Hampir semua penulis pernah mengalami satu momen ini. Ketika sampai pada tombol “Publikasikan”, mendadak muncul rasa ragu.
Sebenarnya kalimat demi kalimat telah dirangkai hingga tulisan selesai. Namun, keraguan itu tiba-tiba saja datang tanpa pernah diundang.
Serangkaian pertanyaan segera menyeruak di dalam benak:
- “Apakah tulisan saya layak dibagikan?”
- “Adakah orang yang mau membaca tulisan ini?”
- “Benarkah saya layak menyebut diri saya seorang penulis?”
Berbagai pertanyaan lain yang senada mungkin akan terus mengepung sang penulis yang dilanda keraguan.
Biasanya, setelah sampai tahap ini, sang penulis akan menunda atau bahkan membatalkan rencana menerbitkan karyanya. Momen selanjutnya mungkin lebih dramatis: dihapusnya tulisan yang sekian lama diutak-atik itu hingga tak berbekas.
Lantas, bagaimana sebaiknya menyikapi keraguan seperti ini?
Ragu-Ragu Menandakan Anda Peduli
Barangkali perlu dipertanyakan juga keyakinan diri seorang penulis yang tidak pernah merasa ragu. Benarkah ia seseorang yang memiliki kepercayaan diri tinggi?
Mungkin ia bukan percaya diri, melainkan tidak terlalu memikirkan kualitas hasil karyanya.
Hal sebaliknya bisa terjadi pada seorang penulis yang kerap dilanda keraguan. Bisa jadi ia sungguh peduli pada kualitas tulisan yang dihasilkannya.
Ia menginginkan pembaca mendapatkan manfaat dari tulisan yang disebarkannya. Ia berharap tulisannya bakal mencerahkan pikiran orang-orang yang membacanya. Kalaupun tidak bisa mencerahkan, setidaknya tulisannya mampu menghibur dan menghilangkan penat orang-orang yang membacanya.
Keraguan bisa muncul ketika tumbuh kesadaran pada diri sang penulis.
Pada awal kiprah kepenulisannya, biasanya seorang penulis cenderung puas dengan apa pun yang dihasilkannya. Namun, seiring berkembangnya wawasan yang dimilikinya, ia semakin menyadari pentingnya meningkatkan kualitas hasil karyanya.
Jadi, kesadaran ini bertindak sebagai pendorong munculnya rasa ragu dalam hatinya. Dalam situasi seperti ini, tidak salah kalau kita menyebut sang penulis telah naik kelas dalam proses kreatif yang dijalaninya.
Ada Ragu yang Sehat, Ada Pula yang Melumpuhkan
Rasa ragu memang bisa berdampak positif sehingga bisa disebut ragu yang sehat. Rasa ragu jenis ini akan mendorong upaya perbaikan.
Penulis tetap menjalankan aktivitas menulis dan menerbitkannya. Tak lupa, ia terus belajar dari berbagai sumber untuk meningkatkan kualitas tulisannya.
Sebaliknya, ada rasa ragu yang bersifat destruktif. Ketika keraguan jenis ini melanda seorang penulis, sang penulis akan menunda penerbitan karyanya. Ia pun akan diliputi perasaan minder dan menganggap tulisannya tak pernah layak edar.
Keraguan mesti dikelola dengan baik kalau kehadirannya membuat seseorang tidak berani mengambil risiko, lalu menghentikan aktivitas menulisnya. Setiap kegiatan selalu mengandung risiko.
Setiap tulisan yang dipublikasikan berpeluang diabaikan, dinilai, atau disalahpahami. Jika risiko-risiko itu menghilangkan keberanian seseorang untuk mempublikasikan karyanya, tentu saja sulit berharap ada pertumbuhan.
Belajar Berdamai dengan Keraguan
Memang tidak gampang menghilangkan keraguan. Namun, masih ada langkah realistis yang bisa diambil untuk menundukkan rasa ragu semacam itu. Kita bisa belajar “hidup berdampingan” dengan keraguan.
Ada beberapa langkah yang bisa membantu kita “berteman” dengan keraguan, misalnya:
- Menerima kenyataan bahwa tidak ada tulisan yang sempurna
- Berusaha mendapatkan kemajuan, tidak mengejar kesempurnaan
- Lebih banyak membandingkan tulisan kita dengan tulisan sebelumnya
- Mempublikasikan tulisan secara terbatas, dan berangsur-angsur memperluas cakupannya
Menulis adalah sebuah proses panjang. Setiap tulisan yang kita hasilkan bisa menjadi batu loncatan dalam perjalanan kita menuju hasil karya yang berkualitas.
Jadi, tidak ada alasan untuk berhenti menulis hanya karena kita dilanda keraguan yang tidak pada tempatnya.