Cara Menulis yang Bagus bagi Robot dan Manusia

Keinginan menulis yang bagus acap berbenturan dengan harapan tampil di halaman depan mesin peramban. Bagaimana cara menyelaraskan keduanya?

Membincang topik cara menulis artikel dengan baik akan memunculkan beragam pendapat. Setiap kepala memiliki pandangan berbeda-beda.

Banyak orang yang mengikuti teori menulis tertentu sesuai dengan hal yang diyakininya. Maka, mereka akan menulis dengan berusaha mengikuti alur tertentu.

Sebaliknya, tak sedikit pula orang yang berprinsip “yang penting nulis”. Orang-orang yang masuk ke dalam golongan ini umumnya tidak begitu peduli dengan aturan-aturan menulis.

Saya tidak akan membahas teori-teori tantang menulis. Saya pun tak hendak membincang perbedaan pendapat antara pengikut “menulis sesuai pakem” dengan barisan “penulis nekat”.

Saat ini saya lebih tertarik untuk menuturkan pengalaman menulis saya belakangan ini. Meskipun tidak berbobot, saya merasa pengalaman ini cukup menarik untuk saya ceritakan di sini.

Mudah-mudahan saja para pembaca masih bisa mengais sedikit manfaat darinya.

Benarkah Kualitas Konten Tak Lagi Menjadi Raja?

Sebelum mengenal blog, saya cuma merasakan sebuah beban yang menggelayuti pikiran saya dalam proses menulis. Saya hanya memikirkan bagaimana cara menulis yang bagus hingga menghasilkan tulisan yang berkualitas dan berfaedah bagi pembaca.

Masa itu merupakan keadaan yang sangat menyenangkan. Sayangnya, era seperti itu telah lama berlalu.

Beban saya bertambah setelah sedikit demi sedikit saya mulai mengenal dan memahami kaidah penulisan artikel bernama SEO, kependekan dari Search Engine Optimization. Sejak itulah, robot-robot perayap membuat konsentrasi saya terpecah.

Ketika sedang asyik merangkai kata demi kata, kalimat demi kalimat, mendadak saya tersentak dengan sebuah kegelisahan. Pikiran saya terusik oleh pertanyaan-pertanyaan yang kini hampir selalu mendesak-desak untuk diperhatikan, “Ini sejalan dengan SEO nggak?”

Sulit bagi saya untuk mengabaikan desakan pertanyaan semacam itu. Biasanya jari-jari saya berhenti sejenak mengetikkan karakter-karakter pada layar komputer.

Lalu telapak tangan segera menggenggam tetikus (mouse) dan menggulirkan kursor ke ujung atas halaman Microsoft Word yang terbuka. Saya mengamat-amati judul bakal artikel ini dengan sebuah harapan.

“Semoga kalimat-kalimat yang saya tampilkan pada isi artikel ini mendukung kata kunci yang telah saya torehkan pada judul artikel.”

Silakan baca juga tulisan tentang semangat menulis yang menyala di Hari Kemerdekaan.

Bila saya tak menemukan kesesuaian di antara keduanya, segera saja rasa gelisah menyergap pikiran saya.

Langkah berikutnya yang saya lakukan adalah menimbang-nimbang dalam hati. Apakah sebaiknya saya mengutak-atik kembali kalimat-kalimat yang telah saya tuangkan sebagai isi artikel atau mengoreksi judulnya.

Suatu kondisi yang tentu saja menghambat kelancaran saya menyelesaikan sebuah tulisan. Kini, kualitas tulisan tak lagi menjadi satu-satunya pertimbangan. Bahkan, adakalanya pemeringkat konten di internet itu yang tampil bak panglima.

Sepertinya konten telah turun tahta. Ia tak lagi duduk di singgasana sebagai seorang raja.

Dilema antara Menulis yang Bagus dan Tuntutan Dunia Maya

Dalam suasana menghadapi dilema khas yang dihadapi seorang penulis yang terjun ke dunia blogging, saya jadi mengingat sebuah lagu.

Kalau tidak keliru, Nella Kharisma pernah mendendangkan lagu berirama dangdut ini. Entah dia atau pedangdut lain yang mempopulerkannya, saya tidak tahu.

Bukan penyanyinya yang menjadi daya tarik lagu ini hingga saya perlu menyebutnya dalam tulisan ini. Bait-baitnya cukup menggambarkan kondisi saya saat saya berhadapan dengan sebuah dilema yang kontradiktif.

