Ebook adalah produk digital yang menjanjikan. Hal itu didukung oleh kebiasaan mayoritas warga Indonesia yang lebih suka membaca buku menggunakan smartphone.
83% warga Indonesia menggunakan telepon pintar (smartphone) untuk membaca buku. Sisanya, 12% membaca buku fisik dan 1% menggunakan tablet.

Silakan baca ulasan mengenai banyaknya perpustakaan di Indonesia yang tak sebanding dengan tingkat literasi warganya.
Lantas, apakah kita bisa langsung mengambil sebuah kesimpulan dari survei yang dilakukan oleh Rakuten Insight itu? Benarkah hasil studi itu mengindikasikan pasar yang terbuka lebar untuk memproduksi dan menjual ebook di Indonesia?
Artikel ini akan membahas seluk-beluk ebook sejak terbit untuk pertama kalinya hingga bentuk terkini dan peluang pasarnya.
Mengenang Kelahiran Ebook Pertama di Dunia
Serasa tak lengkap membincang ebook tanpa menyebut nama Michael S. Hart. Sebab, Pak Hart dikenal sebagai sosok yang pertama kali membikin ebook.
Ketika itu, seusai menyaksikan pertunjukan kembang api pada tanggal 4 Juli 1971, ia singgah ke sebuah toko kelontong. Di tempat itu, Hart mendapatkan salinan the Declaration of Independence yang tercetak pada sebuah perkamen.
Dengan maksud hendak mengirimkannya sebagai email, ia lantas mengetik ulang naskah Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat itu ke dalam komputer. Upayanya sempat dicegah oleh seorang rekannya lantaran dikhawatirkan bakal mengganggu sistem.
Silakan baca juga tulisan yang membahas tantangan era digital dalam dunia kepenulisan.
Namun, ia mengesampingkan peringatan sang teman dengan menuliskan pesan bahwa teks tersebut dapat diunduh. Akhirnya, proyek penyebaran naskah secara elektronik itu pun dapat dijalankannya.
Nah, tulisan yang dikirim Hart itu kemudian diyakini merupakan kali pertama ebook dibuat. Dan, tentu saja Hart ditahbiskan sebagai pembuat ebook pertama di dunia.
Selain itu, momen yang berlangsung pada peringatan Hari Kemerdekaan Amerika Serikat itu juga menjadi cikal bakal kelahiran Gutenberg Project. Seperti kita ketahui, proyek ini kelak berkembang menjadi perpustakaan buku digital pertama di dunia.
Perkembangan Ebook Selanjutnya
Usai dipelopori oleh Hart, buku digital mulai berkembang dan terutama digunakan oleh kalangan akademis. Keterbatasan penyebaran ebook itu disebabkan adanya keterbatasan akses komputer yang dimiliki masyarakat umum.
Kemudian, buku elektronik mulai merambah ke ranah komersial pada periode 1980-an hingga 1990-an. Berbarengan dengan meluasnya penggunaan internet, saat itu mulai ditemukan beragam alat untuk membaca ebook.
Perusahaan Sony, misalnya, memperkenalkan perangkat yang dinamai Sony Data Discman pada tahun 1992. Alat ini dipakai untuk membaca ebook yang tersimpan dalam compact disc.
Pada periode yang sama, berkembang juga format-format yang memungkinkan ebook lebih gampang diakses dan dinikmati pembaca. Di antara format-format yang berkembang pada masa itu adalah PDF yang dirilis Adobe pada 1993.
Kita pun lantas mengenal PDF sebagai salah satu format yang paling banyak digunakan dalam pembuatan buku digital hingga sekarang.
Menjelang akhir era 1990-an, Barnes & Nobles mulai membuka toko ebook secara daring (online). Perusahaan ini pun menjadi pelopor jenis toko daring yang menjual buku digital, dan kemudian diikuti oleh banyak toko lainnya.
Perkembangan buku digital selanjutnya ditandai munculnya inovasi-inovasi penyebaran ebook yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar. Tercatat, pada awal 2000-an, nama-nama tenar Amazon, Apple, dan Google menunjukkan kiprah mereka.
Amazon meluncurkan Kindle Books pada tahun 2007. Perangkat pembaca ebook ini menawarkan akses ke labih dari 90.000 judul melalui sarana internet.
Selain Amazon, Apple juga merilis produk andalan iBooks dan Google melakukan launching Google Play Books. Inovasi-inovasi itu telah mendorong ebook kian populer dan berkembang pesat.
Mulai tahun 2010 hingga kini, tampilan ebook semakin memikat. Komponen-komponen interaktif semacam audio, video, dan animasi mulai dimasukkan ke dalam ebook yang diproduksi pada masa ini.
Selain itu, berbagai aplikasi yang bisa dibuka di smartphone seperti Kindle App dan Google Books. Ketersediaan aplikasi-aplikasi itu tentu saja kian memperluas jangkauan ebook.
Saat ini telah menjamur tools yang dapat digunakan untuk merancang buku digital. Tampilan ebook pun kian menawan hingga mampu menarik perhatian orang terutama kaum milenial yang demen barang-barang digital.
Benarkah Ebook Adalah Produk yang Menjanjikan?
Melihat hasil survei Rakuten Insight, mestinya pasar ebook terbuka lebar. Sebab, mayoritas pembaca di Indonesia lebih suka menggunakan smartphone untuk mengakses bacaan mereka.
Bukankah itu berarti mereka jauh lebih banyak membutuhkan ebook ketimbang buku cetak?
Namun, kenyataan itu tampak berkebalikan dengan kondisi penerbitan buku di Indonesia. Hasil survei yang dilakukan oleh Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) menunjukkan porsi ebook yang kecil dibandingkan buku cetak.
Dalam masa tiga tahun (2017 – 2019), penerbitan buku digital mengalami peningkatan cukup tajam. Sepanjang tiga tahun itu, jumlah ebook yang diterbitkan naik dari 2.819 pada tahun 2017 menjadi 17.141 tahun 2019.

Sementara itu, survei yang juga dilakukan Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) mendapatkan kesimpulan bahwa sumbangan buku digital tahun 2020 masih kurang dari 10 persen dari total penjualan buku di Indonesia. Angka ini cukup jauh di bawah penjualan buku digital di seluruh dunia yang mencapai 20 persen.
Pengen punya ebook tapi tak punya waktu untuk membuatnya? Bisa kok mendapatkan ebook dalam waktu singkat dengan mengeklik tautan (link) ini.
Pada satu sisi, data ini bisa saja bikin ciut para ebook creator untuk menghasilkan buku-buku digital. Namun, pada sisi lain, angka-angka yang muncul dari hasil berbagai survei itu justru membuka peluang untuk menerbitkan ebook karena produksinya selama ini masih minim.
Tentunya, ada banyak faktor yang mempengaruhi tingkat produksi dan penjualan ebook di Indonesia. Salah satu faktor yang “dituduh” sebagai biang seretnya buku elektronik berkembang adalah kenyataan bahwa tingkat literasi masyarakat Indonesia masih rendah.
Nah, barangkali kreasi-kreasi yang bikin ebook lebih menarik bisa membantu meningkatkan minat baca buku termasuk buku digital. Memang, kreasi-kreasi semacam itu terus dikembangkan, antara lain dengan munculnya ebook-ebook interaktif yang dilengkapi dengan animasi, audio, video, dan elemen-elemen menarik lainnya.
Di tengah era serba digital, masyarakat kian gemar mengakses produk-produk digital. Ebook adalah salah satu produk yang makin dibutuhan masyarakat.