Humor sepak bola bisa terkikis habis karena ulah Shin Tae-yong dan Erick Thohir. Satu per satu lelucon sepak bola Indonesia bakal hilang dari peredaran.
Banyak sekali humor berkaitan dengan sepak bola Indonesia. Sebagian (besar) di antaranya menyangkut carut-marut dunia sepak bola di negara kita tercinta.
Silakan baca artikel yang menunjukkan bahwa orang tak lucu bisa membuat tulisan humor.
Ada guyonan yang mengangkat masalah amburadulnya penyelenggaraan kompetisi atau liga. Ada pula joke yang mengambil tema ketidakberesan perilaku insan sepak bola di tanah air kita.
Di antara guyonan-guyonan sepak bola yang beredar di masyarakat, tak sedikit yang mengungkapkan kekecewaan akibat prestasi yang begitu-begitu saja.
Sebuah Humor Sepak Bola Telah Hilang untuk Selamanya
Masih ingat guyonan tentang tim nasional sepak bola Indonesia yang paling jago di seluruh dunia? Lelucon ini kerap dibawakan Cak Lontong dalam aksi-aksi komedinya.
Sepak bola Indonesia memang belum pernah menjadi juara dunia. Boro-boro juara, ngerasain main di Piala Dunia saja masih sebatas impian, kecuali sekali partisipasi saat negara kita masih berjuluk Hindia Belanda.
Namun, ada sebuah fakta yang amat membanggakan kita sebagai warga Indonesia. Kita menggenggam prestasi sepak bola yang bahkan negara-negara yang pernah juara dunia tidak sanggup meraihnya.
Delapan negara peraih Piala Dunia (Brasil, Argentina, Uruguay, Inggris, Italia, Jerman, Prancis, dan Spanyol) pernah dikalahkan oleh negara-negara juara dunia lainnya. Brasil pernah dikalahkan Argentina, Prancis pernah dikalahkan Italia, Inggris pernah dikalahkan Spanyol, dan seterusnya.
Nah, dalam urusan ini, Indonesia mengungguli mereka. Kita belum pernah sekali pun dikalahkan oleh negara-negara juara dunia. Lihatlah, jago banget, kan, kita?
Oleh karena itu, prestasi gemilang itu mesti terus kita pertahankan. Jangan pernah bertanding melawan negara-negara juara dunia!
Namun, sayang seribu kali sayang. Harapan untuk mempertahankan prestasi bergengsi itu sirna sudah. Shin Tae-yong dan Erick Thohir telah menghancurkan semuanya.
Gara-garanya, coach Shin minta Timnas Indonesia berlaga uji coba melawan negara-negara yang kuat sepak bolanya.
Dan, gayung pun bersambut. PSSI memenuhi tuntutan pelatih asal Korea itu dengan, bukan sekadar mengundang Jepang atau Nigeria, melainkan mendatangkan sang juara dunia Argentina.
Maka, tamat sudah sebuah lelucon andalan Cak Lontong. Sejak kekalahan Indonesia dari Argentina di FIFA Match Day yang dihelat 19 Juni 2023 itu, Cak Lontong atau siapa pun, tak lagi bisa menyombongkan diri. Hilang sudah kesempatan unjuk gigi memamerkan “prestasi” sepak bola Indonesia yang tak pernah kalah dari para juara dunia.
Risiko Lelucon Sepak Bola Lenyap dari Indonesia
Selain lelucon yang telah kandas, ada juga sebuah guyonan sepak bola Indonesia yang sewaktu-waktu bisa hilang tak berbekas. Lelucon itu bercerita tentang peluang Indonesia mengikuti Piala Dunia. Kita bicara tentang Piala Dunia bagi tim senior, ya.
Seperti kita ketahui, ada tiga jalur yang bisa ditempuh oleh negara-negara di dunia untuk menjadi peserta Piala Dunia.
Jalur pertama, melalui babak penyisihan. Sudah berkali-kali Timnas kita mengikuti jalur ini, tetapi belum pernah sekali pun lolos hingga perhelatan Piala Dunia digelar. Jadi, sudah terbukti bahwa jalur ini teramat sulit dilewati.
Jalur kedua, bertindak sebagai tuan rumah. Dengan infrastruktur sepak bola yang tidak memadai, tentu sulit bagi Indonesia memenangkan bidding menjadi tuan rumah Piala Dunia.
Pembangunan sarana penunjang gelaran pesta bola terbesar sedunia tentu membutuhkan banyak dana, dan itu menjadi kendala. Urusan politik dan lain-lain tidak usah dibahas dulu, ya.
Jalur ketiga, dan ini satu-satunya yang bisa diraih Indonesia, adalah menjadi juara bertahan Piala Dunia.
Nah, itu lelucon zaman dulu dan berlaku hingga beberapa tahun lalu. Kondisi terkini sudah beda lagi.
Kita pernah nyaris menjadi tuan rumah Piala Dunia usia di bawah 20 tahun. Memang berakhir dengan kegagalan, tetapi kepercayaan yang sempat diberikan FIFA menunjukkan bahwa kita dinilai mampu menyelenggarakan event sekelas Piala Dunia meskipun untuk usia muda.
Setelah “tragedi” Piala Dunia U-20, FIFA kembali memercayai Indonesia menghelat kejuaraan dunia untuk usia di bawah 17 tahun. Sekali lagi, dunia (baca: FIFA) memberikan kepercayaan bagi kita menjadi penyelenggara perhelatan sepak bola sejagat. Keputusan FIFA ini tentu tak lepas dari kemampuan lobi tingkat tinggi sang ketua umum PSSI.
Melihat perkembangan itu, bukan lagi hal mustahil seperti di masa lalu jika suatu saat nanti Indonesia ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia “yang sebenarnya”. Dengan begitu, lelucon tentang jalur juara bertahan bisa saja lenyap dalam sekejap.
Lantas, Apa Lagi?
Nah, setelah ini, entah apa lagi yang akan dilakukan Pak Shin dan Pak Erick terhadap persepakbolaan tanah air. Apakah akan ada lagi guyonan sepak bola yang terancam hilang dari peredaran?
Kalau kelamaan mereka berkuasa, jangan-jangan sepak bola kita bakal berisi urusan-urusan serius belaka.
Silakan baca juga kisah seorang tokoh bijak yang amat kocak dan melegenda.
Beroleh prestasi sepak bola di kancah dunia tentu sangat membanggakan. Namun, jika sepak bola Indonesia kehilangan sisi komedinya, apa kata dunia?
Menurut Anda, bagaimana cara melestarikan humor sepak bola tanah air yang baik dan benar?