Patriotisme adalah sikap terpuji yang bisa dilakukan setiap warga negara dengan pelbagai cara. Bahkan, sekadar menginformasikan hak milik satai dan rendang.
Seorang penulis receh dapat menunjukkan sikap cinta tanah air dengan cara remeh. Saya (merasa) telah melakukannya dengan turut menjaga “kepemilikan” satai dan rendang agar tak diakui orang dari negeri seberang.
Sebuah tulisan dapat menumbuhkan sikap patriotisme bagi pembacanya. Banyak ragam tulisan yang sengaja dibuat untuk menggugah rasa cinta tanah air.
Silakan baca tulisan yang mengupas semangat menulis yang meletuk di Hari Kemerdekaan.
Namun, tulisan yang tidak dimaksudkan sebagai sarana pendorong sikap patriot juga tidak mustahil memunculkan rasa cinta kepada bangsa dan negara. Saya menyimpan sebuah pengalaman unik ketika mendadak di hati ini terselip (yang saya rasakan sebagai) sikap patriotik.
Sikap itu spontan saja muncul hanya karena seseorang “menempatkan” satai—ini versi baku dari ragam cakapan sate–dan rendang tidak pada tempat yang semestinya.
Patriotisme Adalah Rasa yang Bisa Datang Tanpa Sengaja
Lebih dari tiga tahun silam, tepatnya tanggal 19 Februari 2021, saya sedang menikmati sebuah artikel di salah satu blog yang banyak menginspirasi tentang dunia tulis menulis. Saya kerap menyambangi situs ini, Enchanting Marketing, untuk menjaga motivasi menulis tetap tinggi, dan sekaligus mencari ide bakal tulisan yang akan saya garap.
Sebetulnya, penulis artikel itu tidak sedang “mengompori” pembaca perihal patriotisme dan hal-hal lain semacam itu. Artikel yang ditulisnya membahas teknik menampilkan tulisan yang diharapkan menarik minat pembaca untuk mengunjunginya.
Silakan baca juga artikel tentang proses menulis yang mirip membuat tembikar.
Lebih spesifik lagi, sang penulis memaparkan sebuah teknis menulis menggunakan metafora untuk menggambarkan suatu keadaan agar terasa lebih gimana gitu. Ternyata, contoh yang digunakan oleh penulis asal Belanda bernama Henneke Duistermaat itu menjadi pemicu bergejolaknya suatu perasaan yang jarang merasuk di hati.
Selanjutnya, saya menganggap perasaan itu sebagai sebentuk patriotisme dalam diri saya.
Satai dan Rendang Pemicu Hati Meradang
“Imagine cooking a festive meal for friends and family …
Chicken saté. Prawns in yellow curry. Beef rendang. Stirfried veggies. Pickled cucumber with pineapple and tomato. Prawn crackers. Rice. Mango sorbet.
Makes your head spin, doesn’t it?”
Henneke menuliskan serangkaian kalimat itu sebagai sebuah contoh untuk menjelaskan teorinya. Sepertinya tidak ada maksud tertentu dari penulisnya. Tidak dijelaskan juga alasannya menongolkan jenis-jenis makanan yang amat saya kenal itu dalam artikelnya.
Silakan baca juga ulasan mengenai cara menghadapi hinaan orang menurut Crying Wind.
Namun, pada kolom komentar muncul seseorang yang bikin saya terperanjat. Mula-mula, ia menyanjung tulisan yang baru dibacanya.
Berikutnya, ia menduga sang penulis artikel menghasilkan karyanya ketika sedang berada di Malaysia. Dugaan itu muncul lantaran sang penulis antara lain menyebut chicken sate dan beef rendang dalam artikel yang ditulisnya.
Sontak, komentar itu sempat bikin panas hati saya. Entah karena tidak tahu atau sebab lain, tapi kalimat yang ditulisnya mengindikasikan bahwa ia mengira sate ayam dan rendang daging sapi berasal dari Malaysia.
Cara Elegan Sikapi Komentar Tak Berdasar
Saya sempat terdorong untuk segera “melabrak” orang yang sembarangan “mengeklaim” makanan-makanan khas Indonesia itu sebagai milik negara lain. Namun, pikiran waras saya segera mencegahnya.
Tidak elok rasanya menyerang orang lain di ruang publik untuk urusan yang belum jelas benar persoalannya. Apalagi, maksud si pemberi komentar pun tidak saya ketahui.
Akhirnya, saya menemukan sebuah langkah elegan untuk menanggapi pendapat yang melukai hati ini. Saya tidak membalas tulisan orang yang menyampaikan komentar itu. Saya lebih suka melakukannya sealami mungkin.
Saya membuka kolom komentar baru, lalu menanggapi artikel yang tersaji di atasnya sembari mengajukan pertanyaan menyangkut teknik penulisan artikel kepada sang penulis. Namun, sebelum sampai ke sana, saya membuka komentar dengan “sentilan” bagi orang-orang yang (mungkin) menyangka sate dan rendang berasal dari Malaysia.
“Chicken sate from Madura East Java and beef rendang from Padang in West Sumatra, they all Indonesian food, my country. Thanks, you have presented them here.”
Saya coba paparkan secara lebih detail, daerah-daerah mana penghasil makanan-makanan itu. Semoga kemampuan bahasa Inggris saya yang alakadarnya tidak bikin orang pusing kepala.
Silakan baca juga artikel tentang 3 cara menghadapi kritikan pedas menurut penulis buku La Tahzan.
Setelah itu, baru saya sampaikan tanggapan atas materi tulisannya.
“As always, your articles motivate me to write better. The 5 steps you mentioned are very useful.”
Sebaris kalimat positif diungkapkan sang penulis (terima kasih, Henneke, Anda sangat memahami perasaan saya).
“Yes, I love Indonesian food!”
Begitu ia mengawali tanggapannya kepada saya. Setelah itu, baru ia memaparkan hal-hal lainnya.
Patriotisme Adalah Cinta yang Bisa Dilakukan Secara Sederhana
Tentu saja, apa yang telah saya lakukan itu tidak akan meniadakan rebutan klaim berbagai produk yang kerap dilakukan oleh warga dari kedua negara. Termasuk bangsa-bangsa lain yang tidak memahami persoalan ini.
Silakan baca juga tulisan yang membahas tentang penulis yang tak harus menyelamatkan dunia.
Orang-orang lain telah melakukan hal-hal yang jauh lebih besar ketimbang secuil upaya yang saya lakukan.
Namun, saya tidak pernah menyesalinya. Setidaknya, saya tidak tinggal diam menyaksikan “ketidakadilan” menyangkut benda-benda dan budaya-budaya bangsa yang harus dijaga kedaulatannya.
Patriotisme adalah sikap baik dan bisa ditunjukkan dengan cara-cara amat sederhana.