Menulis Adalah Keterampilan Esensial di Era AI

Menulis adalah keterampilan yang tetap dibutuhkan hingga kini. Kecerdasan buatan atau lebih dikenal sebagai artificial intelligence (AI) tampak bakal menyisihkan profesi penulis dari muka bumi.

AI yang terkenal sakti memang mampu menulis artikel, membuat cerita pendek, bahkan membuat buku panduan teknis dan menciptakan novel. Mereka membuat semua jenis karya tulis itu dengan tingkat kecepatan yang di luar “nurul”.

Tak heran bila kemudian muncul kekhawatiran bagi banyak orang—dan mungkin kegembiraan bagi sebagian orang lainnya. Para penulis mulai menangis. Penerbit bersiap menggulung karpet.

Dunia kepenulisan (dengan manusia sebagai aktor utamanya) sebentar lagi akan mati. Semua jenis dan genre karya tulis akan dikuasai si pintar bernama AI.

Menulis Mendorong Cara Berpikir Kritis

Writing is a mirror of the mind. Begitulah kata Daniel Goleman (2014). Menurut Goleman, aktivitas menulis mencerminkan proses berpikir penulisnya. Kegiatan ini pun akan semakin memperdalam kemampuan berpikir seseorang.

Sangat masuk akal, apa yang dikemukakan Goleman. Menulis bukan sekadar mencoret-coret kertas atau menerakan font-font ke halaman Microsoft Word atau Google Docs.

Menulis adalah proses berpikir. Ketika seseorang menulis, sejatinya ia sedang belajar memunculkan ide, mengelola logika, lantas menuangkannya menjadi sebentuk tulisan.

Apakah AI dapat melakukannya sebaik atau bahkan jauh lebih baik daripada manusia? Sebagian, iya. Kecerdasan buatan mampu menerima dan mengolah informasi yang “dijejalkan” para pelatihnya dan kemudian “memuntahkannya” dalam bentuk-bentuk yang diinginkan oleh orang yang “mempekerjakannya”.

Namun, robot yang kerap mengakui bahwa dirinya tak memiliki perasaan itu memang benar-benar tidak mempunyai kesadaran, tidak juga menyimpan pengalaman pribadi, dan juga refleksi yang mendalam layaknya makhluk berakal bernama manusia. AI hanya bisa menampung data dari luar, mengolahnya secara mekanis dengan rumus tertentu, dan mengeluarkan hasilnya tanpa ada “bumbu” emosi di dalamnya.

Tulisan Manusia Memiliki “Voice” yang Autentik

AI bakal mengalahkan manusia dalam adu kecepatan menulis. Saya tidak akan menantang mereka berlomba menulis cepat.

Kalau mau, silakan periksa hasil tulisan AI dan bandingkan dengan tulisan bikinan manusia. Mudah-mudahan terlihat perbedaannya.

Begitulah “voice” bicara.

Menulis Mambantu Manusia Mengenali Diri Sendiri

Menulis juga bisa digunakan untuk berdialog dengan diri sendiri.

James Pennebaker (2011) menyatakan bahwa ketika manusia menulis, pilihan kata yang diambilnya merupakan cerminan kondisi psikologis yang tengah dialaminya. Ya, menulis menulis memang sarana efektif untuk memahami siapa diri kita sebenarnya.

Menulis Mengajarkan Etika

Mau ngobrol soal etika dengan AI? Ya, bikin capek aja.

Padahal, manusia bisa memahami etika dan tanggung jawab dari tulisan. Dengan akal dan hatinya, manusia akan menyaring pesan-pesan yang diterimanya, lalu rasa tanggung jawab akan memilah-milah mana yang patut disampaikan dan mana yang tidak.

Bukankah banyak manusia yang menyampaikan informasi-informasi tidak jelas dan bahkan sengaja mengumbar kebencian? Yah, bukan salah Bunda mengandung. Entah ada faktor apa yang menyumbat hati mereka sehingga manusia-manusia itu tak merasa sungkan mengumbar umpatan dan makian.

Kolaborasi Manusia dan AI

AI dibuat untuk memudahkan kerja manusia. Seorang penulis bisa mendapatkan ide-ide secara cepat dalam jumlah banyak setelah “dibisiki” oleh AI.

Kecerdasan buatan juga dapat memberikan sumber-sumber referensi yang bisa ditelusuri, meskipun sering tidak valid juga. Itulah pentingnya manusia me-review hasil kerja AI yang acap salah, bukan langsung melahapnya mentah-mentah.

Kolaborasi adalah istilah paling cocok untuk menghubungkan manusia dengan AI. Jangan percayai AI begitu saja. Sebaiknya tidak juga “melengos” ketika melihat kehadirannya.

Sapalah AI dengan ramah. Bukankah kita makhluk yang memiliki hati? Ajaklah AI bekerja sama. Jangan lupa kritisi hasilnya.

Kekhawatiran berlebihan bakal tergusur oleh keberadaan AI mestinya tidak perlu terjadi. Mereka tidak paham arti perjuangan, sakitnya kegagalan, atau manisnya hasil yang gemilang.

Manusia bisa merasakan itu semua. Manusia bisa menghasilkan tulisan yang “bernyawa” dan mengajak pembaca turut merasakan isi hatinya.

Sekarang menag eranya AI. Maka, kita bisa mengajaknya bergabung untuk berkolaborasi.

Hingga kini, menulis masih tetap menjadi keterampilan esensial yang harus dikuasai.

Leave a Comment