Imajinasi adalah awal perjalanan menuju hasil yang kita impikan. Untuk mencapai hasil itu, tentu saja kita mesti melanjutkannya dengan sejumlah kreasi.
Proses menulis yang sekian tahun saya jalani, adakalanya terasa tidak menghasilkan apa-apa. Padahal, saya mendapatkan banyak hal dari proses ini.
Ketika melongok isi tabungan dan daftar transaksi setiap bulannya, hampir tak ada pengkreditan dari penerbit atau klien mana pun. Saya lebih banyak menerakan huruf ‘D’ di rekening koran tabungan saya. Tak heran jika isinya kian menyusut.
Benda-benda berharga pun tak tampak menghiasi rumah saya. Nyaris mustahil Anda dapat menemukan barang yang saya dapatkan sebagai hasil konversi honor atau apa pun istilahnya dari aktivitas menulis yang rutin saya lakukan.
Silakan kunjungi tautan ini jika ingin menang lomba menulis esai.
Seingat saya, jemari di kedua tangan saya masih sanggup menghitung perkakas atau bahkan sekadar cenderamata atas jerih payah saya menulis selama ini. Barangkali hanya segelintir benda sederhana semacam buku, tas, dan kaus yang bisa dinobatkan sebagai saksi bisu atas “keahlian” saya merangkai kata.
Selebihnya, hanya paket langganan media daring yang telah kedaluwarsa serta beberapa lembar piagam penghargaan atas partisipasi saya dalam sejumlah kegiatan literasi dapat saya jadikan kenang-kenangan.
Namun, hal-hal itulah yang masih memberikan keyakinan pada diri saya. Sebuah keyakinan untuk menyebut diri saya seorang penulis.
Adakah Proses yang Sia-Sia?
Semua hal yang telah saya sebutkan di atas tidak akan mampu bikin para tetangga mengerti tentang profesi saya. Memang, jelas sekali bukti-bukti itu terlampau minim untuk dipamerkan.
Tentu saja saya masih terus mengais-ngais ke sana kemari untuk sekadar mendapatkan ongkos perpanjangan langganan wifi. Sedangkan perihal hiburan, rekreasi, dan jenis-jenis kesenangan lainnya, mungkin baru dapat saya bincangkan sekian tahun lagi.
Membincang hasil menulis berwujud harta benda dan materi-materi riil lainnya seakan-akan menjadi aktivitas tabu bagi banyak penulis. Kenyataannya memang sulit berharap banyak dari jagad kata-kata bagi kebanyakan penulis dengan kemampuan rata-rata.
Namun, saya masih meyakini satu hal: tiada proses yang sia-sia. Setidaknya, semboyan itu berlaku bagi orang-orang yang ikhlas mencari hikmah atas semua upaya yang telah dilakukannya.
Meskipun, tentu saja, hikmah yang mereka dapatkan tidak selalu selaras dengan maksud dan tujuan awal menjalankan proses yang hendak dicari hikmahnya itu.
Yuk, mengenal beberapa macam distraksi dan cara mengatasinya.
Saya pun mencoba bergabung dengan orang-orang yang berusaha mencari hikmah atas proses menulis yang menjadi pilihan saya. Kendati tak selalu sejalan dengan angan-angan, saya tetap memperolehnya dalam bentuk yang berbeda.
Satu contohnya terjadi dalam dunia yang baru saya rambah beberapa bulan belakangan ini, freelance writer. Keberanian memasuki dunia asing ini pun tak lepas dari keyakinan diri saya akan kemampuan menulis berkat proses panjang yang telah saya jalani.
Bukan perkara yang terlampau sulit bagi saya menghasilkan satu atau dua artikel antara 500 hingga 1.000 kata dalam dua hingga tiga jam saja. Sepanjang bahan bakunya tersedia, insyaallah saya akan segera menuntaskannya.
Menulis satu artikel sehari yang dulu ibarat pungguk merindukan bulan, sungguh tak terbayangkan saya mampu melakukannya, sekarang tidak lagi mustahil. Tidak selalu berhasil, memang, tetapi seringkali saya mampu mewujudkannya. Bahkan, tiga atau empat artikel di hari yang sama bukan perkara mustahil saya dapatkan.
Mengubah tulisan-tulisan itu menjadi pelbagai bentuk materi untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari saja yang masih belum banyak saya pahami. Kini, saya tengah giat mempelajari dan berupaya sedikit demi sedikit mengaplikasikannya.
Imajinasi Adalah Awal Mimpi
“Imagination is the beginning of creation. You imagine what you desire, you will what you imagine and at last you create what you will.”
George Bernard Shaw pernah mengemukakan seuntai kalimat di atas.
Shaw adalah seorang penulis naskah kelahiran Irlandia yang pernah menerima Hadiah Nobel bidang Sastra tahun 1925. Salah satu karya terbaiknya adalah Pygmalion (1913).
Saya mencoba memahami dan mencocok-cocokkannya dengan aktivitas yang saya lakukan dalam bidang tulis-menulis. Rasanya gathuk (sebuah kata dalam bahasa Jawa yang berarti ‘cocok’) juga.
Saya pernah membayangkan diri saya bisa “hidup” dengan menulis. Lantas, bayangan itu mengantar saya belajar dan berlatih menulis dengan pelbagai hambatan yang mengadang. Adakalanya hampir bikin putus asa, atau sedikitnya dilanda rasa bimbang.
Kini, upaya itu mulai menunjukkan hasil berwujud sedikit materi dan seonggok keyakinan. Sebuah proses yang diawali dari imajinasi, melalui usaha-usaha yang dilandasi keyakinan, menuju hasil yang kerap saya bayangkan.
Benarlah kata Shaw, imajinasi adalah awal dari kreasi-kreasi untuk mewujudkan mimpi.