Dalam urusan ini, saya menggolongkan diri saya ke dalam pilihan seperti yang disuarakan Nella. Bukan soal terlalu kaya atau terlalu miskin. Bukan pula masalah terlalu tinggi atau terlalu rendah.

“Ah, sedang-sedang saja!” Itulah pilihan saya.

Saya tidak merasakan “cinta mati” kepada kualitas konten. Sebaliknya, saya pun tidak ingin mengejar peringkat di jagat maya secara membabi buta.

Saya mau yang sedang-sedang saja.

Bisakah Menulis yang Bagus dan Disukai Mesin Pencari Sekaligus?

Ini sebuah pertanyaan yang kelewat sulit bagi saya untuk menjawabnya. Oleh karena itu, mohon maaf, saya tak akan membahasnya.

Seperti pernyataan yang telah saya ungkap sebelumnya, saya akan menempatkan posisi saya di antara kedua hal itu. Lantas, bagaimana caranya?

Dalam mengisi blog, saya biasa menjalankan tiga langkah berikut ini.

1. Menulis sambil membayangkan bahwa SEO itu fatamorgana belaka

Aktivitas ini membutuhkan upaya yang sangat keras. Tak henti-hentinya bayangan tentang sebuah tulisan yang tak dilirik mesin pencari berkelebat menggoda hati.

Saya tak selalu berhasil menghalau bayangan ini. Kalaupun berhasil, saya tetap harus menghabiskan waktu yang lebih lama karena terus-terusan berupaya mengusir “gangguan” robot-robot peramban yang tak henti-henti.

2. Memasang sarana (tool) penilai kaidah SEO

Saya telah memasang perangkat lunak dalam setiap blog yang saya kelola. Alat ini bekerja secara otomatis.

Setiap kali saya menyusun konsep artikel dalam blog, tool ini segera menunjukkan traffic light-nya. Saya bisa melihat nyala lampu merah, kuning atau hijau pada setiap unsur artikel yang berkaitan dengan penilaian optimasi mesin pencari.

Saya mencatat setidaknya terdapat 14 faktor yang dapat mempengaruhi nilai SEO dalam model yang dikembangkan tool ini. Faktor-faktor itu antara lain:

  • Judul artikel: panjang pendeknya judul.
  • Kata kunci: panjang pendeknya kata kunci, frekuensi penyebutan kata kunci dalam artikel, ketersediaan kata kunci pada awal artikel, apakah kata kunci pernah dipakai dalam artikel sebelumnya, dan tercantumnya kata kunci dalam sub judul.
  • Tautan (link): tautan internal dan tautan eksternal.
  • Meta description: panjang pendeknya meta description.
  • Kondisi artikel: panjang pendeknya artikel.

3. Menyelaraskan artikel dengan kebutuhan SEO

Pada langkah terakhir, saya berusaha menyelaraskan antara keinginan untuk menulis yang bagus dengan kebutuhan untuk mendapatkan skor SEO yang baik. Yang sudah pasti, artikel yang saya hasilkan tidak akan memenuhi kedua keinginan itu secara absolut.

Ketika saya menemukan ketidaksesuaian di antara keduanya, saya akan memasukkan unsur SEO tanpa mengurangi esensi artikel secara signifikan. Jika hal ini terlalu sulit untuk dilakukan, biasanya saya akan mengorbankan penilaian SEO.

Misalnya saja, saya kerap tidak bisa memenuhi salah satu syarat optimasi yang baik. Syarat yang saya maksudkan adalah tercantumnya kata kunci dalam bagian awal artikel.

Saya tidak akan memaksakan diri untuk menyisipkan kata kunci ke dalam bagian ini jika benar-benar tidak cocok dengan konteks kalimat dan artikel secara keseluruhan. Saya akan berusaha menutup kekurangan nilai sektor ini dengan memperbaiki skor pada sektor yang lain.

Sepanjang saya nge-blog, cara yang saya lakukan ini sering menghasilkan nilai optimasi yang bagus. Hal ini saya ketahui dengan melihat lampu indikator secara keseluruhan menyala hijau.

Dari 14 indikator pada tool SEO yang saya pasang, paling sering saya mendapatkan antara 12 hingga 13 warna hijau. Jadi hanya satu atau dua saja indikator yang mendapat nilai sedang dengan warna kuning atau kurang dengan simbol warna merah.

Nah, prinsip “yang sedang-sedang saja” ternyata bisa juga menghijaukan SEO tanpa menurunkan kualitas artikel secara signifikan.

Jadi, tidak mustahil kita menulis yang bagus dan tetap berkesempatan tampil di halaman pertama hasil pencarian di dunia maya.

Leave a Comment