Menjaga Spirit Menulis Agar Selalu Menyala

Bagaimana cara menjaga spirit menulis kita agar selalu menyala?  Saya akan menyampaikan beberapa tips yang bisa menjadi inspirasi bagi kita.

Hasrat yang dimiliki setiap orang untuk melakukan suatu kegiatan berbeda-beda. Banyak faktor yang memengaruhi semangat ini.

Faktor yang memengaruhi gairah seseorang bisa berasal dari dalam diri orang itu, bisa pula bersumber dari luar dirinya.

Faktor-faktor yang bersumber dari dalam dirinya misalnya besarnya minat orang terhadap kegiatan yang digelutinya. Semakin tinggi minat yang dimiliknya tentu saja semakin besar pula gairah untuk menjalankan kegiatannya.

Ketersediaan waktu juga merupakan salah satu unsur penting yang menentukan besarnya keinginan seseorang menjalankan aktivitasnya. Semakin sedikit waktu yang dipunyainya, semakin berat pula usahanya untuk menggenjot semangat kerjanya.

Sementara itu, contoh faktor luar yang memengaruhi semangat seseorang bisa disebutkan antara lain sarana yang tersedia, suasana lingkungan sekitar, dan masukan-masukan yang diterimanya dari orang-orang di sekitarnya.

Hasrat menulis bisa dipelihara dan didorong dengan berusaha membiasakan diri menulis secara rutin dan konsisten. Situs menulis masterclass.com memaparkan 10 tips mengembangkan kebiasaan menulis.

Sebagian di antara cara-cara yang dikemukakan dalam artikel itu telah saya jalani. Sementara itu, sebagian lainnya cukup menarik untuk saya coba jalankan juga.

4 Cara Menjaga Spirit Menulis

Langkah-langkah yang telah saya jalani dan terbukti bermanfaat antara lain menyiapkan ruang kerja yang representatif, menargetkan jumlah kata yang harus saya tulis, membuat rencana kerja, dan melakukan brainstorming.

1. Menyiapkan ruang kerja yang nyaman

Urusan yang satu ini gampang sekali ditebak. Kenyamanan ruang kerja berpengaruh besar terhadap “ketahanan” menulis seseorang.

Dengan tersedianya ruang kerja yang nyaman, maka kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan proses menulis akan bisa berjalan lebih lancar.

Ketimbang kualitas sarana yang harus disiapkan, penulis artikel itu lebih menekankan pada unsur privasi dan kesungguhan dalam menyiapkan ruang kerja. Sebab tempat ini akan membersamai kita sehari-hari.

2. Menetapkan target harian

Sebelum menetapkan target jumlah kata yang harus saya tulis saban hari, saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk urusan-urusan yang tidak berkaitan dengan aktivitas menulis.  Kegiatan-kegiatan semacam berselancar di internet secara berlebihan, atau bahkan terlena oleh gim daring telah banyak menghabiskan waktu saya.

Kesia-siaan itu jauh berkurang semenjak saya membuat target menulis 1.000 kata per hari. Kini, waktu dan energi saya banyak tersedot untuk menuntaskan target harian itu.

3. Membuat rencana kerja

Satu lagi program yang telah saya jalankan sangat membantu konsistensi menulis saya. Selain target jumlah kata, saya juga menargetkan membuat 10 ide tulisan setiap hari.

Saya merasa tidak sia-sia menjalankan program ini. Setidaknya dua manfaat saya dapatkan dari penetapan taget ini.

Pertama, saya mempunyai cukup banyak tabungan ide sehingga membuat saya lebih yakin untuk segera memulai menorehkan kata pertama. Dan yang kedua, kegiatan menulis yang saya lakukan menjadi lebih mulus jalannya karena adanya ide-ide yang telah saya tuliskan pada hari-hari sebelumnya.

4. Melakukan brainstorming

Bertukar pikiran (brainstorming)  juga menjadi kegiatan yang mendatangkan kegunaan besar. Aktivitas ini membantu saya membuat daftar ide harian serta membikin saya semakin terbiasa menerima dan menghargai gagasan-gagasan yang terlihat konyol dan tak masuk akal.

