Inilah 7 peribahasa generasi milenial nan kocak, berkaitan dengan kehidupan mereka. Tentu saja, kehidupan serba digital yang layak dinikmati sembari rebahan.
Mengaitkan generasi milenial dengan peribahasa amat jarang terjadi, meskipun perbincangan menyangkut mereka telah banyak beredar.
Orang bisa membahas urusan ini dengan berbagai sudut pandang sesuai kompetensi dan selera masing-masing.
Gemar rebahan dan sulit memicingkan mata di malam hari adalah 2 di antara sekian banyak “tabiat” yang menandai generasi yang lahir pada era teknologi tinggi ini. Situasi pada masa kelahiran mereka yang demikian membawa dampak lekatnya anak-anak gaul ini dengan pelbagai alat cerdas berteknologi tinggi.
Kali ini saya akan menelaah tema serupa dari sudut pandang yang berbeda. Peribahasa menjadi pilihan untuk saya jadikan sebagai sarana membincang sepak terjang generasi yang adakalanya disebut rentan depresi ini.
Silakan baca juga curhatan mengenai beratnya “perjuangan” menghasilkan tulisan humor.
Peribahasa “Sambil menyelam minum kopi” telah menumbuhkan semangat saya mencipta tulisan ngawur ini. Makna peribahasa kucluk itu, sembari memunculkan kembali karya sastra adiluhung berwujud peribahasa yang lama terbenam dalam kancah literasi, kita ngopi-ngopi.
Ayo, langsung saja kita mulai.
Generasi Milenial dalam Peribahasa
1. Gajah di pelupuk mata tak tampak, kuman di seberang lautan tampak
Generasi internet memaknai peribahasa ini dalam 2 versi. Versi pertama menggambarkan betapa kaum muda ini lebih nyaman berinteraksi dengan orang-orang yang berada nun jauh di sana ketimbang ngobrol dengan orang tua dan sanak saudara.
Maka, acap kali manusia jenis ini hidup bagai kelelawar, kelayapan di malam hari dan molor pada siang hari. Bedanya, kelelawar berkeliaran di alam nyata mengandalkan gelombang ultrasonik sebagai pemandunya. Sedangkan keliaran anak hi-tech terjadi di jagat maya dengan si Mbah Google nan sakti menjadi penuntunnya.
Sementara itu, versi yang kedua merupakan penyebab langsung insomnia yang mendera sekian banyak manusia di masa digital merajalela. Ya gimana mau memejamkan mata kalau di pelupuknya terdapat binatang segede gajah.
Eh, enggak ding. Mereka sulit tidur lantaran amat dahaga hiburan hingga harus mengalokasikan 18 jam waktu yang mereka miliki dalam sehari guna menikmati tontonan dan permainan yang serba digital.
2. Bagai air di daun talas
Peribahasa ini menggambarkan generasi internet banget, deh. Saat pikiran dan hati bermaksud membaca berita dan mencari informasi, iklan dan promosi berseliweran kian kemari.
Di antara bejibun iklan, tentu ada sebagian (kecil atau besar) yang menarik hati. Setidaknya ungkapan yang terkandung dalam judulnya (sengaja dibuat untuk) menggoda iman utamanya kawula muda.
Tak heran jika kemudian anak-anak generasi Y dan seterusnya susah memejamkan mata. Godaan-godaan itu tak akan pernah berhenti walaupun kokok ayam jantan milik tetangga telah nyaring berbunyi.
3. Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian
Anak-anak generasi milenial telah membalik nasihat baik para leluhur kita melalui peribahasa ini. Mereka lebih suka berenang-renang ke tepian, usai itu baru kemudian berakit-rakit ke hulu.
Generasi ini gemar berselancar di internet hingga larut malam (baca: dini hari), hingga tak sadar sekujur badan pegal dan otot-otot terasa ngilu. Setelah itu, baru menyadari dan berjanji kepada diri sendiri tidak akan mengulang kebiasaan buruknya … selama setengah hari.
Lumayanlah setengah hari daripada enggak sama sekali.
4. Bagai pungguk merindukan bulan
Para orang tua akan teringat peribahasa ini ketika berharap anak-anak muda mereka menyingsingkan lengan baju membantu sang ayah berkebun atau menolong ibu membersihkan tempat tidurku. Berharap anak-anak bangkit dan menaruh gawai mereka, tak beda dengan harapan si burung hantu yang hendak mengelus wajah menawan milik sang rembulan.
Kata Pak Timbul Srimulat, “Itu hil yang mustahal!”
Maaf kaum milenial, itu banyolan lawas yang masyhur ketika Srimulat berjaya pada zaman dahulu kala. Saya sangat mengerti jika kalian tidak merasa geli membaca kalimat ini.
Ah, dasar orang tua!
Baby boomers yang ingin bernostagia bisa “kangen-kangenan” dengan tokoh kocak masa lampau ini.
5. Harapkan burung terbang tinggi, punai di tangan dilepaskan
“Terserah aja mau dilepasin atau diapain,” ujar anak-anak digital menanggapi peribahasa kuno milik orang-orang yang terbiasa memasak pakai tungku itu.
Ya, sepertinya mereka tidak begitu peduli dengan urusan apa pun, termasuk si punai yang tidak mereka kenali, sepanjang si mesin pintar (dan kuota secukupnya) berada dalam genggaman. Semua urusan bakal beres ketika gawai lancar jalannya. Namun sebaliknya, hal apa pun akan menjelma menjadi masalah bila si smart jauh dari jangkauan.
6. Asam di gunung, garam di laut, bertemunya di belanga
“Kalau kami sih, biasa ketemu di IG sama Tiktok!” kata para maniak internet dengan wajah semringah amat meyakinkan.
Yah, begitulah. Namanya juga anak gaul. Masak anak gaul mainnya di gunung atau di laut macam petualang aja. Hare gene main medsoslah!
7. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi
Saya yakin anak-anak generasi digital lebih suka rebahan ketimbang duduk atau berdiri. Anak-anak itu tak akan mempersoalkan posisi rendah atau tinggi.
Bagi mereka, meskipun posisinya menjadi sangat rendah, berbaring merupakan pose favorit ketika mengakses situs gim seru atau media sosial yang asyik. Bila sudah dalam posisi demikian, maka “anjing menggonggong kafilah berlalu” (ini merupakan bonus peribahasa yang saya persembahkan khusus bagi Anda yang telah meluangkan waktu membaca artikel ini hingga hampir tiba pada titik paripurna).
Demikianlah 7 (plus 2 bonus) peribahasa yang berkaitan dengan generasi yang mahir teknologi beserta pelbagai aktivitas mereka. Ada yang mau menambah daftar ini dengan peribahasa menyangkut generasi milenial lainnya?
