Anak rewel saat puasa, terutama puasa pertama bagi mereka, adalah hal yang lazim terjadi. Puasa pertama bagi seorang anak memang kerap tidak berjalan mulus. Baru jam 10 pagi sudah bilang lapar. Jam 11 mulai mengeluh. Puncaknya, jam 12 drama dimulai.
Sebagai orang tua, kadang-kadang kita ikut lelah. Niatnya ingin melatih anak mencintai Ramadan, tetapi yang terjadi justru perang emosi.
Sebenarnya hal seperti itu wajar saja. Bagi anak-anak, belajar berpuasa bukan sekadar menahan lapar dan haus. Hal ini merupakan proses adaptasi fisik, mental, dan emosional. Seperti proses belajar lainnya, mengajari anak berpuasa Ramadan juga membutuhkan strategi.
Kita bisa menggunakan berbagai cara mengajarkan puasa kepada anak-anak tanpa disertai drama. Nah, sekarang kita akan membahas cara itu satu per satu.
Membuat Target Puasa Ramadan Bertahap yang Terasa Ringan
Banyak orang tua berharap anak-anak langsung menjalankan puasa secara penuh sejak awal Ramadan. Padahal, untuk anak usia dini, keinginan itu jelas tidak realistis.
Kita bisa menggunakan sistem target bertahap, misalnya:
- Minggu pertama: puasa sampai jam 10
- Minggu kedua: puasa sampai jam 11 atau sampai waktu Zuhur
- Minggu ketiga: sampai waktu Asar
- Setelah itu baru bertahap menuju puasa penuh sampai Maghrib
Dengan cara ini, anak-anak akan lebih sering merasa berhasil, meskipun belum berpuasa secara penuh sejak awal. Sebuah keberhasilan kecil akan mampu membangun semangat anak-anak untuk meningkatkan targetnya secara bertahap.
Menyajikan Visual Progres yang Menyenangkan
Umumnya, anak-anak menyukai sesuatu yang bisa dilihat dan diraba. Oleh sebab itu, menunjukkan bentuk visual dari progres yang dicapai anak-anak lebih efektif daripada sekadar kata-kataseperti, “Wah, puasa Adik bagus, ya.”
Bentuk visual bisa bermacam-mcam, misalnya:
- Tabel target harian
- Peta bintang Ramadan
- Stiker reward
Setiap kali anak berhasil mencapai target yang telah disepakati, berilah tanda penghargaan kepadanya. Bentuk penghargaannya pun bisa dibuat secara sederhana seperti gambar bintang atau jempol.
Cara ini akan membuat anak-anak merasa berpuasa seperti sebuah permainan yang menyenangkan, bukan beban yang memberatkan.
Menyiapkan Aktivitas untuk Mengalihkan Rasa Lapar
Biasanya muncul drama karena anak fokus pada rasa lapar yang dialaminya. Jadi, salah satu solusinya adalah mengalihkan fokus anak pada kegiatan-kegiatan yang menyenangkan.
Beberapa contoh aktivitas atau permainan yang bisa dilakukan anak-anak antara lain:
- Mewarnai gambar
- Mencari kata
- Membaca cerita inspiratif
- Membantu menyiapkan takjil sederhana
Ketika anak-anak sibuk, mereka akan “melupakan” puasa sehingga bisa mengurangi kemungkinan terjadi drama.
Memberikan Validasi atas Perasaan Anak-Anak
Suatu saat, mungkin anak berkata, “Bunda, aku lapar banget ….”
Ketika mendengar keluhan anak semacam itu, sebaiknya kita tidak langsung menjawab, “Sabar, dong!”
Ada cara lain menaggapi keluhan anak yang lebih elegan karena terdengar simpatik. Misalnya, “Iya, Bunda tahu, pasti rasanya berat, ya. Kamu hebat lho, bisa bertahan sampai sekarang.”
Kalimat sederhana ini membuat anak merasa dirinya dipahami. Nah, ketika anak merasa dimengerti, ia akan bersikap lebih kooperatif.
Menyediakan Sistem Reward yang Sehat
Pemberian reward atau penghargaan hampir pasti akan menyenangkan hati anak. Kita bisa memberikan reward dalam bentuk sederhana, tidak harus berupa hadiah besar.
Beberapa contoh bentuk penghargaan yang bisa kita berikan kepada anak-anak antara lain:
- Tambahan waktu bermain selama 15 menit
- Kesempatan memilih menu berbuka puasa
- Sertifikat (bisa kita buat sendiri)
Pengakuan atas usaha yang telah dilakukan anak-anak sangat berarti bagi mereka. Jadi, alangkah bagus kita memperhatikan usaha atau proses dan bukan hanya melihat hasilnya.
Mengapa Pendekatan Ini Bisa Berjalan Efektif?
Ada berbagai alasan yang membuat pendekatan semacam ini berjalan efektif, antara lain:
- Anak-anak akan belajar mencintai proses.
- Jika sejak awal Ramadan anak-anak merasa nyaman, mereka akan bersemangat menjalankan kegiatan-kegiatan hingga akhir Ramadan
- Jika puasa Ramadan pertama terasa menyenangkan, anak-anak akan menantikan Ramadan berikutnya dengan senang.
Membangun pengalaman positif membuat anak-anak menyukai puasa dan berbagai aktivitas Ramadan lainnya.
Ingin Panduan 30 Hari Puasa Ramadan Siap Pakai?
Barangkali Anda terbayang ribetnya menjalankan program ini. Sebetulnya program seperti ini tidak terlalu menguras tenaga dan pikiran.
Sekarang banyak tersedia panduan menjalankan kegiatan Ramadan bagi anak-anak. Beberapa materi yang bisa Anda dapatkan dari panduan-panduan tersebut antara lain:
- Sistem target puasa harian yang jelas
- Peta bintang Ramadan yang bisa dicetak
- Aktivitas dan permainan yang menyenangkan
- Template sertifikat penghargaan
Panduan lengkap dan praktis semacam itu terdapat dalam sebuah ebook berjudul Ramadan Ceria untuk Anak: Panduan 30 Hari Puasa & Aktivitas Ramadan. Anda bisa mendapatkan ebook tersebut melalui tautan (link) berikut ini:
Klik di sini
Ebook ini dirancang bagi orang tua yang tidak mau repot membuat sistem sendiri dari nol. Anda tinggal membuka ebooknya, lalu menjalankan program yang siap pakai.
Puasa adalah latihan kesabaran, disiplin, dan empati. Semua itu bisa diajarkan dengan cara yang lembut dan menyenangkan.
Ketika kita bisa menjalankan program yang menyenangkan, hasilnya bisa di lura dugaan. Ramadan tidak lagi menjadi pengalaman penuh tekanan, melainkan akan menjadi kenangan indah dan kehadirannya terus dinantikan.