Benarkah tingginya pencarian frasa ‘cara menjadi penulis’ menunjukkan besarnya minat orang Indonesia menggeluti profesi ini?
Sebuah kenyataan yang cukup mengejutkan sebenarnya jika kita mengingat posisi literasi negeri ini yang terpuruk di papan bawah di antara negara-negara di seluruh dunia. Namun, data yang dirilis Google mengindikasikan hal yang tak terduga tersebut.
Melalui laporan yang diunggahnya, Google menyampaikan daftar kata kunci (keyword) yang banyak dicari orang Indonesia sepanjang tahun 2020 yang akan segera berakhir.
Merujuk pada data yang disampaikan oleh pengelola mesin pencari paling masyhur sedunia itu, terdapat indikasi bahwa profesi penulis masih menjadi idaman cukup banyak orang Indonesia.
Nggak nyangka, ternyata banyak warga Indonesia ingin menjadi penulis, Saudara-Saudara!
Kecenderungan atau trending pencarian utama memang berkutat seputar wabah yang tengah melanda dunia saat ini, yakni Covid-19.
Tidak heran jika kata atau frasa ‘virus Corona’ dan ‘PSBB’ menduduki dua slot teratas penelusuran terpopuler yang dilakukan penduduk Indonesia melalui mesin pencari paling populer di muka bumi ini.
Masih ada lagi frasa menyangkut pandemi yang mendominasi pencarian di internet. Selain kedua keyword itu, istilah hand sanitizer yang merupakan perlengkapan penting menghadapi pandemi virus corona masuk sepuluh besar kata kunci paling dicari masyarakat kita pada tahun 2020 ini.
Beberapa program yang berkaitan dengan pandemi juga turut menghiasi trend pencarian di Google. Sebut saja salah satunya ‘Kartu Pra Kerja’ yang memang menjadi incaran banyak orang muda di Indonesia.
‘Cara Menjadi Penulis’ Muncul Sebagai Kata Kunci yang Populer di Indonesia
Sementara itu kata kunci ‘cara menjadi penulis’ menembus barisan pencarian terbanyak kategori “Bagaimana cara”. Beberapa topik yang berkaitan dengan aktivitas atau profesi yang bisa dilakukan dalam masa pandemi turut meramaikan persaingan kata kunci papan atas untuk kategori ini.
Dalam barisan ini tercantum frasa semacam ‘cara daftar UMKM’, ‘menjadi Youtuber pemula’, dan ‘menjadi reseller’.
Deretan pencarian dengan kata-kata kunci itu menunjukkan besarnya minat masyarakat Indonesia berburu pengetahuan dan (mungkin juga) penghasilan tambahan dengan memanfaatkan fasilitas internet.
Berikut ini urutan frasa kata kunci pencarian melalui Google untuk kategori ‘Bagaimana cara …’:
- Cara daftar UMKM
- Cara menjadi Youtuber pemula
- Cara menjadi reseller
- Cara membuat hand sanitizer
- Cara menjadi terkenal
- Cara menjadi artis
- Cara login Google Classroom
- Cara menjadi dropshipper
- Cara menjadi penulis
- Cara menjadi impostor Among Us
Silakan baca juga ulasan mengenai sulitnya menahan diri dari godaan menulis tema-tema populer tanpa disertai pengetahuan dan kemampuan memadai.
Barangkali melonjaknya keinginan orang menjadi penulis terkait dengan kondisi pandemi yang masih berlanjut hingga menjelang usainya tahun 2020. Seperti juga kegiatan-kegiatan daring (online) yang lain, menulis bisa dijadikan alternatif aktivitas yang bisa dilakukan selama masa pandemi.
Banyak alasan orang meminati kegiatan menulis sebagai sandaran baru sepanjang situasi yang memaksa orang banyak berdiam di rumah. Bukan hanya menjadi pengisi waktu yang tak sulit dilakukan, menulis juga menjanjikan penghasilan.
Sangat beragam pendapatan yang bisa diperoleh dari kegiatan menulis. Mulai dari mendapatkan honor secara langsung dari media hingga pelbagai macam pemasukan yang didapat dengan mengelola blog bisa menjadi daya tarik bagi banyak orang.
