Judul tulisan yang menarik bisa menjadi senjata bagi penulis (pemula) untuk menggaet pembaca. Apa saja gaya judul untuk menarik hati pembaca?
Jika Anda mengenal Goenawan Mohammad (GM), Anda akan maklum ketika ia memberi judul tulisan-tulisannya secara “asal-asalan”. Sebab, mau dikasih judul apa saja, karyanya bakal dibanjiri pembaca.
Jadi, nama besar yang disandangnya telah memberi kesempatan baginya untuk “santai-santai saja” dalam urusan judul. Ia bisa fokus menata kalimat untuk menyihir pembaca.
Tentu GM tidak sendirian merasakan “kenikmatan” semacam ini. Penulis-penulis kawakan lainnya juga bisa “ongkang-ongkang kaki” tanpa perlu pening kepala memikirkan judul tulisan-tulisan mereka.
Sebut saja nama-nama tenar dengan karya-karya yang meledak di pasaran seperti Andrea Hirata, Dee Lestari, dan penulis-penulis lain sekaliber mereka.
Nah, masalahnya, apakah Anda termasuk kategori penulis sekelas GM atau penulis kawakan lainnya? Jika Anda mantap menganggukkan kepala sembari berucap “ya”, berarti Anda bisa menampilkan judul sesuka hati Anda.
Namun, bila Anda masih malu-malu atau sungkan memasukkan diri Anda ke dalam kelompok tersebut, sebaiknya Anda tidak “bertingkah” layaknya seorang penulis terkenal. Mungkin taraf Anda masih sebatas ‘berharap suatu saat nanti bakal seperti mereka’.
Setidaknya, kata ‘berharap’ menyimpan energi untuk terus berusaha mewujudkannya. Bukankah jauh lebih terhormat berharap ketimbang meratap?
Bila Anda Bukan Siapa-Siapa
Baiklah, karena Anda tidak menjawab pertanyaan saya, saya memutuskan untuk mengira-ngira saja. Dugaan saya, di benak pembaca , nama Anda belum semelekat nama-nama tenar yang telah saya sebutkan di atas.
Indikasinya jelas. Anda masih rela menghabiskan waktu di tempat ini.
Bila Anda sekelas penulis Catatan Pinggir tetapi masih membaca tulisan nggak jelas ini, tentu ada sesuatu yang harus dicermati lagi. Barangkali Anda tersesat entah dituntun oleh siapa hingga masuk ke blog ini.
Atau, jangan-jangan kualitas tulisan ini memang sudah sedemikian tinggi? He he he, pastinya bercanda.
Nah, berhubung (anggapan saya) status Anda “bukan siapa-siapa”, tentu Anda harus memanfaatkan pelbagai cara untuk memikat hati para (calon) pembaca. Salah satu upaya itu, Anda bersedia meluangkan waktu untuk memikirkan dengan cermat judul bagi bakal karya-karya Anda.
Sebab, bila tidak, barangkali Anda akan menjumpai masalah umum yang kerap dialami penulis pemula semacam saya. Problem klasik yang terus mengintai penulis dalam tahap ini adalah tulisan yang tak kunjung “disentuh” pembaca.
Perlunya “Menjebak” (Calon) Pembaca
Untuk menutupi keraguan pembaca akan kualitas tulisan yang kita hasilkan, rasanya kita butuh “jebakan” untuk menghentikan langkah pembaca. Nah, judul merupakan salah satu jenis perangkap yang dapat kita andalkan.
Tak dapat dimungkiri, judul bisa menjelma sebagai jembatan yang bakal mengantarkan calon pembaca menggerakkan tangan dan mata mereka.
Seperti halnya produk deodoran yang iklannya senantiasa terngiang-ngiang di telinga, kesan pertama memang harus menggoda. Setelah itu, kesan kedua dan seterusnya (juga) harus menggoda dan sekaligus mengesankan orang yang telah berbaik hati membuka konten kita.
