Writer’s block adalah ilusi yang kerap menipu. Berhati-hatilah dengan orang California yang bikin ilusi seolah-olah hambatan dalam menulis itu benar-benar ada.
Terry Pratchett telah mengingatkan bahaya menelan omongan orang-orang California. Saya kutipkan seuntai kalimat yang dilontarkannya di getfreewrite.com.
“There’s no such thing as writer’s block. That was invented by people in California who couldn’t write.”
Urusan kendala menulis tak akan pernah kelar sepanjang masih ada orang yang (ingin) menulis. Banyak (calon) penulis mengeluhkan persoalan yang satu ini.
Silakan baca juga tulisan mengenai hambatan dalam menulis yang lain.
Namun, sebaliknya, tak sedikit juga orang-orang yang tidak meyakini adanya hambatan menulis semacam ini.
Atau setidaknya, orang-orang itu sebetulnya meyakini adanya persoalan ini. Bedanya, mereka berusaha tidak terjebak ke dalam lingkaran setan writer’s block yang bisa bikin seseorang tak tahu harus berbuat apa saat berhadapan dengan layar monitor atau papan tik.
Ada Apa dengan Orang-Orang California, Pratchett?
Saya tidak tahu persis, di golongan mana Pratchett bermukim. Apakah ia benar-benar meyakini tidak adanya writer’s block, atau dia hanya berusaha untuk menghindar dari cengkeraman musuh bebuyutan kalangan penulis itu.
Setidaknya, dari kalimat yang dilontarkannya, penulis yang dikenal dengan serial Discworld itu tidak tampak mengeluhkan writer’s block. Ia seperti tidak berada dalam kelompok penulis yang terancam oleh salah satu jenis hambatan menulis paling kondang itu.
Saya pun tidak paham betul, apa maksud Pratchett menulis quote yang menganggap writer’s block sekadar ilusi. Terutama, saya tidak mengerti mengapa ia menyebut-nyebut orang-orang California sebagai biang munculnya hambatan menulis.
Silakan baca juga artikel tentang manfaat expressive writing sebagai penangkal writer’s block.
Tidak terdeteksi adanya hubungan khusus antara Pratchett dan orang-orang California atau kota California pada umumnya. Barangkali, penulis yang lahir di Buckinghamshire di Inggris itu berimajinasi belaka.
Hal itu pun tidak terlalu penting bagi saya.
Kini, saya tidak ingin larut memikirkan orang-orang California. Jadi, saya akan fokus pada kalimat pertama yang disampaikan oleh Pratchett.
Writer’s Block atau Bukan, Saya Kerap Mengalaminya
Jelas sekali, saya tidak sanggup menyatakan bahwa tidak ada writer’s block di dunia ini. Sebabnya juga jelas, saya kerap dihantui persoalan semacam ini, entah itu pantas disebut writer’s block atau sebetulnya keadaan lain.
Jika tidak pernah bersua dengan hambatan semacam itu, sudah tentu produktivitas saya bakal melambung tinggi. Barangkali, Anda akan mudah menemukan tulisan-tulisan saya dalam pelbagai wujud dan platform.
Namun, kenyataannya, Anda kesulitan menemukannya, bukan? Bahkan, Anda tidak mengenal siapa saya dan apa yang telah saya hasilkan.
Saya hanya sedang berupaya untuk menyingkir ketika hambatan dalam menulis itu datang. Sangat tidak nyaman berada dalam keadaan tidak tahu harus mengetik apa di depan program pengolah kata yang terbuka.
Sudah sekian tahun saya menulis, dan hasilnya begitu-begitu saja. Sering terjadi, hambatan-hambatan menulis datang bertubi-tubi hingga merusak hasrat menulis yang saya coba tanamkan dalam hati.
Apa pun yang ada dalam pikiran Pratchett tentang orang-orang California, saya tak ingin terlibat di dalamnya, walaupun sempat timbul rasa penasaran juga. Saya hanya ingin menggunakan ungkapan pemegang gelar Profesor Bahasa Inggris di Universitas Dublin itu untuk menolong diri saya sendiri.
Silakan baca juga artikel yang mengulas rule of three sebagai umpan pemikat hati.
Kalimat yang terucap oleh penulis yang pernah meninggalkan bangku sekolah di usia 17 tahun untuk mengejar karier di bidang jusnalistik itu cukup memikat hati. Saya menginginkannya sebagai pendorong semangat menulis yang masih belum konsisten berada di posisi yang cukup tinggi.
Sudah sering saya menemukan kata-kata mutiara dari para penulis kenamaan menyangkut hambatan dalam menulis. Selama itu pula, saya hampir tidak pernah mendapati ungkapan-ungkapan para penulis itu yang bernada keluhan.
Sebagian di antara mereka menolak adanya hambatan menulis. Sebagian lainnya, mengakui keberadaan “perusuh” itu.
Writer’s Block Adalah Hambatan yang Perlu Ditanggapi Secara Positif
Namun, ada satu hal yang selalu dikatakan oleh para penulis jempolan. Sepertinya, orang-orang yang sudah malang-melintang di dunia kepenulisan lebih suka berpikir positif dan terus berkarya tanpa sibuk memperhatikan ada atau tidaknya writer’s block itu.
Sementara itu, barangkali, para (calon) penulis yang tidak seproduktif mereka, lebih suka mengutak-atik masalah ini dengan segala aspeknya. Setelah itu, seperti yang terjadi pada diri saya, tidak juga muncul karya-karyanya.
Silakan baca juga tulisan mengenai kisah unik para penulis dalam proses menulis mereka.
Setidaknya, ada satu hal positif yang saya tangkap seusai mengulik-ulik berbagai quote tentang hambatan menulis. Biasanya, saya mendapatkan satu atau beberapa slogan menarik, lalu mengulasnya menjadi sebentuk tulisan.
Artikel ini pun berangkat dari kondisi serupa. Dalam kesempatan ini, quote Terry Pratchett, yang mendapatkan gelar kebangsawanan dari Kerajaan Inggris tahun 2009 itu, menjadi pemicunya.
Jadi, saya tidak peduli hambatan dalam menulis datangnya dari California atau tempat lainnya. Saya hanya berusaha meyakini bahwa writer’s block adalah kendala yang bisa diatasi.