Tulisan Macet Bikin Mumet? Begini Cara Mengatasinya

Tulisan macet sering menghantui Anda? Pertama, santailah karena orang lain juga mengalaminya. Kedua, tenang saja karena ada cara untuk mengatasinya.

Fenomena tulisan macet di tengah jalan lazim terjadi. Banyak alasan yang menyebabkan kemacetan semacam itu.

Psychology Today, misalnya, menyampaikan beberapa biang kerok yang bikin tulisan macet atau biasa kita kenal sebagai writer’s block. Menurut situs yang kerap membahas masalah-masalah psikologi itu, tulisan macet sering disebabkan oleh stres, sikap perfeksionis, dan kecemasan terhadap hasil akhir tulisan.

Mengapa Tulisan Macet di Tengah Jalan?

Sebuah studi yang dilakukan University of North Florida menemukan bahwa sikap perfeksionis telah menjelma sebagai salah satu hambatan utama penyebab gagalnya para mahasiswa menyelesaikan tulisan akademik mereka.

Jika Anda ingin terlepas dari “belenggu” tulisan macet, Anda perlu memahami dulu penyebabnya. Secara umum, tulisan yang macet di tengah jalan disebabkan oleh beberapa hal ini:

Gagal Menentukan Arah

Sebenarnya Anda tahu ingin menulis apa, tetapi Anda tidak paham cara mengarahkan tulisan Anda sehingga melenceng dan akhirnya berhenti total.

Perfeksionis

Anda menginginkan tulisan Anda sempurna sejak Anda menorehkan karakter pertama. Namun, yang Anda dapatkan bukan tulisan tanpa kesalahan, melainkan pekerjaan Anda berjalan amat lamban dan pada akhirnya tak bergerak sama sekali.

Kehilangan Semangat Awal

Semula Anda begitu antusias saat memulai tulisan Anda. Namun, energi Anda menurun tajam beberapa saat kemudian.

Distraksi dan Kesibukan

Selain menulis, Anda tentu punya banyak urusan lain seperti pekerjaan, media sosial, dan urusan rumah tangga. Ketika tidak mampu membagi waktu untuk tugas-tugas tersebut, yang terjadi adalah saling mengganggu antara satu tugas dengan tugas lainnya.

Nah, untuk menyingkirkan writer’s block yang menghinggapi Anda, semestinya Anda memahami dulu apa penyebabnya. Anda bisa menanyakan pada diri Anda sendiri beberapa pertanyaan refleksi berikut ini:

  • Apa tujuan saya menulis?
  • Apakah saya terlalu kaku menggunakan struktur?
  • Apakah saya takut dicemooh karena tulisan saya jelek?

Ada sebuah artikel menarik ditulis Enago Academy terkait self-sabotage. Artikel itu menjelaskan banyaknya penulis menghentikan tulisannya bukan karena kehabisan kata, melainkan lantaran merasa dirinya tidak cukup baik dalam menulis.

Langkah-Langkah Menyelesaikan Draf Tulisan Macet

Sebenarnya telah banyak orang memberikan tips cara mengatasi writer’s block. Berikut ini beberapa langkah yang bisa Anda jalankan ketika aktivitas menulis Anda teradang kebuntuan.

Endapkan, Lalu Baca Ulang

Kebuntuan menulis bisa terjadi lantaran rasa jenuh yang menghinggapi Anda. Untuk mengatasinya, Anda bisa mengendapkan tulisan Anda untuk beberapa saat, misalnya 1-3 hari.

Setelah tulisan mengendap, Anda bisa membuka kembali dokumen berisi draf tulisan itu dan membacanya lagi. Sebisa mungkin, ketika membaca kembali tulisan itu, Anda bertindak seolah-olah bukan sebagai penulis.

Dengan memakai “kacamata pembaca”, tandailah bagian-bagian dari tulisan yang terasa kurang solid atau sulit dipahami. Adakalanya, jeda waktu semacam itu sangat membantu.

Bikin Struktur Sebelum Menulis

Kalau Anda merasa tulisan Anda melanglang buana ke mana-mana tanpa arah yang jelas, barangkali Anda perlu membuat struktur atau kerangka tulisan sebelum Anda menulisnya secara lengkap. Struktur tulisan yang umum digunakan berisi pembuka, materi utama, dan penutup.

Bila perlu, gunakan bullet point sebagai “terminal antara” yang akan mengembalikan Anda ke jalur yang benar ketika tulisan Anda berjalan ke arah yang tidak jelas.

Terapkan Freewriting

Teknik freewriting banyak digunakan untuk melancarkan penulisan draf pertama. Prinsip utamanya, menulislah apa pun yang terlintas dalam pikiran Anda tanpa memikirkan pola, tata bahasa, dan aturan-aturan penulisan apa pun.

New Yorker berpendapat bahwa freewriting dapat berfungsi sebagai terapi untuk melepas tekanan batin saat menulis.

Menulis Dahulu, Menyunting Kemudian

Jodi Picoult pernah berkata, “You can always edit a bad page. You can’t edit a blank page.”

Betul sekali ungkapan Picoult, bukan? Bagaimana mau mengedit halaman kosong?

Nah, jika Anda setuju dengan ucapan Picoult, menulislah dulu hingga kelar semua ide di benak Anda. Setelah selesai menulis, barulah Anda bersiap diri untuk menyunting tulisan Anda.

Gunakan Deadline Mini

Anda mau menulis 1.000 atau 2.000 kata? Tentu saja boleh.

Namun, jika untuk menghasilkan ribuan kata membuat Anda tidak segera mengetik, sebaiknya Anda turunkan target Anda atau bagilah target besar Anda menjadi bagian-bagian yang lebih kecil.

Menulis 300 atau 500 kata per hari jauh lebih baik jika hal itu benar-benar Anda lakukan. 300 kata yang Anda torehkan di Microsoft Word atau program apa pun setiap hari akan terkumpul menjadi lebih dari 1.000 kata dalam empat hari.

Bukankah itu lebih bagus ketimbang selama seminggu Anda tepekur saja memikirkan gagasan apa saja yang bisa menghasilkan sebuah tulisan sepanjang 1.000 kata?

Tulisan Tidak Harus Sempurna

Seberapa pun kualitasnya, tulisan yang dikerjakan hingga tuntas selalu lebih baik daripada tulisan indah yang hanya bertahan di benak. Tulisan yang Anda hasilkan bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan.

Jika Anda merasa karya Anda pantas diketahui banyak orang, Anda dapat mempublikasikannya melalui bermacam-macam media. Namun, ketika Anda meragukan kualitasnya, Anda masih bisa menggunakannya sebagai bahan pembelajaran atau bahkan sekadar disimpan di folder sebagai kenang-kenangan.

Jadi, tidak ada lagi alasan untuk takut menghadapi tulisan macet, bukan?

Leave a Comment