Sempurna adalah ilusi belaka, kata banyak orang. Namun, Antoine de Saint-Exupery punya pandangan tak biasa soal kesempurnaan.
Mencari kesempurnaan itu ibarat menegakkan benang basah, jika menilik pendapat kebanyakan orang. Tak akan mungkin seseorang mendapatkannya.
Silakan baca tulisan mengenai kesempurnaan yang menjelma sebagai musuh nomor satu penulis.
Namun, tak sedikit juga orang yang berharap mencapainya. Sebagian penulis pun tak luput dari keinginan semacam itu.
Hasilnya, justru karya-karya penulis yang bersikap demikian tak pernah muncul ke permukaan.
Sebab, ia terus mencari, menambah, dan mengganti bagian-bagian dari tulisannya yang tidak sempurna. Dan, tulisannya tetap tidak sempurna sehingga “tak pantas” diterbitkan di mana-mana.
Margareth Atwood dan Jodi Picoult Tak Mengejar Kesempurnaan
Margareth Atwood tak akan pernah menulis sebuah kata pun, seandainya ia menunggu kesempurnaan. Penulis Kanada itu mengungkapkan kalimat yang menunjukkan bahwa berharap sesuatu yang sempurna adalah pekerjaan sia-sia.
Sejak 1961, Margareth yang telah menelurkan lebih dari 47 karya berupa buku-buku fiksi dan nonfiksi. Karya-karya dalam wujud lainnya tak terhitung jumlahnya. Jadi, soal produktivitas, wanita kelahiran Ottawa itu tak perlu diragukan lagi.
Mengapa ia mampu menghasilkan demikian banyak karya? Tentu saja, salah satu alasannya adalah ia tidak pernah menunggu hingga karyanya sempurna. Ia pede saja menerbitkan karya-karyanya yang “tidak sempurna”.
Silakan baca artikel yang membahas menulis buruk sebagai obat pereda writer’s block.
Lain pula perkataan Jodi Picoult. Penulis Amerika itu punya kalimat berbeda dalam menggambarkan kesempurnaan.
“Anda mungkin tak akan menulis dengan bagus setiap hari, tetapi Anda dapat mengedit tulisan yang kurang bagus,” ucap Jodi.
Jadi, menurut sang novelis, kita tidak perlu selalu menghasilkan tulisan bagus, terutama di awal proses menulis yang kita jalankan. Dalam kesempatan lain, kita bisa memperbaiki draf yang kurang bagus.
“Anda tidak dapat mengedit halaman kosong,” kata Jodi selanjutnya.
Ya, tentu saja. Apa yang mau diedit? Halamannya saja kosong tidak ada tulisan sama sekali.
Sudah jelas kini, lebih bagus menulis sebuah konsep, sekalipun buruk hasilnya. Konsep itu bisa dipoles di kesempatan berikutnya.
Sebetulnya, pokok bahasan kedua penulis itu serupa. Mereka menyarankan kita untuk memulai menulis saja, tidak perlu memikirkan kualitas dan aturan-aturan mengenai penulisan yang baik.
Setidaknya, pandangan itu bisa diaplikasikan pada awal kita menulis draf. Tujuannya tentu saja agar proses menulis kita berjalan lancar dan semua isi pikiran kita benar-benar tertuang dalam bentuk tulisan.
Ketika tidak ada lagi gagasan-gagasan yang tertinggal di benak kita, barulah kita mengedit draf kasar itu. Dalam tahap editing ini, kita bisa mulai mempertimbangkan soal tatabahasa, keindahan, dan lain-lain.
Sempurna Adalah Ilusi, Ada Cara Menghindari Tipuannya
Ada hal menarik diungkapkan oleh Antoine de Saint-Exupery berkaitan dengan urusan kesempurnaan ini. Pengarang novel The Little Prince itu menyampaikan pendapatnya mengenai kesempurnaan dalam seuntai kalimat yang agak di luar dugaan.
“Perfection is finally attained not when there is no longer anything to add, but when there is no longer anything to take away.”
Mengamati ungkapan Saint-Exupery di atas, saya merasa tenteram. Sepertinya, kita tidak harus bekerja terlalu keras untuk mendapatkan “kesempurnaan”.
Kepala kita tak akan pening mencari-cari materi untuk ditambahkan. Kita hanya perlu memikirkan bagian-bagian mana yang perlu dikurangi agar karya kita menjadi “sempurna”.
Suatu pekerjaan yang gampang dilakukan, bukan?
Silakan baca juga cara menjadi penulis ketika tidak memiliki keahlian tertentu.
Penulis semacam Saint-Exupery memang pantas diidolakan.
Bukan saja lantaran cerita-cerita rekaan mantan pilot Angkatan Udara Prancis itu menambah wawasan dan amat menghibur. Namun, ia juga tidak “menuntut” para penulis bekerja keras mengejar kesempurnaan.
Kondisi “sempurna” amat bergantung pada pandangan kita. Selanjutnya, pandangan itulah yang bakal menentukan bagaimana kita mengupayakannya.
Antoine de Saint-Exupery telah membukakan jalan bagi kita untuk meraih “kesempurnaan” dengan cara gampang. Kita membutuhkan kreativitas agar tidak terjebak mengejar kesempurnaan, sebab sempurna adalah ilusi belaka.