diri akan arti penting sebuah aktivitas mencatat yang tampak kurang bermanfaat. Ternyata, mencatat ide bukanlah pekerjaan sepele.