Langkah yang Masih Setengah-Setengah

Sementara itu, masih ada beberapa lagi tips yang belum saya kerjakan dengan sepenuhnya.  Tips-tips yang belum konsisten saya jalankan antara lain membiasakan diri membuat catatan, menulis setiap hari, dan lebih banyak bergerak.

1. Kebiasaan mencatat

Dalam urusan mencatat, saya teringat sebuah gagasan yang dikemukakan oleh Hernowo. Dalam buku Mengikat Makna, penulis yang sangat produktif itu menyampaikan pentingnya mencatat untuk mengikat pengetahuan yang kita dapatkan dari proses membaca.

Meskipun telah lama memperoleh ilmu mengikat makna itu, tetapi jarang sekali saya mempraktikkannya. Seusai membaca tulisan di masterclass itu, semangat saya untuk memulai mengaplikasikan ilmu ini kembali mencuat.

2. Menulis setiap hari

Penulis artikel di situs pelatihan ini menyarankan untuk menulis saban hari tanpa kecuali. Usahakan bisa konsisten menulis dalam durasi waktu tertentu tanpa gangguan.

Konsistensi untuk urusan yang satu ini tidak mudah. Saya tengah berusaha untuk bisa menulis secara rutin, tetapi belum mampu menjalankannya secara konsisten dalam durasi waktu tertentu.

3. Melakukan gerakan ringan

Banyak artikel yang telah mengulas pentingnya waktu jeda dan melakukan gerakan-gerakan ringan seperti senam dan lainnya di antara waktu kerja. Selain untuk menghindarkan diri dari macam-macam penyakit, kabarnya gerakan-gerakan ringan juga bisa menstimulasi munculnya ide-ide segar.

Sayangnya, kadang-kadang keasyikan menulis membuat saya lupa dengan kondisi badan.  Sepertinya saya perlu membikin pengingat agar peregangan badan tidak selalu terlewat.

Inspirasi Menulis Lainnya

Tiga hal berikutnya hampir tidak saya lakukan sama sekali. Untuk saat ini, langkah-langkah ini masih sebatas menjadi inspirasi.

1. Memberikan penghargaan kepada diri sendiri

Satu hal yang saya lupakan adalah memberi penghargaan bagi diri saya sendiri atas pencapaian yang saya peroleh. Sepertinya saya harus memulai memberikan perhatian kepada hal ini.

Sekecil apa pun prestasi yang saya gapai, misalnya mencapai target jumlah kata, saya harus menyiapkan penghargaan yang setimpal. Tujuannya tiada lain kecuali untuk semakin menyemangati diri dalam menjalani program-program berikutnya.

2. Menetapkan waktu tertentu untuk menulis

Sistem kerja semacam teknik Pomodoro (Pomodoro Technique) sepertinya cukup baik untuk dijalankan. Cara kerja yang dikembangkan oleh Francesco Cirillo ini dilakukan dengan memecah proses kerja yang panjang menjadi beberapa bagian, dan masing-masing bagian dilakukan selama 25 menit.

Di antara proses-proses kerja itu terdapat beberapa menit selang waktu.  Waktu jeda ini dimaksudkan untuk sekadar refreshing, ngopi, atau melakukan kegiatan-kegiatan lain yang tidak berhubungan dengan pekerjaan, dalam hal ini proses menulis.

Saya telah membayangkan cara kerja seperti ini akan mampu mengurangi kebosanan akibat terus-terusan berkutat dengan pekerjaan. Kondisi yang diharapkan adalah tetap terjaganya stamina termasuk spirit untuk terus menulis.

3. Mengikuti grup menulis

Bagaimanapun, seorang penulis tetap membutuhkan orang lain. Pihak lain itu bisa berfungsi sebagai pendorong, pemberi masukan dan pengingat.

Selama ini, saya belum memanfaatkan keberadaan aneka kelompok yang berhubungan dengan kegiatan menulis secara optimal. Grup-grup semacam itu masih sebatas pemicu inspirasi bagi saya.

Demikianlah beberapa hal yang berkaitan dengan upaya menjaga dan mendorong gairah untuk terus menghasilkan tulisan. Semoga semakin banyak program yang bisa saya jalankan dan saya bisa konsisten menjalaninya.

Saya berharap agar uraian sederhana ini juga mendatangkan manfaat bagi Anda. Utamanya agar spirit menulis tetap terjaga.

Leave a Reply