Orang pintar bangkrut dan orang biasa bisa kaya mestinya tidak menjadi hal yang terlalu mengherankan. Kita akan mulai bahas masalah ini melalui contoh.
Ronald Read tidak punya gelar sarjana, tidak pernah bekerja di industri keuangan, dan sepanjang hidupnya dikenal sebagai orang yang sangat sederhana. Ia hanya memiliki mobil bekas, pakaian seadanya, dan sebuah rumah kecil yang ia tempati sendirian. Ronald bekerja sebagai petugas kebersihan di sebuah pompa bensin di Vermont.
Meninggalnya Ronald pada usia 92 tahun sangat mengejutkan orang-orang di sekitarnya. Bayangkan, ia meninggalkan warisan dalam jumlah fantastis untuk ukuran kehidupannya, sekitar USD 8 juta.
Di dunia lain, ada seorang mantan eksekutif di Merrill Lynch, salah satu bank investasi paling bergengsi di dunia bernama Richard Fuscone. Saat berusia 40-an, ia pensiun dini, lalu hidup dengan kemewahan seseorang yang sukses secara akademik dan karier.
Namun, beberapa tahun kemudian, Richard bangkrut. Rumahnya yang mewah disita, dan ia mengajukan dirinya dalam kondisi pailit.
Kisah Ronald Read dan Richard Fuscone menjadi pembuka dari buku The Psychology of Money karya Morgan Housel. Uniknya, kisah dua orang yang bertolak belakang itu menjadi ilustrasi yang sangat tajam tentang sebuah kenyataan bahwa kemampuan mengelola uang ternyata tidak banyak berhubungan dengan seberapa pintar seseorang. Ada satu faktor yang lebih berpengaruh, yaitu perilaku seseorang terhadap uang. Perilaku ini merupakan persoalan psikologi, bukan matematika.
Masalah Uang Terkait Perilaku, Bukan Soal Kecerdasan
Selama ini kita mengira bahwa keputusan finansial yang baik lahir dari kemampuan berhitung, membaca laporan keuangan, dan memahami teori ekonomi. Housel tidak sepaham dan membalik anggapan ini. Menurutnya, sangat jarang keputusan soal uang murni diambil secara rasional. Sebaliknya, keputusan itu lebih sering dibentuk oleh pengalaman pribadi, rasa takut, ego, dan kebiasaan yang terbentuk sekian lama.
Kondisi itu bisa menjelaskan, mengapa dua orang dengan latar belakang pendidikan yang sangat berbeda bisa mengambil keputusan finansial yang sangat berlawanan. Berdasarkan sudut pandang masing-masing, tentu saja keduanya merasa keputusan yang mereka buat masuk akal. Meskipun dua orang itu sama-sama “cerdas” secara akademik, orang yang tumbuh di masa resesi tentu memiliki hubungan dengan risiko yang berbeda dibandingkan orang yang tumbuh di masa ekonomi sedang tumbuh pesat.
Dengan kata lain, kecerdasan finansial sebenarnya tidak membahas siapa yang paling jago berhitung. Jenis kecerdasan ini lebih cenderung menentukan siapa yang paling mampu mengendalikan perilakunya sendiri terhadap uang dalam jangka panjang.
Peluang dan Risiko yang Kerap Tidak Diperhitungkan
Ada bagian lain yang membedakan buku ini dengan buku finansial lainnya. Perbedaan itu terletak pada cara membahas peran keberuntungan dan risiko dalam mengelola uang.
Housel mengingatkan, kita cenderung terlalu cepat mengagumi orang yang sukses secara finansial. Saat memandang orang seperti itu, kita berpikir seolah-olah semua keputusannya pasti benar. Padahal, di luar kecerdasan yang dimilikinya, ada faktor keberuntungan yang turut memengaruhi hasil tersebut, tetapi jarang terlihat.
Sebaliknya, kegagalan seseorang dalam urusan finansial tidak selalu disebabkan keputusannya yang buruk. Adakalanya mereka hanya mengambil risiko yang sebenarnya bisa berhasil.
Dalam contoh di buku ini, kegagalan Richard Fuscone tidak disebabkan ia bodoh secara finansial, karena ia sangat paham cara kerja instrumen keuangan yang rumit. Masalahnya, ia mengambil risiko yang nyaris tidak punya ruang untuk membuat kesalahan.
Kondisi ini membuat kita mesti berhati-hati ketika meniru “resep sukses” orang lain secara mentah-mentah. Kita harus menyadari bahwa kita tidak pernah benar-benar tahu seberapa besar hasil itu yang ditentukan oleh keputusan yang mereka ambil, dan seberapa besar disebabkan adanya keberuntungan semata.
