Benarkah melakukan pembangkangan bisa menumbuhkan kepercayaan diri? Bukankah kebiasaan buruk itu justru akan membikin pelakunya merasa rendah diri?
Bagi yang sudah melewati masa belia, tentu memiliki banyak kenangan masa muda. Cobalah Anda mengingat era remaja dulu. Apakah pada waktu itu, katakanlah semasa sekolah, Anda pernah berpikir atau bahkan sering melakukan pelanggaran secara sengaja?
Misanya saja, sengaja datang terlambat ke sekolah agar mendapat teguran dari guru yang tangah mengajar atau bahkan wali kelas. Atau bila Anda seorang cowok, sengaja tidak memotong rambut sesuai ketentuan sehingga harus “menyerahkan diri” kepada guru Bimbingan dan Konseling alias guru BK (apakah sekarang masih kayak gini namanya?)
Ketika berjalan di depan kelas menghadap pengajar yang memberi peringatan, ada rasa bangga menyembul di dada. Apalagi saat beranjak menuju ruang kepala sekolah di depan teman-teman dari berbagai kelas. Bak seorang jagoan yang habis memorakporandakan markas musuh seorang diri, padahal hanya bersenjatakan ketapel berpeluru gulungan kapas.
Kalau dipikir-pikir, kadang-kadang saya merasa aneh juga. Bukannya malu dan menundukkan kepala karena telah berbuat salah, tetapi malah mendongakkan kepala oleh timbulnya rasa bangga. Laksana seorang pahlawan yang baru pulang dari medan laga.
Ketakutan yang Tidak pada Tempatnya
Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa berbuat kesalahan itu membanggakan sehingga bisa menjadi teladan. Tentu saja ini bukan sebuah anjuran.
Hanya saja, tidak bisa kita pungkiri bahwa keberanian melakukan tindakan yang berbeda dengan yang lain, khususnya tindakan melawan aturan, bisa membuat pelakunya memiliki perasaan berbeda. Seakan-akan dalam dirinya terdapat keberanian yang lebih besar dibandingkan teman-temannya yang “hanya” selalu mengikuti aturan.
Saya ingin menghubungkan keadaan semacam itu dengan dunia kepenulisan yang menjadi tema bahasan blog ini. Kita bisa (agak memaksa) menarik benang merah adanya kemiripan di antara keduanya.
Banyak (calon) penulis yang telah dilanda ketakutan hasil karyanya bakal mengecewakan bahkan ketika mereka belum menorehkan kata. Kecemasan yang dideritanya bisa meluruhkan rasa percaya diri yang barangkali telah dengan susah-payah dibangunnya selama ini.
Seandainya ia telah mengikuti berbagai kursus dan pelatihan pun, ia tak akan merasa dirinya lebih baik ketimbang orang lain. Sebab kemampuan atau bahkan kemahiran yang dipunyainya bakal tersapu oleh rasa jeri yang lebih menghantui.
Perasaan inferior dalam dirinya selalu membisiki telinganya, mengatakan bahwa dia hanya akan menghasilkan tulisan-tulisan yang tak punya kualitas. Tentu saja ia melanjutkan hasutannya dengan mengatakan bahwa aktivitas menulis yang dilakukannya bakal membuang-buang waktu saja.
Pembangkangan dalam Dunia Kepenulisan
Saya telah mengumpulkan cukup banyak pendapat orang-orang yang sukses dalam dunia kepenulisan. Ada sebuah rahasia milik para penulis sukses yang kelihatannya tak sulit dilakukan.
Satu resep yang konon mujarab, para penulis itu berani menulis apa saja yang terpikir dalam benaknya. Mereka mengabaikan faktor-faktor lainnya seperti tata bahasa, ejaan, atau teori-teori kepenulisan.
Ada penulis yang menyampaikan bahwa teori menulis itu hanya satu, ya menulis, bukan yang lain. Beberapa penulis lainnya menyebut teori sejenis ini dengan istilah menulis bebas, menulis cepat, atau menulis dalam zona nekat.
Konsep yang terakhir disampaikan oleh Andrias Harefa dalam salah satu bukunya, Happy Writing. Ia sendiri mengaku pada awal kariernya berada dalam zona ini.
Zona nekat merupakan tempat yang nyaman bagi banyak penulis, khususnya penulis pemula. Di sana mereka bisa menuangkan gagasannya dengan tingkat keberanian yang tinggi bahkan cenderung ngasal.
Membuat Kesalahan Bisa Menumbuhkan Kepercayaan Diri
Sepintas, sepertinya urusan gampang mempraktikkan teori nulis ngasal ini. Padahal menulis dengan cara ini tak semudah membalik telapak tangan.
Mengaplikasikan teori menulis nekat semacam itu sungguh tidak gampang. Saya lebih sering mengalami kegagalan saat menjalankan tips yang tampak sederhana, “Ayo, tulis saja! Tuangkan semua isi kepala!”
Memang aneh, kok. Disuruh nulis serampangan aja nggak usah pake aturan macem-macem kok sulit amat. Maunya apa, sih?
Kecenderungan untuk menjadi perfeksionis merupakan penghalang paling besar yang acap menggagalkan upaya penulis tatkala mencoba memberanikan diri menulis secara nekat. Sosok editor yang terkandung dalam diri sang penulis kerap mengganggu konsentrasi dan memorakporandakan niat penulis untuk menuangkan isi pikiran secara bebas.
Kesempurnaan telah menjelma sebagai salah satu sosok pengadang aktivitas menulis yang sulit ditaklukkan. Kita perlu mencari pelbagai upaya untuk membikin keinginan sempurna enyah dari pikiran, setidaknya selama masa inkubasi ide menulis yang kita jalankan.
Nah, tidak ada salahnya kita bernostalgia dengan masa lalu. Selain mengenang kisah-kisah manis, bisa pula kita menyaksikan kembali “tayangan” peristiwa-peristiwa yang membangkitkan imajinasi dan menumbuhkan kepercayaan diri.
Coba bayangkan peristiwa-peristiwa pembangkangan yang pernah kita lakukan pada masa belia dahulu kala. Siapa tahu dengan menghadirkan kembali “kehebatan” kita menerjang aturan-aturan sekolah misalnya, kita mampu menguatkan hati untuk berani melakukan kesalahan atau ketidaksempurnaan.
Lantas, kita aplikasikan keberanian itu dalam urusan yang positif semisal membuat konsep tulisan. Semoga kita jadi lebih percaya diri melakukan kekeliruan-kekeliruan kecil seperti saltik alias typo, ketidaktepatan ejaan, penggunaan tata bahasa yang centang-perenang, dan kekurangan-kekurangan kecil lainnya.
Ayo, siapa berani mengambil jalan “pembangkangan” dalam menulis dan mendapatkan rasa percaya diri yang lebih tinggi?
Sumber gambar ilustrasi: Andre Mouton dari Pixabay.