Dark Joke dan Humor (di Tempat) Gelap

Humor gelap, yang dalam pergaulan internasional disebut dark joke atau dark humor, telah kita pahami seperti apa bentuknya. Kalau humor di tempat gelap, apa pula ini?

Nggak usah mikir kejauhan, deh. Artikan saja apa adanya, sesuai kata-kata yang tercantum di sana. Humor di tempat gelap, ya kelucuan yang terjadi dalam kegelapan.

Pasti deh, ada yang membayangkan hal-hal yang tidak-tidak. Waduh, ngeres lagi tuh pikiran. 

Gini, ya. Kegelapan itu tidak selalu bersangkut-paut dengan hal-hal yang bersifat tabu.

Membincang humor (di tempat yang) gelap, saya mengingat beberapa lelucon yang pernah saya temui. Anda pun barangkali pernah menjumpainya lantaran lelucon-lelucon semacam ini banyak beredar di media, terutama media daring.

Di samping lelucon-lelucon yang telah beredar sebelumnya, saya berambisi menghasilkan guyonan orisinil karya sendiri. Alhamdulillah, saya berhasil menciptakannya sebuah. Soal kualitas, silakan Anda menilainya.

Silakan baca juga tulisan mengenai sulitnya memproduksi tulisan humor.

Saya akan menampilkan lelucon-lelucon gelap dalam arti yang sebenarnya, benar-benar terjadi di tempat gelap. Jadi, meskipun sama-sama mengandung kata ‘gelap’, tidak masuk dalam kategori humor gelap atau dark joke.

Ketagihan jokes? Bisa cari buku-buku humor di tautan afiliasi ini.

Saya akan membagi cerita-cerita itu ke dalam 2 kelompok. Cerita yang berasal dari sumber lain akan saya posisikan pada nomor ganjil, sedangkan karangan saya sendiri menempati nomor gelap.

Mengapa harus dibedakan antara nomor ganjil dan nomor gelap, sih? Ngikutin tren, dong! Bukankah sekarang lagi marak penerapan kebijakan ganjil genap — kadang-kadang media menyebutnya gage — di banyak tempat?

Eh, maaf, saya menjadi agak berlebihan dalam urusan ini. Sebenarnya nggak gitu juga, sih.

2 Cerita Dark Joke, Eh Humor di Tempat Gelap

Cerita-cerita yang bakal saya sajikan hanya 2 biji, kok. Sudah pasti satu cerita bernomor ganjil dan yang lain auto kebagian nomor genap. Gitu aja kok geregetan.

Jadi, Anda tidak harus membaca cerita-cerita yang akan saya hidangkan sesuai tanggalnya, ya. Nomor ganjil boleh dibaca pada tanggal genap dan sebaliknya.

Bagusnya sih, dua-duanya dibaca sekaligus dalam sekali duduk. He he, nyambi sedikit promosi.

Nah, berikut ini 2 buah guyonan alias jokes yang terjadi di tempat yang gelap gulita, atau setidaknya dalam keremangan cahaya.

Sebaiknya Mencari Barang di Tempat Terang

Kisah ini sudah sering kita  jumpai. Tokoh utamanya seorang guru yang diklaim oleh beberapa orang dari negara-negara yang berbeda sebagai seorang tokoh cerdik berkebangsaan sama dengan orang yang mengklaimnya. Dia adalah Nasruddin Hoja.

Suatu hari Nasruddin kehilangan cincin ketika berada di ruang bawah tanah yang gelap gulita. Ia pun sibuk mencari-cari barang keayangannya di halaman depan rumahnya.

Saat sang Mullah, sebutan yang disematkan orang terhadap Nasruddin, mengedarkan pandangannya ke setiap jengkal tanah di halaman muka rumah, lewatlah seorang tetangganya yang ramah. Sang tetangga yang heran melihat tingkah Nasruddin segera saja mengajukan sebuah pertanyaan.

“Sepertinya Engkau sedang kebingungan. Apa gerangan yang sedang engkau lakukan?”

“Tadi aku kehilangan cincinku di gudang bawah tanah, wahai tetangga, dan sekarang aku sedang mencarinya.”

Si tetangga terperanjat, lantas bertanya lagi, “Cincinmu hilang di gudang bawah tanah, tetapi mengapa engkau mencarinya di halaman rumah?”

“Ah, engkau memang suka bercanda,” jawab Nasruddin, “bagaimana mungkin aku bisa menemukan barang di tempat yang gelap gulita!”

Solusi yang Adil bagi Sekolah di Daerah Terpencil

BPS merilis data yang menggembirakan kita. Menurut badan yang mengurusi data statistik ini, rasio elektrifikasi selalu meningkat dari tahun ke tahun.

Dalam 10 tahun, rasio ini meroket dari 66,3% menjadi 98,9%. Bahkan pada tahun 2020 angkanya telah naik lagi menjadi sekitar 99,2%.

Namun setelah 76 tahun negara kita merdeka, sebagian wilayah negeri ini masih saja belum ikut merasakan nikmatnya hidup bersama listrik. Menurut presiden Joko Widodo, 433 desa di Indonesia belum terjamah listrik, sebagian besar berada di wilayah Indonesia timur.

Rasio elaktrifikasi Indonesia
Grafik rasio elektrifikasi Indonesia, sumber data: bps.go.id

Di suatu dusun entah di kabupaten dan provinsi mana, seorang anak laki-laki sekira 10 tahun usianya tengah belajar di malam yang gulita.

Sebab tiada lampu yang bisa dinyalakan dengan cara memencet saklar, orang tua si anak cuma mampu menyediakan sentir (alat penerangan yang dibuat dari botol atau kaleng bekas diisi minyak tanah dan dikasih sumbu) sebagai penerangan rumah termasuk sarana belajar sang anak.

Hari ini pengajar di sekolah memberikan banyak pekerjaan rumah bagi murid-muridnya. Tak heran jika si anak belajar jauh lebih lama dibandingkan malam-malam sebelumnya.

Malang tak dapat ditolak. Belum usai PR Matematika dikerjakannya, anak itu mengeluh karena api yang membakar sumbu lampu sentir andalan keluarganya tiba-tiba padam. Tiada lain persoalan si sentir kecuali bahan bakar dalam tangki kalengnya ludes, tak lagi mampu menghidupi sang api malam ini.

Anak itu pun merengek-rengek kepada bapaknya. Ia membayangkan rupa marah Pak Guru esok hari bila PR-nya tak beres malam ini.

Si bapak yang tak memiliki persediaan bahan bakar lebih, terperangah sebentar.

“Makanya, selagi masih terang, cepat selesaikan PR-nya!”

“Lah gimana siang-siang mau bikin PR,” jawab si anak agak menggerutu, “Pagi sampai siang sekolah, siang sampai sore ngurusin kambing!”

“Ya sudah, besok pagi lapor Pak Guru, minta sekolahnya malam saja!”

Humor Tanpa Solusi

Humor tak harus (selalu) memberikan solusi. Makanya, jadi penulis humor aja. Nggak lucu juga nggak apa-apa.

Eh, ngawur. Terus, siapa dong yang mau baca?

Silakan baca juga artikel berisi 7 peribahasa kocak generasi milenial.

Demikianlah beberapa cerita dengan tempat kejadian perkara alias TKP berada di tempat gelap. Cerita yang pertama telah beredar luas dan diakui dunia.

Bagaimana dengan “dark joke” yang kedua?

Leave a Comment