Jebakan “Tidak Pernah Cukup”
Kita sering menemukan orang yang pintar dan berpenghasilan tinggi justru terjebak dalam masalah finansial yang berat. Bisa saja kejadian itu disebabkan sulitnya mereka menentukan kapan harus berhenti.
Housel menyebut kecenderungan ini sebagai jebakan “tidak pernah cukup”. Jebakan ini terjadi saat seseorang terus mengubah sasaran finansialnya setelah membandingkan dirinya dengan orang yang lebih kaya. Kemudian ia mengambil risiko yang semakin besar demi mengejar target yang terus bergeser.
Hal yang semakin membahayakan adalah semakin besarnya godaan untuk mengambil risiko ketika penghasilan semakin tinggi dan kecerdasan semakin baik. Umumnya, orang-orang ini merasa “sudah cukup pintar” untuk mengendalikan risiko yang harus dihadapinya. Padahal, salah satu faktor yang paling sulit adalah menyadari bahwa usahanya sudah cukup dan harus berhanti.
Seringkali, faktor ini lebih mudah dijalankan oleh orang biasa. Orang yang tidak terlalu berambisi mengejar kekayaan besar biasanya tidak mudah tergoda mengambil risiko besar karena bisa menghancurkan semua yang telah diraihnya dalam sekejap.
Pentingnya Peran Waktu Dibandingkan Kecerdasan
Ada satu bagian buku ini yang banyak dibicarakan, yakni bagian yang membahas soal compounding, atau bunga majemuk. Kita akan mengetahui sebuah fakta mengejutkan dari contoh kekayaan Warren Buffett—salah satu investor paling sukses di dunia.
Ternyata, sebagian besar kekayaan Warren didapat setelah ia berusia 50 tahun. Penghasilan besar itu tidak diperoleh karena strategi investasinya yang berubah pada usianya yang ke-50. Namun, penghasilannya menjadi berlipat karena adanya efek compounding. Efek itu terjadi karena ia sudah berinvestasi sejak berusia muda sehingga investasinya telah berlangsung sangat lama.
Hal ini bisa menjadi pelajaran penting bagi siapa saja. Ketika seseorang mulai menabung dan berinvestasi lebih awal, meskipun jumlahnya sedikit dan strategi yang dipakai sederhana, ia bisa mengalahkan orang yang lebih pintar secara finansial tapi baru mulai investasi belakangan. Ternyata, faktor waktu jauh lebih berpengaruh ketimbang kecerdasan memilih instrumen investasi yang “tepat”.
Ronald Read bisa menjadi bukti hidup yang menunjukkan prinsip ini. Ia hanya menabung secara konsisten, berinvestasi di perusahaan-perusahaan yang stabil, dan membiarkan saja uangnya berkembang selama puluhan tahun tanpa menjalankan strategi yang rumit.
Kaya yang Sesungguhnya Tidak Terlihat
Dalam buku ini, Housel menjelaskan dua hal yang sering tertukar, yaitu orang yang terlihat kaya dan orang yang benar-benar memiliki kekayaan. Biasanya, orang yang terlihat kaya membelanjakan uangnya untuk hal-hal yang tampak oleh mata kita seperti mobil mewah, rumah besar, dan gaya hidup mencolok. Sedangkan kekayaan yang sesungguhnya adalah uang yang tidak dibelanjakan, tetapi disimpan dalam bentuk tabungan, investasi, dan jenis aset yang tidak terlihat lainnya.
Kini kita bisa lebih mudah memahami, mengapa orang yang memiliki penghasilan tinggi bisa bangkrut. Umumnya mereka langsung menggunakan setiap kenaikan penghasilan untuk menaikkan gaya hidup mereka. Jadi, mereka tidak pernah benar-benar membangun kekayaan kecuali hanya membangun citra dirinya terlihat bak orang kaya.
Sebaliknya, orang berpenghasilan biasa-biasa saja, tetapi disiplin menyisihkan uangnya mampu membangun fondasi finansial yang lebih kokoh.
Apa yang Sebenarnya Membedakan Keduanya? Inilah Kesimpulan Buku The Psychology of Money
Sekarang kita bisa memberikan jawaban atas pertanyaan, “Kenapa orang pintar bisa bangkrut, dan orang biasa bisa kaya?”.
Ternyata, penyebabnya tidak ditentukan oleh tingkat kecerdasan mereka secara akademik. Faktor yang lebih menentukan hal ini terkait dengan pemahaman tentang diri mereka sendiri. Bagaimana mereka bersikap tentang kapan harus merasa cukup, seberapa besar risiko yang benar-benar sanggup mereka tanggung, dan sejauh mana tingkat kesabaran mereka menunggu hasil dari keputusan yang mereka buat secara konsisten.
Pada akhirnya, pengelolaan uang lebih banyak terkait dengan cara kita berpikir dan berperilaku terhadapnya.