Ada sebuah quote menulis istimewa yang kerap menolong saya. Slogan ini mampu mengangkat kembali keyakinan diri yang sempat terkulai tanpa daya.
Sebagai seorang penulis—saya memberanikan menyebut diri penulis, saya memiliki sebuah semboyan idaman. Sekian kali saya merasakan khasiatnya.
Semboyan atau istilah populer dalam “bahasa keren”-nya quote yang satu ini kerap menjelma sebagai dewa penyelamat dalam kehidupan kepenulisan saya. Sering kali ia hadir pada saat tepat, ketika saya membutuhkannya.
Sungguh sebuah slogan menulis yang amat berguna.
Analogi dalam Sinetron Televisi
Kehadiran tepat waktu seperti itu bisa dianalogikan dengan adegan sinetron yang kerap ditayangkan di stasiun-stasiun televisi tanah air.
Berikut ini saya sajikan salah satu bentuk adegan yang menggambarkan kondisi “ngepasi” semacam itu.
Di layar televisi tampak seorang perempuan tengah kebingungan berdiri di pinggir jalan yang lengang.
Ia baru saja melarikan diri dari rumahnya lantaran tak tahan lagi menjadi korban KDRT. Perempuan itu harus menanggung derita tak terkira akibat kekerasan yang dilakukan oleh suaminya hampir sepanjang episode sinetron yang telah dilakoninya.
Bagaimana saya bisa tahu? Barangkali Anda mengira saya mengikuti setiap episodenya, ya.
Ah, enggak juga. Perempuan itu sendiri yang bicara dalam hati nyeritain penderitaannya saat “jeda” di antara kebingungannya menentukan arah yang hendak ditujunya.
Bersyukurlah, para penyelenggara sinetron berbaik hati menyediakan alat “pengeras suara hati” yang amat berguna dalam produksi sinetron negeri ini. Dengan adanya peranti itu, pemirsa bisa mendengar dengan jelas suara hati para pemeran sinetron yang ditontonnya.
Nah, kebingungan yang diderita perempuan itu menyebabkan dirinya tak waspada.
Mendadak sebuah angkot yang melaju kencang mengejar setoran telah berada hanya dua setengah senti dari tubuhnya. Seperti biasa, perempuan itu berdiri saja sembari mengeluarkan teriakan-teriakan histeris dari mulutnya.
Pada situasi genting semacam inilah sang malaikat penyelamat tiba-tiba nongol menyergap tubuh perempuan merana itu demi menghindarkannya dari terjangan angkot yang datang tiba-tiba.
Meskipun mengalami luka pada beberapa bagian tubuhnya, perempuan itu selamat dari hantaman angkot yang jauh lebih mematikan. Peristiwa itu berlangsung hanya sepersekian detik sebelum peristiwa tragis menimpa dirinya.
Kejadian yang menimpa saya tentu tidak sedramatis cerita sinetron yang saya gambarkan di atas. Namun, “jalan cerita”-nya serupa.
Bedanya, jika dalam sinetron sosok penyelamat biasanya berwujud seorang pria dengan postur gagah dan jiwa menawan, dalam lakon saya penyelamatnya berupa seuntai kata-kata.
Wah, sehebat apa sih, untaian kata-kata yang disebut penyelamat itu?
Hambatan Menulis yang Umum Terjadi
Seorang penulis opini yang produktif pernah mengaku bahwa dirinya kerap dilanda kecemasan perihal keberadaan tulisan-tulisan yang dibuatnya. Ia acap merasakan aktivitas menulisnya terhambat oleh kekhawatiran bahwa pembaca tidak akan menikmati tulisan-tulisan yang diproduksinya.
Ternyata, hambatan menulis semacam itu tidak cuma mendatangi saya. Penulis yang sudah mapan juga merasakan bentuk ketakutan yang sama. Setidaknya, hal itu diakui si penulis sendiri melalui sebuah artikel opini yang terbit di media daring beberapa waktu lalu.
Dalam tulisannya, ia mengungkapkan banyaknya dorongan motivasi yang diberikan oleh teman-temannya yang kembali menyemangatinya kala perasaan takut menyambangi dirinya.
Seusai mendapatkan dorongan semangat dari rekan-rekannya, spirit si penulis bangkit. Ia pun kembali berkarya dengan cara yang disebutnya menulis dengan sikap sumeleh.
Satu di antara orang-orang yang menyemangatinya menyebutkan sebuah semboyan yang menarik hati. Kata-kata mutiara yang diucapkannya serupa dengan quote istimewa yang acap membangkitkan kembali hasrat menulis yang kadang-kadang surut dari dalam diri saya.
“Kekuatan Magis” Seuntai Quote Menulis
Sudah beberapa kali saya mencoba menelusuri, siapa gerangan orang yang telah menciptakan dan mencuatkan semboyan penyemangat nan hebat itu. Namun hingga kini saya tak kunjung menemukannya.
Ya, sudah. Meskipun tak mengenal founder-nya, saya tetap meyakini “tuah” yang memancar dari kalimat inspiratif yang mampu mendorong saya lebih produktif.
“Setiap tulisan akan menemukan pembacanya sendiri.”
Begitulah rekan penulis artikel yang saya ceritakan mengembuskan kalimat yang dikisahkannya dalam tulisannya yang ditayangkan oleh detik.com.
Bagi saya, kalimat “sakti” itu biasanya muncul ketika saya dilanda keterpurukan. Kegalauan semacam itu biasanya ditandai dengan seulas pertanyaan yang meluncur dari dalam hati kecil, “Siapa sih yang mau membaca tulisan saya?”
Slogan menulis yang menyatakan bahwa setiap tulisan bakal menemukan pembacanya merupakan penangkal paling pas untuk mengatasi gangguan hati yang cemas. Ungkapan itu mampu merobohkan pertanyaan racun yang amat mengganggu aktivitas menulis.
Ketika mengingat ungkapan itu, kepala pun kembali mendongak pertanda keyakinan diri telah pulih kembali. Atau setidaknya rasa takut yang bersemayam di hati sedikit berkurang.
Maka, tombol-tombol papan tik pada laptop kecil yang setia menemani saya kembali mengeluarkan bunyi “tak tik tak tik” menandakan pemiliknya sedang bergairah memancarkan isi pikirannya.
Mungkin tidak semudah membalik telapak tangan sebuah tulisan bakal menemukan pembacanya.
Namun dampak positif seuntai kalimat penyemangat mampu mengembalikan langkah kaki yang sempat terhenti. Langkah awal yang tentunya harus diikuti langkah-langkah selanjutnya.
Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda memiliki semboyan yang bisa membangkitkan semangat (menulis) Anda?
Ayo, ungkapkan slogan atau quote menulis yang paling membangkitkan semangat Anda untuk terus berkarya.