Menulis setiap bisa menjadi tantangan besar bagi sebagian orang. Namun, sebaliknya, kegiatan ini juga bisa berfungsi sebagai terapi yang menyembuhkan.
Mari telaah sisi mana yang paling dominan bagi Anda terkait aktivitas ini. Lalu, bagaimana Anda bisa menjadikan menulis harian sebagai alat produktivitas maupun refleksi pribadi.
Mengapa Menulis Setiap Hari Tidak Semudah yang Kita Bayangkan?
Menulis setiap hari bukan sekadar soal niat, tetapi juga menyangkut konsistensi. Program NaNoWriMo bisa menjadi contoh bagus untuk menggambarkan kondisi ini.
Jerry Jenkins, seorang penulis dan peninjau kepenulisan, menyatakan hanya sekitar 10%–15% peserta NaNoWriMo yang benar-benar menyelesaikan target dalam ajang tersebut. Dengan demikian, sekira 85%-90% peserta program itu gagal mencapai target dengan berbagai alasan.
NaNoWriMo (National Novel Writing Month) adalah sebuah program menulis tahunan berskala internasional yang diselenggarakan setiap bulan November. Tantangan utama program yang sudah digelar sejak 1999 itu adalah menulis sebanyak 50.000 kata selama 30 hari. Gerakan yang diprakarsai oleh oleh Chris Baty bersama 21 orang penulis lainnya di San Francisco Bay Area itu kini telah berkembang menjadi gerakan global yang melibatkan ratusan ribu peserta dari seluruh dunia.
Salah satu “biang kerok” yang kerap menghambat keasyikan seseorang menulis adalah sikap perfeksionis.
Dalam tulisannya di The New Yorker, Maria Konnikova menguraikan hasil riset psikolog Yale yang mengelompokkan hambatan kreatif menjadi beberapa tipe emosional. Salah satu bentuk hambatan menulis adalah perasaan tertekan karena ekspektasi yang berlebihan.
Berbagai Cara Mengatasi Hambatan Menulis
Lantas, bagaimana cara mengatasi hambatan menulis ini?
Ada berbagai cara mengatasi writer’s block, misalnya rajin berlatih menulis, membiasakan diri menulis pengalaman yang emosional, dan menulis bebas.
Jeff Goins pernah menulis tentang rutinitas menulis dalam blog How a Daily Writing Habit Makes You Better. Dalam sebuah artikel, Goins menjelaskan bahwa menulis rutin dapat memperkuat disiplin, membentuk kebiasaan, dan melemahkan hambatan internal dalam diri seorang penulis.
Seorang penulis membutuhkan banyak latihan untuk membiasakan diri dengan rutinitas menulis. Semakin sering ia berlatih menulis akan semakin memudahkan dirinya mulai aktivitas menulis yang sebenarnya. Dengan demikian, hambatan menulis bakal semakin terkikis.
Sebuah artikel yang terbit di situs American Psychological Association (APA) mengungkapkan pentingnya melepaskan beban dengan cara menuliskannya. Dalam artikel Writing to Heal, penulis menyatakan bahwa menuliskan pengalaman emosional yang terasa berat dapat memperkuat sistem imun sekaligus memperbaiki kondisi mental penulisnya.
Penelitian yang dilakukan oleh James Pennebaker menunjukkan bahwa praktik semacam ini membantu seseorang mengurai stres yang membebani dirinya. Pada akhirnya, hambatan psikologis rasa takut gagal akan berkurang dan kegiatan menulis bisa berjalan lebih lancar.
Freewriting adalah sebuah teknik menulis yang dilakukan tanpa penyuntingan selama waktu tertentu. Penggunaan metode ini dalam menulis dimaksudkan untuk membantu menekan ego dan inner-critic yang bermukim dalam diri penulis. Metode ini terbukti efektif mengatasi hambatan mental oleh adanya sikap perfeksionis atau rasa tidak cukup baik pada diri penulis.
Terapi Menulis Harian untuk Menguatkan Mental dan Fisik
Penelitian Baikie & Wilhelm menunjukkan bahwa menulis ekspresif secara rutin berpengaruh baik bagi kesehatan mental. Seseorang yang menulis secara ekspresif selama 15–20 menit dalam waktu 3–5 hari akan berkurang tingkat stresnya secara signifikan. Hal tersebut akan mengurangi frekuensi kunjungan ke dokter, meningkatkan mood, serta memperbaiki fungsi sistem imun dalam tubuhnya.
Untuk menjalankan terapi menulis secara rutin, ada banyak langkah yang bisa dijalankan. Langkah-langkah tersebut antara lain menetapkan tujuan yang sederhana, menulis secara bebas, dan membatasi ekspektasi atas tulisan yang dihasilkan.
Menentukan Tujuan Menulis
Ketika menetapkan tujuan menulis, sebaiknya menghindari target menulis yang terlalu tinggi. Tidak perlu berharap menghasilkan tulisan yang panjang dan mendapat pujian. Lebih baik fokus pada refleksi, ide spontan, atau kalimat pendek yang mencerminkan mood Anda.
Menulis Bebas
Mulailah sesi menulis secara bebas (freewriting) tanpa memikirkan tata bahasa, saltik (typo), dan aturan-aturan menulis lainnya. Selama proses menulis bebas, jangan mengedit tulisan hingga semua gagasan atau kegelisahan tertuang dalam tulisan.
Membatasi Ekspektasi
Melalui metode Tiny Habits, Dr. BJ Fogg menganjurkan untuk mulai kegiatan menulis dengan menetapkan target yang sangat kecil, jika perlu satu kalimat sudah cukup. Tujuan penetapan target super kecil ini untuk menjaga perasaan selalu berhasil mencapai target serta membentuk kebiasaan tanpa tekanan.
Jadi, apakah menulis setiap hari adalah bentuk tantangan atau terapi yang bisa menyembuhkan? Jawabannya bergantung pada cara memaknai prosesnya.
Mulailah aktivitas menulis hari ini juga walaupun menghasilkan satu kalimat saja. Melalui “micro writing” ini, kita sedang merawat kebiasaan yang kelak bisa menjadi alat refleksi, terapi, dan ekspresi diri.