Ikut Tata Cara Menulis Artikel Baku atau Mengalir Saja?

Banyak teori mengenai tata cara menulis artikel beredar di berbagai media. Haruskah kita mengikutinya atau menulis sesuai gaya kita saja?

Secara umum, penulis bisa digolongkan menjadi dua jenis dilihat dari proses menghasilkan tulisan.

Golongan pertama berisi penulis-penulis yang mengikuti tata cara menulis artikel sesuai aturan-aturan tertentu. Sedangkan kelompok lainnya berprinsip “kalau mau menulis ya menulis saja” tanpa menggunakan pola dan aturan-aturan yang baku.

Baca juga ulasan mengenai cara menyelaraskan tulisan agar pembaca dan robot perayap meminatinya.

Seperti juga dalam segi kehidupan yang lain, saya yakin tidak ada penulis yang berada pada salah satu di antara kedua kutub itu secara ekstrem. Umumnya orang akan mengambil tempat di antara keduanya dengan kecenderungan ke arah salah satu di antaranya.

Mau Mengikuti Tata Cara Menulis Artikel Tertentu atau Nekat Saja?

Para pengikut “paham” menulis dengan aturan tentu memiliki alasan ketika meyakini bahwa tulisan yang bagus harus melalui perencanaan yang matang dan kerja yang terstruktur. Dengan keyakinan itu, mereka mulai merangkai kata setapak demi setapak sesuai alur yang menjadi pedomannya.

Sebaliknya, para penulis golongan nekat akan sibuk mengetik kata demi kata tanpa perlu melirik “contekan” yang berisi tata cara menulis yang baik. Mereka tidak memperlakukan aturan-aturan penulisan sebagai sebuah keharusan.

Saya menemukan dua untai kalimat inspiratif yang ditulis oleh seorang penulis buku yang produktif. Mohammad Fauzil Adhim, nama penulis yang saya maksudkan, menuliskan kalimat-kalimat itu dalam bukunya yang berjudul Inspiring Words for Writers.

“Gagasan yang baik sering tidak tersampaikan karena kita sibuk memikirkan bagaimana membuat awalan. Padahal, awalan yang terbaik adalah cetusan gagasan itu sendiri.”

Begitulah kalimat bagus yang ditulisnya. Saya terkesan dan acap merasakan kebenaran isi yang terkandung dalam kedua kalimat itu.

Dalam banyak kesempatan, seringkali saya duduk termangu memandangi papan tik (keyboard) yang nyaris tak tersentuh jari. Begitu pula layar laptop yang hanya memperlihatkan kursor yang berkedip-kedip.

Semangat menulis telah menggema sejak sebelum layar terbuka. Namun hingga pantat terasa panas dan punggung pegal-pegal, sang kursor tetap tak beranjak.

Bagaimana ia mau bergerak kalau jemari tangan saya tak kunjung menekan karakter-karakter yang tertera di permukaan tombol keyboard?

Sesekali saya menganut paham proses menulis yang terstruktur. Salah satu alat bantu yang kerap saya gunakan adalah mind map.

Setelah membuat kerangka tulisan menggunakan perangkat bikinan Tony Buzan itu, saya mengembangkan kalimat demi kalimat hingga menjadi sebuah artikel yang utuh.

Ketika kadang-kadang mencoba menulis secara “nekat”, saya hampir tak pernah benar-benar berhasil melakukannya.

Sebentar-sebentar saya harus men-scroll kursor ke atas untuk menelusuri kemungkinan adanya penulisan yang kurang pas. Dan bila menemukannya, saya akan tergerak untuk segera mengeditnya.

Mengubah Kebiasaan Tak Semudah Membalik Telapak Tangan

Namun belakangan ini saya sudah jarang menyapa mind map. Kecenderungan saya telah mulai mengarah ke nekat.

Artikel ini termasuk salah satu tulisan yang saya hasilkan secara ngasal. Ketika jari-jari tangan saya mulai menyentuh tuts papan tik, saya belum bisa membayangkan bakal seperti apa isi tulisan ini.

Saya memulai paragraf pertama hanya berbekal tema membandingkan cara menulis yang terstruktur dengan cara menulis yang “asal tulis aja”. Barangkali kalimat lain Mohammad Fauzil Adhim berikut ini bisa mewakili apa yang tengah saya lakukan.

“Tak ada resep yang lebih baik untuk menjadi penulis, kecuali dengan menulis sekarang juga!”

Buku yang memuat kalimat-kalimat yang saya kutip pun seolah-olah tanpa sengaja saya temukan di tengah perjalanan. Saya juga tak menduga bakal memilih kalimat-kalimat itu, bukan kalimat lainnya. Seakan-akan mereka nongol begitu saja.

Meskipun demikian, terdapat unsur dalam “teori menulis nekat” yang belum sepenuhnya bisa saya terapkan. Godaan untuk sering memeriksa penggunaan tata bahasa dan tetek bengek “aturan” lainnya masih kerap menjadi “penghambat”.

Baca juga tulisan yang membahas sulitnya mengelola editor internal yang kerap mengganggu proses menulis yang sedang berjalan.

Saya suka membayangkan sebuah proses menghasilkan tulisan “tanpa aturan” seperti ini. Mulai menulis karakter pertama hingga titik penutup selancar mengemudikan kendaraan di jalanan Jakarta pada hari Lebaran.

Setelah semua gagasan tertuang, saya akan memeriksa seluruh tulisan dan menambah, mengurangi atau memperbaiki bagian-bagian yang perlu saya perbaiki. Namun keinginan semacam itu tak pernah kesampaian.

Sungguh tak gampang membuat sebuah kebiasaan lama hilang dan menggantinya dengan kebiasaan baru yang kita inginkan. Kabar baiknya, (meskipun tertaih-tatih) saya telah memulainya.

Bagaimana dengan Anda? Masuk golongan mana strategi menulis Anda?

Apakah Anda mengikuti tata cara menulis artikel dengan pelbagai aturannya atau mengalir saja?

Leave a Comment