Dalam buku Inilah Esai (2019), Muhidin A. Dahlan menyodorkan setidaknya tiga belas gaya judul tulisan yang bakal memukau pembaca. Saya telah mencoba menerapkan sebagian di antara ketiga belas gaya menulis judul tersebut.
Pengandaian dan Perbandingan, 2 Sumber Judul Tulisan yang Menarik
Muhidin memberikan beberapa contoh judul menarik menggunakan pengandaian dan perbandingan. Saya juga kerap menggunakan dua gaya ini.
Penulis esai Sindhunata pernah mengandaikan politik sebagai pertandingan sepak bola. Ketika itu, ia membubuhkan judul “Catenaccio Politik Gus Dur” dalam sebuah esainya yang diterbitkan Kompas.
Penggemar bola, terutama yang tak lagi berusia muda, tentu amat mengenal sistem pertahanan ketat dalam sepak bola Italia yang dikenal dengan sebutan catenaccio. Nah, penulis mengumpamakan cara mengelola pemerintahan yang dilakukan Presiden Gus Dur kala itu seperti cara bertahan tim sepak bola Italia.
Saya juga pernah membikin judul pengandaian semacam itu. Misalnya dalam artikel yang mengandaikan kegiatan menulis sebagai membuat tembikar.
“Paku dan Serdadu” adalah judul esai karya A. Dahana yang dicomot oleh Muhidin untuk dijadikan contoh lain. Dengan judul itu, penulis berusaha mengiming-imingi pembaca dengan membandingkan dua hal yang tampak tidak berhubungan sama sekali.
Mengikuti gaya perbandingan itu, saya pun pernah membikin judul serupa. Kala itu, saya membandingkan risiko yang dihadapi penulis dengan risiko yang mengadang dokter bedah otak.
Penggabungan dan Pertanyaan, Cara Mudah Membuat Judul Tulisan
Mau membikin judul menarik dengan cara mudah?
Ada dua cara gampang membuat judul tulisan. Kedua cara itu adalah menggunakan metode penggabungan dan pertanyaan.
Judul menggunakan penggabungan gampang dibuat. Tinggal tentukan dua kondisi atau lebih dan sambungkan dengan kata hubung ‘dan’. Selesai urusan.
Begitu pula judul tulisan berbentuk pertanyaan. Tinggal menambahkan kata tanya dan tanda tanya pada tema tulisan yang sedang kita garap. Maka, jadilah judul yang kita inginkan.
Karena kemudahannya, kedua cara menganggit judul itu menjadi andalan saya, terutama judul berwujud pertanyaan. Salah satu contoh judul tulisan yang memanfaatkan pertanyaan adalah “Bagaimana Teknik Pomodoro Membantu Kita Menulis?”
Gaya Judul Tulisan yang Menarik Lainnya
Masih ada beberapa lagi model judul tulisan yang dibahas dalam buku yang menyebut banyak sekali nama penulis sejak zaman lampau hingga kini. Tentu saja disertai contoh-contoh yang menarik dan bikin penasaran.
Anda bisa membuat judul tulisan dengan mengusung tema kebaruan, bisa juga menolak pendapat umum menggunakan data, argumen tandingan, dan keprihatinan. Masih banyak lagi cara-cara lain seperti menampilkan daftar atau angka, atau mengutak-atik istilah, atau menyampaikan kutipan.
Kini, saya akan melengkapi daftar 13 gaya judul menarik yang dipaparkan penulis yang kerap disapa Gusmuh ini. Penulis buku itu juga menyampaikan gaya lainnya, yakni judul satu kata, judul model surat terbuka, judul menggunakan pronomina semacam “kami” dan “kita”, serta judul tulisan yang mengandung kata “sebagai”.
Nah, itulah gaya-gaya membuat judul tulisan, terutama tulisan berbentuk esai. Kita bisa menggunakan salah satu di antaranya, atau mengombinasikan beberapa gaya.
Jika Anda seorang penulis sekaliber Goenawan Mohamad, Anda tak perlu sibuk memikirkan judul tulisan Anda. Namun, bila Anda orang biasa, alangkah baiknya membikin judul tulisan yang menarik agar pembaca tergelitik.