Pertumbuhan Website dan Pengguna Internet
Berita yang saya kutip dari kontan.co.id mungkin bisa sedikit memberikan gambaran mengenai pertumbuhan jumlah situs internet (website) di Indonesia. Menurut media ini, perusahaan web hosting Exabytes mengungkapkan terjadi kenaikan jumlah website di Indonesia sebesar 9,4% dari kuartal I tahun 2020 ke kuartal II tahun 2020.
Menurut Country Manager Exabytes Indonesia Indra Hartawan, sebenarnya angka pertumbuhan ini bisa jauh lebih besar bila literasi digital di tanah air kita lebih merata.
Memang angka itu tidak mencerminkan secara langsung peningkatan minat menulis masyarakat di negara kita. Penggunaan situs internet sangat beragam, tidak hanya untuk membangun blog dan menulis.
Namun setidaknya, adanya kenaikan jumlah websites dan peningkatan jumlah pengguna internet memiliki keterkaitan dengan minat bidang tulis-menulis dan literasi pada umumnya.
Sesuai berita yang diturunkan kompas.com, Sekjen Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Henri Kasyfi memperkirakan jumlah pengguna Internet di Indonesia mencapai 196 juta orang.
Angka sebesar itu tentu saja merupakan potensi pasar yang sangat besar bagi usaha jasa dalam bidang internet. Meskipun demikian, alasan penggunaan internet oleh sekian banyak orang itu masih cenderung untuk urusan yang lebih bersifat konsumtif seperti media sosial yang mengambil porsi hingga 51,5%.
Di bawah media sosial, penggunaan internet berturut-turut untuk urusan komunikasi perpesanan, gim daring, dan belanja online. Sementara itu, pemanfaatan internet untuk kebutuhan ngeblog belum banyak terungkap.
Banyak Warga Indonesia Ingin Menjadi Penulis?
Saya berpikir, kondisi ini bisa menjadi pendorong meningkatnya minat masyarakat Indonesia pada bidang literasi.
Menulis merupakan bagian penting dunia literasi. Alasannya, kegiatan ini bakal mendorong orang melakukan kegiatan-kegiatan literasi lainnya seperti membaca dengan serius untuk mendapatkan pemahaman atas tulisan-tulisan yang dibaca.
Namun tak bisa dimungkiri pula adanya mental mendapatkan penghasilan secara instan melalui dunia kepenulisan.
Cukup sering saya menjumpai diskusi daring yang menunjukkan keinginan memperoleh pendapatan dengan mudah dan cepat dengan kegiatan ngeblog dan sejenisnya memanfaatkan jaringan internet.
Tidak sedikit orang yang menghalalkan berbagai cara tak elok demi mengejar pemasukan dari blog yang dikelolanya.
Ambil saja contoh orang yang dengan gampang dan tanpa rasa bersalah menjiplak karya orang lain. Ia mengambil artikel dari blog milik orang lain secara mentah-mentah dan memasangnya di blog sendiri seakan-akan tulisan itu merupakan buah karya sendiri.
Memang setiap perkembangan yang terjadi, termasuk perkembangan teknologi internet, akan memunculkan dampak yang tidak baik. Semoga saja praktik-praktik kayak gini cuma bagian sangat kecil dalam dunia kepenulisan secara menyeluruh.
Hingga saat ini, saya belum pernah menemukan referensi terkait angka yang menunjukkan seberapa besar porsi konten-konten hasil plagiasi dibandingkan karya-karya orisinal para penulis yang tidak sekadar mengejar rupiah dari tulisan-tulisan yang mereka hasilkan.
Sebagai penutup, saya kembali menguarkan harapan adanya kecenderungan meningkatnya minat penduduk Indonesia untuk menggeluti literasi. Salah satu indikasi yang menopang harapan itu adalah banyaknya orang Indonesia mencari frasa ‘cara menjadi penulis’ di internet.
Semoga indikasi yang ditunjukkan Google tentang makin banyak orang Indonesia ingin menjadi penulis benar adanya.