Sesulit Apa Sih, Memproduksi Tulisan Humor?

Sudah lama sekali hasrat menghasilkan tulisan humor menyembul dalam hati. Namun realisasinya selalu tersendat, bahkan sama sekali berhenti.

Sekian banyak halaman baru program pengolah kata Microsoft Word sudah sering saya bentangkan. Sejurus kemudian, jemari mulai menjamah papan ketik memimpikan terhidangnya seuntai karya yang mengundang tawa.

Sayangnya, nasib lembaran-lembaran itu acap berakhir pilu. Sering kali, mereka harus menyudahi langkah sebagai penghuni folder konsep yang memang tercipta untuk menampung draf-draf tulisan yang tak terselesaikan.

Sebagian di antara konsep-konsep itu berisi judul semata. Sementara yang lainnya berwujud kata-kata yang tak jelas maknanya.

Entah sampai kapan mereka akan menjadi penghuni “gudang” yang semakin hari semakin disesaki oleh rancangan-rancangan tulisan yang tak kunjung jadi. Semoga saja mereka tidak menemukan zona nyaman hingga berkeinginan untuk bermukim di sana selamanya.

Tak Kendor Menulis Humor

Ketika membaca sejumlah tulisan bernada lucu, baik dalam buku-buku kumpulan humor maupun tulisan-tulisan lepas yang tersebar pada berbagai situs lelucon, rasanya tak sulit membikin konten dengan tingkat kelucuan setara atau bahkan di atas mereka. Harapan saya untuk produktif berkarya pun melambung bagaikan kepala seekor jerapah yang tengah mengincar pucuk-pucuk daun yang tinggi.

Namun aral memang senantiasa mampu mengendus ke mana kita hendak pergi, dan ia selalu siaga untuk menghalangi. Saat jari-jari tangan ini bersiap menorehkan kelucuan di layar komputer yang hanya berhiaskan kursor yang berkedip-kedip, membayangkan sebuah kejadian kocak pun terasa demikian sulit.

Lha, pada ngumpet di mana gerangan mereka? Kisah-kisah jenaka dan kejadian-kejadian gecul itu kok enggan muncul?

Silakan baca artikel yang membahas humor sebagai daya tarik sebuah tulisan.

Sebenarnya, dengan memberanikan diri bersikap optimis, saya merasa otak saya tidak kering-kering amat dari gagasan dan imajinasi. Urat lucu saya masih eksis, kok. Buktinya, saya pernah sekian kali menelurkan sejumlah tulisan yang saya anggap bernilai humor.

Soal materi yang saya sajikan cukup menggelitik atau garing, sementara ini belum menjadi urusan yang begitu penting. Kalaupun khalayak menilai karya saya tidak ada lucu-lucunya, setidaknya saya telah menunjukkan keberanian membuat konten yang bertujuan untuk menghibur Anda.

Berharap Tuah dari Sebuah Semboyan “Sakti”

Selain itu, saya masih tetap berharap pada kedigdayaan sebuah ungkapan yang sangat menenteramkan hati, “Setiap tulisan akan menemukan pembacanya”.

Dengan demikian, bila Anda belum pernah ditemui oleh tulisan-tulisan saya, bisa jadi saat itu kalian belum berjodoh saja. Barangkali, kini saat perjodohan itu telah tiba.

Oh ya,mumpung ingat, saya ingin menyampaikan sesuatu. Saya mesti menghaturkan terima kasih kepada peracik kalimat inspiratif yang saya sitir di atas, entah siapa namanya dan di mana keberadaannya.

Usaha saya menyusuri mesin pencari guna menemukan siapa gerangan pencetus moto itu belum juga membuahkan hasil. Yang jelas, semboyan yang dicanangkan sang peracik telah membantu saya mengumpulkan sisa-sisa keberanian untuk ber-humor dengan kemampuan sekadarnya.

Lagi nyari inspirasi untuk bikin lelucon? Link afiliasi ini menyediakan beragam materi humor, mudah-mudahan dapat memunculkan ide-ide kocak berikutnya.

Beruntung saya menemukan sebuah tulisan yang membahas urusan ini. Ternyata, semboyan “setiap tulisan akan menemukan pembacanya” tidak serta-merta berjalan otomatis seperti yang saya kehendaki. Di balik keindahan rangkaian kata-katanya, tersembunyi  syarat dan ketentuan yang “menyiksa”.

Dalam artikel itu, setidaknya saya menemukan 3 petunjuk yang harus dijalani agar tulisan kita benar-benar mengarah kepada pembaca yang tepat. Salah satunya dengan cara menulis tanpa tergesa-gesa.

Mendadak dari bangku paling belakang terdengar seseorang menyahut, “Enak, dong. Jangan tergesa-gesa. Nulis dikit aja terus ditinggal Tiktokan!”

Waduh, saya malah membayangkan suasana kelas pada masa sekolah dulu, tapi dengan latar belakang zaman kini. Selalu saja ada pasukan pembuat prahara di baris terbelakang bangku kelas, dengan celetukan-celetukan serupa itu.

Saya tambahkan sedikit nasihat yang sangat berharga, “Jangan ikuti kelakuan para tukang onar kayak gitu, ya.”

Maksud dari nasihat itu tentu saja agar kita menulis dengan sungguh-sungguh dan mengerahkan segenap daya dan upaya. Bukannya sengaja menunda-nunda.

Urat Lucu Telah Seput?

Kembali ke pernyataan bahwa saya pernah sekian kali menelurkan sejumlah tulisan yang saya anggap bernilai humor.

