Tingkat literasi Indonesia terpuruk, beda jauh dengan posisinya sebagai pemilik perpustakaan terbanyak kedua di dunia. Mengapa demikian?
Ada yang ingat hari ini, 14 September, sebagai Hari Kunjung Perpustakaan? Atau tidak pernah tahu sama sekali adanya hari istimewa bagi dunia kepustakaan pada hari ini?
Sepanjang tahun 2019 yang lalu, rata-rata orang berkunjung ke perpustakaan di wilayah DKI Jakarta sebanyak 307 ribu orang per bulan. Jumlahnya berfluktuasi dari bulan ke bulan.
Angka-angka itu berdasarkan data dari data.jakarta.go.id.
Silakan baca ulasan tentang pertimbangan untuk memilih tata cara menulis baku atau menulis secara nyaman saja.
Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Jakarta yang mencapai 10,5 juta jiwa, maka angka rata-rata kunjungan sebesar 2,93%.
Kecil sekali angkanya, ya? Dalam sebulan, di antara 100 orang warga ibu kota, nggak sampai 3 orang yang mengunjungi perpustakaan.
Atau biar lebih adil (fair), kita gunakan angka jumlah penduduk usia produktif dari umur 15 hingga 64 tahun sebagai pembandingnya.
Dengan jumlah penduduk produktif sebanyak 7,5 juta jiwa, maka angka persentase kunjungan ke perpustakaan di DKI Jakarta menjadi sebesar 4,10%.
Wilayah Jakarta selaku ibukota negara tentu saja merupakan salah satu daerah paling maju di Indonesia.
Jika angka di ibu kota saja hanya berkisar 4%, kira-kira sebesar apa angka di daerah lainnya? Kemungkinan sangat jauh di bawah angka Jakarta.
Urusan Membangun Perpustakaan, Indonesia Hampir Jadi Juara Dunia
Dalam sebuah pemberitaannya, situs Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) mengungkapkan sebuah fakta yang mencengangkan. Sesuai data Perpusnas, negara kita memiliki perpustakaan sebanyak 154.358 buah.
Jumlah sebanyak itu menempatkan negara kita pada posisi kedua sebagai negara yang memiliki perpustakaan terbanyak di dunia. Indonesia hanya kalah dari India yang mempunyai jumlah infrastruktur serupa sebanyak 323.605 buah.
Sebuah peringkat yang menunjukkan bahwa Indonesia mampu bersaing di kancah dunia dalam hal membangun infrastruktur perpustakaan. Sebuah potensi yang menjanjikan, bukan?
Apakah posisi sebagai juara kedua dunia itu menjadi indikasi yang baik bagi tingkat literasi Indonesia?
Tingkat Literasi Indonesia yang Memilukan
Sebelum tiba pada kesimpulan itu, mari kita telusuri beberapa kenyataan lainnya.
Pertama, jumlah perpustakaan yang banyak tidak akan memadai bila tidak mampu menampung jumlah penduduk dalam suatu wilayah atau negara.
Nah, kita akan menghitung persentase jumlah perpustakaan dibandingkan dengan jumlah penduduk negara-negara “pesaing” Indonesia dalam urusan ini.

Di antara empat negara dengan jumlah perpustakaan terbanyak di dunia, rasio jumlah perpustakaan dan jumlah penduduk tertinggi dicapai oleh sebuah negara yang berada di benua Eropa. Rusia membukukan angka persentase tertinggi sebesar 0,08%.
Angka ini lebih tinggi dibandingkan negara-negara di Asia seperti India, Indonesia dan Tiongkok.
Kedua, jumlah perpustakaan yang banyak tidak akan memberi bermanfaat bila hanya sedikit penduduk yang berkunjung dan “menyantap” koleksi pelbagai jenis bacaan yang tersimpan di dalamnya.
Sebuah kajian menunjukkan bahwa tak satu pun kota di Indonesia yang mayoritas penduduknya gemar membaca. Dalam kajian ini, ukurannya adalah membaca buku (yang dipinjam dari perpustakaan setempat).
Literary Hub menyampaikan data yang pernah dirilis oleh World Cities Culture Forum perihal banyaknya buku perpustakaan yang dipinjam warga dalam suatu kota.
Berdasarkan data tersebut, tak sebuah kota pun di negara kita masuk dalam daftar kota dengan jumlah buku perpustakaan umum yang dipinjam per kapita per tahun dalam jumlah banyak.
Sebagian besar kota yang masuk daftar berasal dari negara-negara maju seperti Jepang, Amerika Serikat, Rusia dan Perancis.
Baca juga ulasan tentang kebiasaan-kebiasaan masa muda Ahmad Tohari yang tidak sengaja mengantarnya menjadi penulis terkenal di kemudian hari.
Ketiga, data tingkat literasi negara-negara di dunia menunjukkan kecenderungan literasi yang lebih jelas dibandingkan negara kita.
Beberapa media pernah mengabarkan berita seputar tingkat literasi Indonesia dibandingkan negara-negara lain di dunia.
Kompas.com misalnya, mewartakan bahwa Indonesia menempati peringkat yang sangat rendah dalam hal kebiasaan membaca penduduknya. Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Unesco, Indonesia berada pada posisi ke-60 di antara 61 negara yang disurvei.
Peringkat kedua dari bawah! Posisi itu menunjukkan bahwa minat baca penduduk Indonesia masih sangat rendah.
4 Dimensi Rendahnya Literasi
Ada empat dimensi yang menjadi penyebab rendahnya minat baca sesuai kajian tersebut. Keempatnya adalah dimensi kecakapan, akses, alternatif dan budaya.
Di antara keempat dimensi itu, dimensi akses membukukan angka paling rendah. Dimensi akses sendiri menyangkut akses ke perpustakaan, baik perpustakaan daerah, perpustakaan umum, perpustakaan milik komunitas maupun perpustakaan yang berada di sekolah.
Seorang peneliti di Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang, Kemendikbud, Lukman Solihin mengemukaan mengenai dimensi-dimensi riset tersebut. Selanjutnya, ia menyatakan pentingnya penyebaran buku-buku digital untuk mengatasi sulitnya akses masyarakat terhadap perpustakaan.
Sejak berjangkitnya pandemi Covid-19, banyak sekolah melaksanakan sistem belajar daring.
Selama itu pula pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan masyarakat menemukan dan berusaha memperbaiki kendala yang banyak terjadi selama pelaksanaan pembelajaran daring. Hambatan terbesar dalam pembelajaran jarak jauh ini menyangkut terbatasnya jaringan internet, terutama di daerah pelosok.
Baca juga tulisan mengenai kegiatan menulis yang menggairahkan, tak kalah asyik dibandingkan memancing ikan.
Dengan adanya perbaikan-perbaikan itu, semestinya kendala berupa terbatasnya jaringan internet semakin kecil. Nah, mudah-mudahan saja upaya-upaya perbaikan itu bisa turut melancarkan kegiatan-kegiatan literasi secara daring seperti yang diharapkan oleh Kemendikbud.
Pada satu sisi, kita memang patut mensyukuri banyaknya perpustakaan yang tersebar di seluruh Indonesia. Namun demikian, pemanfaatan koleksi yang ada di dalamnya akan lebih menentukan kualitas literasi masyarakat Indonesia.
Saat ini kita baru bisa membayangkan sesuatu yang indah di kejauhan. Sekilas bayangan indah berupa banyaknya perpustakaan yang dibarengi tingkat literasi Indonesia yang tinggi.