Singkirkan Hambatan dalam Menulis Berwujud Rasa Takut

Ketakutan adalah sebentuk hambatan dalam menulis yang merisaukan. Saya telah membuktikan bahwa rasa takut itu sering tak menjadi kenyataan.

Masih cukup jelas terbayang dalam ingatan saya beberapa peristiwa menyedihkan yang terjadi belasan tahun silam. Dalam kesempatan ini, saya akan membeberkan beberapa contohnya.

Semasa bersekolah di tingkat SMA, secara sembunyi-sembunyi saya menggambar kartun pada selembar kertas.

Setelah selesai, segera saja saya memasukkan gambar-gambar itu ke dalam amplop coklat. Bukan apa-apa, saya hanya takut ada orang yang “memergoki” hasil karya saya itu.

Bila waktu masih memungkinkan, saya akan secepatnya ngegas sepeda motor atau memancal pedal sepeda onthel saya.

Sambil menjinjing amplop coklat berisi gambar kartun dan surat pengantar, saya melajukan kendaraan menuju Kantor Pos Kecamatan. Maksud saya tentu saya mengeposkan amplop coklat besar beserta isinya ke redaksi koran atau majalah.

Silakan baca tulisan yang mengulas dilema antara menggunakan tata cara menulis bertahap atau menulis dengan mengalir saja.

Menginjak masa kuliah, tabiat saya tidak berubah.

Seringkali saya meminjam mesin tik teman se-kos dengan kalimat, “Untuk ngerjain tugas dari dosen.” Padahal saya hendak menulis cerita dengan mesin tik pinjaman itu.

Cara mengirimkan cerita yang saya bikin hampir sama dengan cara saya mengirim kartun semasa SMA. Bedanya, saya tak perlu ke Kantor Pos Kecamatan karena di kampus saya bisa menemukan bis surat.

Namun, proses memasukkan amplop ke dalam bis surat sama saja. Saya harus menengok ke kanan dan ke kiri dulu, memastikan tidak ada orang yang menyaksikan perbuatan saya.

Ha ha ha. Untung saja masa itu belum banyak terpasang CCTV di ruang publik, dan juga belum masuk era orang keranjingan mengunggah video viral di medsos.

Itulah dua contoh kejadian yang menunjukkan bahwa saya tidak memiliki cukup keberanian untuk “mengabarkan” kepada dunia bahwa saya suka menulis.

Sebongkah besar hambatan dalam menulis hampir selalu mengadang laju keinginan saya berkiprah di dunia kepenulisan.

Ubah Hambatan dalam Menulis Menjadi Kesempatan

“Tidak ada penghambat menulis yang lebih besar kecuali ketakutan dinilai.”

Mohammad Fauzil Adhim, seorang penulis buku-buku tentang keluarga dan motivasi, telah menuliskan kalimat di atas dalam bukunya Inspiring Words for Writers.

Saya baru membaca kalimat ini belasan tahun setelah peristiwa memasukkan amplop ke dalam bis surat secara sembunyi-sembunyi. Pada saat bis-bis surat sudah menghilang dari tempat-tempat kedudukannya, saya baru menyadari kebenaran kalimat itu.

Saya harus mengakui bahwa saya mengidap sebentuk ketakutan yang sebenarnya tak perlu terjadi.

Kemungkinan akan adanya penilaian orang akan tulisan-tulisan saya telah membuat saya sulit mengembangkan kemampuan menulis. Saya harus melakukan kegiatan yang mengasyikkan itu sembari menyembunyikan diri.

Sambil terus “main petak umpet”, saya melanjutkan kegemaran menulis selama berada di bangku kuliah.

Beberapa tulisan yang saya hasilkan sempat bertengger di halaman-halaman majalah dan tabloid yang ketika itu cukup berkibar karena tak banyak memiliki pesaing.

Melalui tulisan pula beberapa kali saya menghasilkan uang ala kadarnya untuk membantu menutup kekurangan biaya kuliah. Saat itu, sebuah harapan sempat tersembul dalam hati.

Ternyata menulis bisa menjadi sarana penopang hidup. Tulisan-tulisan yang menjadi sumber ketakutan justru mendatangkan penghasilan.

Sayang sekali, sesudah periode itu, saya hampir berhenti total dari kegiatan menulis. Kali ini bukan rasa takut yang menjadi penyebabnya.

Setamat kuliah, saya mendapatkan sebuah pekerjaan kantoran. Kesibukan kerja telah menjadi dalih bagi saya untuk “pensiun dini” dari dunia menulis.

Kerja kantoran memang lebih menjanjikan dalam urusan finansial ketimbang terus berkutat menulis dan berharap memperoleh penghasilan dari sana.

Kalaupun saya tetap menulis, itu sebatas menulis surat-surat dinas dengan format yang telah ditentukan. Tentu saja, unsur kreativitas nyaris tak berbekas.

Menulis, Aktivitas Seru yang Menimbulkan Rasa Rindu

Namun, jagat tulis-menulis terlalu memikat untuk saya tinggalkan. Rasa rindu telah mengundang saya mulai menulis lagi beberapa tahun kemudian.

Setelah sekitar dua tahun mengisi sebuah blog keroyokan, saya mulai membangun blog sendiri.

Buku-buku dan artikel-artikel yang membahas tetek-bengek urusan menulis kembali saya buka satu per satu. Suatu ketika saya menemukan salah satu kalimat yang mengingatkan saya akan masa-masa awal ketertarikan saya dengan dunia kepenulisan.

Baca juga kisah seorang penulis terkenal yang awalnya tidak berencana menjalani profesi penulis.

Hingga saat ini pun saya belum sepenuhnya terbebas dari rasa takut. Rasa takut dinilai seperti yang dikatakan Mohammad Fauzil Adhim.

Bedanya, kini saya bisa lebih tenang menghadapi rasa takut itu karena tiga alasan.

Pertama, saya telah memiliki seperangkat alat menulis sederhana sehingga tak perlu mencari-cari alasan untuk meminjamnya dari orang lain.

Kepemilikan sarana menulis berupa laptop amat membantu kelancaran saya menghasilkan karya tulis. Selain bisa menulis tiap ada kesempatan, saya pun tak perlu mencari-cari alasan saat harus meminjamnya kepada orang lain.

Kedua, sekarang saya, dan kita, telah berada dalam dunia yang nyaris dikuasai teknologi tinggi.

Saya tak lagi membutuhkan bis surat untuk mengeposkan tulisan-tulisan saya. Dari bilik atau teras rumah pun, hanya dalam hitungan sepersekian detik, naskah saya telah tiba dengan selamat di alamat tujuan.

Terakhir, saya telah menayangkan tulisan-tulisan secara daring hingga semua orang bebas membacanya.

Jadi, saya telah menunjukkan bahwa saya tak lagi terlalu takut orang akan menilai tulisan-tulisan saya. Dan, yang lebih penting, hingga kini saya tidak pernah mendapatkan penilaian seburuk yang saya bayangkan sebelumnya.

Ternyata, ketakutan yang menghantui seringkali tidak benar-benar terjadi. Membuktikan hal ini adalah cara terbaik mengatasi rasa takut agar tidak menjadi hambatan dalam menulis.

Leave a Comment