Sayangnya, kejadian itu telah berlangsung beberapa tahun silam. Dan meskipun telah sekian kali saya menjumpai musim jamblang, peristiwa itu tak lagi terulang.

Mungkinkah syaraf kejenakaan yang merayapi sekujur badan saya enggan tersadar setelah sekian lama lelap di peraduan?

Saya mengingat pertama kali menerbitkan tulisan bergenre humor sekian tahun lalu, belum masuk era internet dan media sosial. Kala itu, beberapa materi lelucon bikinan saya dimuat di majalah HumOr—dengan ciri khas huruf “o” kapital–yang hidup ketika saya menyandang status nan menjanjikan, mahasiswa. Kreasi lucu tak berhenti sampai di situ. Meskipun sempat vakum bertahun-tahun, saya kembali memproduksi beberapa karya humor dan saya tayangkan di sebuah blog keroyokan Kompasiana.

Tema-tema lelucon yang saya tulis beragam (meskipun tidak banyak). Ada tulisan humor yang bercerita tentang dunia sepak bola termasuk insan-insan kocak yang terlibat di dalamnya, ada pula kisah lucu menyangkut pengendara di jalan raya.

Tingkah jenaka anak-anak pun tak luput dari incaran saya sebagai sumber ide penulisan. Pokoknya, kelucuan terjadi di mana-mana.

Namun, tak lama kemudian, otak dan perasaan saya bagai bus antar kota yang tiba di lampu merah, berhenti mendadak lantaran direm secara tiba-tiba. Benak ini seketika tak mampu menerima ide-ide banyolan dan sejenisnya.

Ada satu hal yang membedakan keduanya. Ketika nyala lampu lalu lintas berganti hijau mengantar bus antarkota kembali melenggang menggagahi jalanan, lampu hijau di benak saya masih saja temaram.

Saya sudah berupaya memeras otak sedemikian rupa agar kembali memancarkan letupan-letupan yang berpotensi membuahkan gelak tawa, tetapi hingga saat ini belum juga membukukan karya yang bisa dikenang sepanjang masa. Walah!

Apakah Tulisan Humor Wajib Lucu?

Untuk memaparkan jawaban atas pertanyaan ini, mula-mula saya mengunjungi kamus resmi milik Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kamus yang saya maksudkan tiada lain adalah Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dan saya mengakses versi daring-nya.

Dalam urusan yang sedang kita bahas, KBBI menghidangkan makna humor dalam dua pengertian. Makna pertama, humor adalah sesuatu yang lucu. Sedangkan yang kedua, humor berarti suatu keadaan (cerita dan sebagainya) yang menggelikan hati, kejenakaan, atau kelucuan.

Kedua makna yang diutarakan KBBI mengandung unsur lucu atau kondisi-kondisi yang semacam itu. Sepertinya “syarat” lucu inilah yang acap menggoyahkan kekuatan mental saya untuk terus berkecimpung dalam dunia ini. Itu syarat yang sulit dipenuhi.

Akhirnya, saya menjumpai paparan makna humor yang lebih meneduhkan hati. Dalam sebuah artikelnya, situs yang saya kunjungi menjelaskan definisi humor dalam pengertian yang berbeda. Penulis artikel itu mengatakan begini, “Anything that relaxes the body, gets people to breathe, causes a smile, or elicits happiness is humor.”

Interpretasi terakhir ini tidak lantas membikin tugas penulis humor menjadi mudah, meskipun saya merasakan cakupan makna kata humor menjadi lebih luas. Namun, setidaknya, lingkup bahasan yang lebih luas barangkali bisa meredam kecemasan akan keringnya ide dan terpenuhinya “syarat” lucu yang harus ditampilkan oleh tulisan-tulisan berkategori humor.

Tips Menghasilkan Tulisan Humor: Nekat Pangkal Kocak

Sembari berharap semboyan anonim itu menunjukkan tuahnya, saya telah merancang dan menerbitkan kategori “Humor” di blog ini dengan beragam perasaan bercampur menjadi satu. Harapan sudah pasti bersemi, tetapi kekhawatiran masih juga kerap menyambangi.

Semoga nama yang tersemat pada blog ini bukan sekadar rangkaian kata beraroma clickbait untuk menjebak (calon) pembaca. Soal jebak-menjebak pembaca merupakan hal sensitif bagi banyak manusia.

Saya kerap membayangkan kemampuannya menjelma sebagai sebilah bumerang, menyerang balik dan melukai si empunya. Ketimbang celaka, sedapat mungkin saya menjauhinya. Sebaliknya, saya berangan-angan, konten-konten yang kelak bakal menghiasi halaman-halaman kategori lelucon di blog ini setidaknya tidak membikin saya harus menjadi burung Unta memasukkan kepala ke gundukan pasir lantaran konten-konten yang garing.

Akhir kata, saya mengucapkan selamat kepada diri saya. Setelah nekat menyingkirkan berbagai rintangan, saya berhasil melewati ujian tahap pertama, sambil tak hirau bakal memperoleh nilai berapa.

Kategori (yang saya cita-citakan menghimpun berbagai macam) humor telah tersuguh di depan mata. Selanjutnya saya mesti siap berjibaku mengerahkan syaraf-syaraf lucu untuk menghasilkan konten-konten yang (mudah-mudahan) sebagian di antaranya mampu mengundang senyum dan memepas tawa.

Ayo, semangat bikin tulisan-tulisan berlaras humor!

Leave a Comment